Kalbar Dinilai Memungkinkan Bangun PLTN

8
Suriansyah

eQuator.co.id – PONTIANAKRK. Kondisi kelistrikan yang kerap mengalami gangguan dengan berbagai permasalahannya, Kalbar dinilai sangat memungkinkan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Terlebih cadangan uranium yang memadai serta bebas dari gempa.

“Harus ditanyakan ke masyarakat Kalbar dulu terkait kesiapan kita menerima itu,” ungkap Suriansyah, Wakil Ketua DPRD Kalbar, Rabu (7/11).

Menurutnya, PLTN setidaknya bisa menjadi solusi kelistrikan di Kalbar yang progresnya menjanjikan bagi industri hilirisasi maupun industrialisasi. Di mana jika kelistrikan di Kalbar baik, maka keduanya diyakini akan berkembang pesat atas support dari listrik PLN. “Perlu menggencarkan sosialisasi, untuk meyakinkan masyarakat,” katanya.

Terkait nuklir, kata Suriansyah, secara umum tidak hanya di Kalbar, masyarakat seakan trauma akan hal itu karena pertimbangan mereka lebih banyak dampak yang dimunculkan dari nuklir tersebut. Ia menyarankan agar seluruh pihak harus gencar melakukan sosialisasi.

“Masyarakat sangat trauma dengan beberapa kejadian terkait pemanfaatan nuklir di seluruh dunia,” tuturnya.

Selain pandangan miring terhadap nuklir, kebiasaan masyarakat yang masih melekat adalah soal kehati-kehatian. Di mana Sumber Daya Manusia kurang teliti dan hati-hati dalam mengoperasikan sesuatu.

“Karakter seperti itu kadang-kadang menyebabkan prosedur yang diperlukan untuk pengamanan PLTN tidak dijalankan dengan baik,” tukasnya.

Namun demikian, menurutnya jika sosialisasi sudah gencar dilakukan, segala sesuatunya telah dipersiapkan termasuk pula tenaga ahli yang bakal mengoperasionalkan PLTN, dirinya optimis ini akan menjadi terobosan baru dan baik bagi Kalbar. “Kalau itu dijalankan dengan baik, saya pikir ini terobosan penting,” katanya.

Di samping memenuhi kebutuhan hilirisasi, juga sebagai upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat Kalbar yang realisasinya hanya baru 82 persen. Artinya masih ada 18 persen masyarakat yang belum menikmati fasilitas kelistrikan dari pemerintah.

“Masyarakat Kalbar yang belum menikmati listrik, kasarnya disebut belum merdeka di tengah kemerdekaan Indonesia yang sudah hampir 74 tahun ini. Ini tentu sangat memprihatinkan,” cetusnya.

Reporter: Gusnadi

Redaktur: Andry Soe