
eQuator.co.id – Muhammad Zamzam Qomaruzzaman, seorang pengusaha muda yang terbilang cukup sukses menjalani beberapa bidang usaha. Salah satunya yakni di bidang jasa jual beli kambing untuk acara aqiqah, yang di-branding dengan nama “AqiqahQu Pontianak”.
Usaha ini mulai dibangunnya pada 5 Ramadhan 2015. Berawal dari pertemuannya dengan seorang teman lama, Andrey Sudarsono saat acara buka puasa bersama di Masjid Raya Mujahidin Pontianak.
Ceritanya, Andrey yang saat itu baru bertemu dengan beberapa peternak kambing di daerah Kubu Raya mengutarakan niatnya untuk membantu memasarkan kambing para peternak. Karena keluhan utama peternak kambing yang diperolehnya yakni mereka punya banyak stok, namun peternak kerap terkendala dalam hal akses, pemasaran, distribusi dan lainnya. Andrey pun mengajak Zamzam untuk bergabung.
Ide Andrey ini kemudian disambut oleh Zamzam. Lulusan S1 Sastra Asia Barat, Universitas Gadjah Mada (UGM) 2012 ini pun menawarkan konsep jasa pemasaran. Yang tujuannya bagaimana memudahkan–baik peternak maupun masyarakat–yang membutuhkan kambing untuk acara aqiqah.
Konsep pun dikemas secara matang, modern dan profesional tanpa meninggalkan syarat-syarat yang disyariatkan oleh agama Islam. Selain berpartner dengan Andrey yang juga sama-sama owner AqiqahQu Pontianak, mereka juga menggaet beberapa pengusaha muda Pontianak lainnya, diantaranya Mega Selvia Molantang.
Usaha jual beli kambing ini merupakan usaha ketujuh yang pernah dijalani Zamzam. Pria kelahiran Kota Pontianak, 6 Juli 1989 ini sebelumnya pernah membuka usaha perkebunan teh rosela, tambak ikan dan travel saat masih tinggal di Djogja. Dia juga merupakan owner dari Laundry Dr. Clean, owner Mouza Cafe dan Bakmie Bang Qomar.
Lebih lanjut, seperti apa usaha jual beli kambing aqiqah yang dijalani Zamzam dan kawan-kawannya sehingga berhasil menembus omzet puluhan juta rupiah per bulan.
Berikut wawancara selengkapnya bersama Rakyat Kalbar dengan pria yang kini menjabat sebagai Bendahara Umum Forum Kewirausahaan Pemuda (FKP) Provinsi Kalbar;
+Bisa Anda ceritakan lebih lanjut, seperti apa usaha yang dijalankan ini?
-Ide sebenarnya itu datang dari teman saya, yang bernama Andrey Sudarsono. Kami ini sebenarnya teman satu SMP dulu. Cuman pas waktu SMA, saya ke Djogja dan masuk di MAN 01 Djogja. Kemudian, lanjut kuliah di UGM. Selesai 2012, saya pulang ke Kota Pontianak.
Usaha ini pada intinya untuk memfasilitasi atau memberikan kemudahan kepada peternak yang ingin menjual kambing maupun bagi masyarakat yang membutuhkannya. Maka dari itu tagline kami “Solusi Aqiqah Tanpa Repot”.
Masyarakat hanya tinggal menghubungi kami via telpon, BBM atau Facebook maka kambing akan langsung diantar ke rumah tujuan tanpa dikenakan biaya tambahan alias gratis.
Tak hanya itu, karena kita ingin mengindari kata-kata “repot” tadi maka kami juga menyediakan pemotongan kambing secara gratis. Jadi kambing yang diantarkan ke rumah tidak berupa kambing hidup lagi, tapi sudah berupa daging yang dipotong atau dicincang kecil-kecil. Jadi bisa langsung digulai.
Di samping itu, pengalaman saya juga pernah ketemu dengan orang yang sudah berusia 40 tahun, tapi belum melaksanakan aqiqah. Padahal biasanya kan sejak usia bayi, seorang anak sudah melakukan aqiqah. Nah, kami berharap usaha ini benar-benar bisa menjadi solusi.
+Bagaimana kalau pemesan yang mau motong sendiri di rumah?
-Itu kembali lagi ke pemesan. Kalau dia mau motong sendiri ke peternakan atau kami antar kambing hidup bulat-bulat ke rumah, mau nyiang sendiri tidak masalah. Intinya kami hanya menyediakan jasa kepada orang-orang yang sibuk, yang tidak sempat agar tidak repot-repot lagi. Kalau konsumennya sendiri mau repot, itu pilihan dari konsumen.
+Sejauh ini seberapa luas cakupan layanan AqiqahQu Pontianak dan sudah bermitra dengan peternak mana saja?
-Sejauh ini layanan pengantaran gratis masih di seputaran Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. Selebihnya kalau ada yang pesan di luar kedua daerah tersebut maka konsumen yang menanggung biaya jasaantar. Untuk mitra kami sudah ada tiga peternakan, yakni satu di Kubu Raya dan dua di Kota Pontianak. Ke depan kami juga berupaya membuka peternakan sendiri untuk menambah stok kambing, Insya Allah.
+Apa saja jenis-jenis kambing yang Anda jual?
-Kami menyediakan dua jenis kambing, yakni kambing (asal) Jawa dan kambing lokal. Bedanya diharga. Kambing lokal lebih mahal. Selisihnya Rp200 ribuan untuk berat yang sama.
+Berapa harga yang Anda tawarkan untuk setiap ekor kambing?
-Pada dasarnya kami menyesuaikan dengan syariat Islam. Dimana, kambing yang boleh diaqiqahkan adalah kambing yang berusia minimal 1 tahun atau yang sudah lepas gigi dua. Dengan syarat beratnya 17 Kg ke atas.
Untuk harganya, kambing yang memiliki berat 17 Kg ke atas kami jual seharga Rp1,5 juta. Untuk berat 19 Kg sampai 21 Kg, kami jual sekitar Rp1,8 juta. Untuk berat antara 22 Kg-24 Kg dijual sekitar Rp2 juta. Kemudian, untuk yang beratnya 24 Kg sampai 27 Kg dijual Rp2,5 juta.
Kalau permintaan di atas bobot ini, kita akan sesuaikan harganya dan tergantung pelanggan mau mintanya kambing yang usia berapa dan beratnya berapa.
+Kalau boleh tahu, berapa omzet yang Anda hasilkan dari usaha ini?
-Untuk omzet per bulan. Kebetulan bulan lalu merupakan capaian kami yang tertinggi, antara Rp50 juta sampai Rp60 juta.
+Sejauh ini, apa kira-kira kendala yang Anda hadapi?
-Sejauh ini belum ada ya. Usaha ini juga masih baru. Mungkin saya rasa modal, untuk rencana membangun peternakan tadi. Untuk tenaga sendiri, kami owner dua orang, pengelola dua orang, reseller ada lima orang. Sejauh ini cukup mengcover pelanggan.
+Mengingat sebelum ini Anda juga pernah menggeluti beberapa usaha. Apakah Anda pernah gagal?
-Pernah waktu buka usaha perkebunan teh. Waktu itu pas harganya turun. Jadi saya bergeser ke tambak ikan, gagal juga. Kemudian, saya pernah jalani usaha travel yang juga gagal.
+Apa komentar Anda soal kegagalan?
-Bagi saya itu tidak jadi masalah. Kita jangan takut merubah cara pandang. Tidak boleh menyerah. Pengusaha itu harus berpikir dinamis. Apalagi pengusaha pemula. Usaha itu dimulai saja, selama dia punya keinginan, punya modal yang cukup, jalani. Nanti akan ketemu batunya, jangan berhenti. Nah, dari situ kita belajar.
Reporter: Fikri Akbar
Redaktur: Andry Soe