Jalani Operasi Kedua, Rafa Butuh Uluran Tangan

Terlahir Tanpa Anus, Buat Saluran di Perut Bagian Kiri Bawah Jalani Operasi Kedua, Rafa Butuh Uluran Tangan

19
BUTUH BANTUAN. Arnita dan anaknya Rafa Rafa Fauzan Kamil dikediamannya di Dusun Liang Desa Tekelak, Pinoh Utara, Melawi, Rabu (8/8). Dedi Irawan-RK
BUTUH BANTUAN. Arnita dan anaknya Rafa Rafa Fauzan Kamil dikediamannya di Dusun Liang Desa Tekelak, Pinoh Utara, Melawi, Rabu (8/8). Dedi Irawan-RK

Malang benar nasib Rafa Fauzan Kamil. Bocah 11 bulan asal Dusun Liang Desa Tekelak Kecamatan Pinoh Utara Kabupaten Melawi ini terlahir tanpa anus.

Dedi Irawan, Nanga Pinoh

eQuator.co.id – Nanga Pinoh-RK. Arnita, ibu Rafa mengungkapkan, anak itu sebenarnya lahir normal. Empat hari setelah lahir, diketahui Rafa tak memiliki anus. Tubuh Rafa saat itu terlihat tak biasa. “Karena sama sekali tak buang air besar selama empat hari,” ujarnya, Rabu (8/8).

Pihaknya kemudian memanggil mantri. Akhirnya diketahui Rafa tak ada lubang anus. Rafa lantas dibawa ke Nanga Pinoh untuk dicek ke RSUD Melawi. Lantaran belum ada BPJS, Rafa dibawa kembali ke rumah. “Karena biayanya berat,” ucapnya.
Agar bisa buang air besar, Rafa terpaksa menjalani operasi. Dia mesti dirujuk ke RSUD Soedarso di Pontianak. Saat itu, ia sudah memiliki BPJS.
Operasi pertama dilakukan saat Rafa berusia dua minggu. Membuat lubang anus sementara melalui perut bagian kiri bawah. Sebagai saluran pembuangan kotoran. Akibat lubang sementara ini, Rafa harus diupayakan tidak batuk. Sebab ususnya bisa mengembang.

Begitu juga dengan makanan. Tak bisa diberikan sembarangan. Padahal Rafa sebenarnya mau makan apa saja. Tapi orangtuanya jaga-jaga. “Saat menangis, Rafa juga harus segera digendong,” jelasnya.

Baca Juga: Bantu Siswi Sakit, Drum Band di Ngabang Galang Dana

Kini, Rafa harus melalui tahapan operasi kedua. Hasil konsultasi dengan dokter bedah di RSUD Soedarso, operasi baru bisa dilakukan bila berat Rafa sudah mencapai 7 kilogram. Saat ini berat Rafa sudah hampir mendekati syarat yang diminta. Yakni pada kisaran 6 kilogram. “Operasi kedua ini baru membuat saluran anus di pantat,” ungkapnya.
Cukup banyak biaya yang diperlukan kedua orangtua Rafa. Supaya anak bungsunya bisa buang air besar dengan normal. Sementara orangtua Rafa bukanlah berasal dari keluarga yang berkecukupan.

“Saya hanya menjaga Rafa setiap saat. Ayahnya juga sempat tinggal di Pinoh, tapi tahulah, karena ndak ada kerja, akhirnya pulang ke kampungnya lagi,” terangnya.
Artina sempat berkeliling di Nanga Pinoh. Berharap bantuan pada masyarakat yang peduli. Ia berkeliling sembari menggendong Rafa yang terkadang menangis rewel. Itu dia dilakukan untuk mengumpulkan biaya membawa Rafa menjalani operasi di Pontianak. “Untuk operasi memang sudah ada BPJS. Tapi untuk bawa Rafa dan biaya hidup di Pontianak perlu ada uang tambahan,” lirihnya.

Baca Juga: Mulai dari Demam Lapangan hingga Minta Sumbangan Sana-sini

Artina harus merawat Rafa secara telaten. Mengingat saluran anus sementara harus benar-benar dijaga kebersihannya. Perban dan kain kasa harus diganti setiap kali buang air besar. Dalam sehari ia bisa mengganti perban Rafa hingga empat kali.
“Tiap minggu kami konsul ke RSUD, biasa dikasi alat ini (perban dan kasa serta selotip). Pernah juga sampai Rafa gatal-gatal di sekeliling bekas operasinya, tapi sudah diberikan salep untuk sembuhkan gatalnya,” tuturnya.

Orangtua Rafa sangat berharap ada kepedulian semua pihak. Agar buah hati mereka bisa hidup normal seperti anak lainnya. Masyarakat yang ingin membantu dapat menghubungi nomor ponsel orangtua Rafa di 085845846546. Atau melalui nomor rekening BNI Cabang Sintang dengan nomor 0604923955 atas nama Jalaludin. (*)

Editor: Arman Hairiadi