Jakarta Punya Kalijodo, Singkawang Ada Kaliasin

REMANG KALIASIN. Beginilah penampakan di salah satu kafe kawasan Kaliasin, Kelurahan Sedau, Singkawang Selatan, pada malam hari (Minggu, 21/2). OCSYA ADE CP-RK
Kaliasin di siang hari. OCSYA ADE CP-RK
Kaliasin di siang hari. OCSYA ADE CP-RK

Kota Singkawang, satu dari 14 daerah tingkat II di Kalbar, kaya akan aset pariwisata bahari dan kuliner. Kota ini juga dijuluki Kota Amoy dan Seribu Kelenteng. Hanya saja, saat memasuki kota dengan tingkat toleransi tinggi itu, suguhan kafe remang-remang di pinggir jalan raya terkesan merusak pemandangan.

Ocsya Ade CP dan Achmad Mundzirin, Singkawang

Kawasan itu namanya Kaliasin, terletak di Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan (Singsel). Tak hanya nama yang sedikit menyerupai Kalijodo di Jakarta, aktivitas di Kaliasin pun mirip. Memang, sejauh ini belum ditemukan tindak pidana Narkoba dan prostitusi secara langsung di kawasan tersebut. Namun bermula dari pertemuan di Kaliasin lah semua bisa terjadi.

Sambalado adalah musik penyambut kedatangan kami di Kafe Lecak (sebut saja begitu), Minggu (21/2) dinihari. Sebuah kafe dengan izin usaha warung kopi namun menyediakan minuman beralkohol dan perempuan.

Tiga perempuan lengkap dengan pakaian seksinya menemani kami melewati Minggu dinihari itu. Kami memilih meja bagian dalam, bersampingan dengan kamar karaoke.

Dua di antara mereka ternyata menjalani hidup seperti itu sejak belia, bisa dikatakan anak bawah umur yang putus sekolah. Mereka yang menemani malam panjang itu salah satunya berinisial SI, kini berusia 24 tahun asal Ledo, Bengkayang. Dua lainnya adalah LN (17 tahun) asal Sekura’, Sambas, dan LA (17) asal Singkawang.

“Minumlah, Bang,” ucap SI.

Tiga botol bir pun memulai perkenalan dan percakapan. Kafe Lecak berada di tengah-tengah himpitan belasan kafe sejenis. Di situ hanya menyediakan tiga kamar karaoke dan sejumlah meja-kursi untuk pengunjungnya.

Kami sempat mengintip penampakan di dalam kafe-kafe lain. Ada yang menyediakan semacam aula dengan dentuman kencang house music. Sayang, untuk masuk ke sana harus bayar tiket masuk.

“Di sini cuma karaoke aja Bang. Ayolah kita nyanyi. Di sini aman, tidak ada polisi atau Sat Pol PP yang melakukan razia, bisa sampai pagi. Asal ada duit saja,” tutur SI.

Menurutnya, razia dari aparat hanya dilakukan saat bulan Ramadan saja. “Itu tidak ada di sini, kecuali bulan puasa. Itupun formalitas saja, sudah bocor duluan. Kalau ada razia, bos kasih tahu kami lah, kami kabur dulu lah,” bebernya sambil menggenggam gelas berisikan bir putih.

Room karaoke di sana khas karaoke keluarga. Dilengkapi sound system bersuara menggelegar juga sofa empuk. Berbeda dengan kafe-kafe tetangga, santer dikabarkan pemiliknya menyediakan sebuah kasur busa.

“Di sini tak ada lah pakai macam kasur Bang,” ucap SI, logatnya kental bernuansa negara tetangga.

Tampak jelas jam terbang SI jauh di atas LN dan LA. Rupanya, SI pernah berkerja serupa di Malaysia. “Sudah lama, dulu kerja di sini, lalu ke Malaysia dan balik lagi ke sini. Orangtua tidak tahu saya kerja begini,” ungkap dia.

Hari itu, Kafe Lecak tampak sepi makanya kami memilih mengunjunginya. Sedangkan di belasan kafe lainnya yang berdempetan penuh riuh genderang house music.

“Ceweknya penuh Bang,” kata penjaga kafe paling ujung kawasan ini sebelum ini.

Sistem bayaran para ‘teman untuk menghabiskan malam’ di kafe-kafe kawasan Kaliasin ini dari fee penjualan minuman. Semakin banyak membuat tamu terbuai dan menambah botol-botol bir, maka semakin banyak pula bayaran yang mereka terima.

Tak hanya itu, melayani tamu berkaraoke ria akan dibayar pemilik kafe sebesar Rp60 ribu perjam. Sementara, room karaore Rp50 ribu perjam saja.

“Kami digaji tidak tetap. Tergantung kapan kami perlunya. Bisa sebulan sekali, atau seminggu sekali. Minggu lalu saya dapat Rp500 ribu,” imbuh LN. Dia terlihat memaksakan diri untuk berkerja, lututnya penuh luka sehabis jatuh dari sepeda motor.

Yah, wajar saja jika pengunjung kafe ini selalu didesak mereka untuk segera menghabiskan minuman di gelas berlambang bintang itu. Mereka pun rela dengan berbagai macam cara agar minuman di botol segera habis.

Selain berupaya membuang minuman dari gelas, mereka pun rela mabuk demi rupiah. Dan begitulah, pesanan botol-botol bir di meja kami pada subuh itu kembali bertambah.

“Minum lah Bang,” begitu terus ucapan SI sambil menyentuhkan gelasnya ke gelas kami (toast). Ketika berdiri, SI berjalan agak oleng.

Perempuan-perempuan di Kafe Lecak ini merupakan pembanding cafe lainnya. Selain ditugaskan melayani tamu untuk minum dan berkaraoke ria, juga bisa dibawa keluar.

“Kalau hal-hal lainnya (seks, red), kembali lagi kepada cewek itu sendiri. Kalau mereka bisa, ya berarti bisa. Kalau saya sendiri sih, kawin sudah, nikah yang belom. Intinya sih, kalau ceweknya mau dan lagi sepi tamu cafe,” seloroh SI, tawanya menggema.

Di Kafe Lecak milik Koko ini terdapat lima perempuan. Selain SI, LN, dan LA, dua lainnya bisa diundang untuk joget sambil striptis. “Tidak semua dari sini (Singkawang,red) Bang. Tapi juga dari Bengkayang dan Sambas,” tukas SI.

ANAK BAWAH UMUR

Dampak operasional tempat hiburan malam ini begitu luar biasa. Selain memang merusak moral dengan penyakit masyarakat maupun dugaan tindak pidana transaksi narkotika, gadis-gadis bawah umur yang ada di Kota Singkawang juga menjadi korban.

Buktinya, di Kafe Lecak saja ada dua gadis yang bekerja sejak berusia masih bawah umur. LA, contohnya. Dia mantan pelajar di SMAN 7 Kota Singkawang.

LA ini sudah standby menunggu tamu sejak pukul 20.00 WIB di sana. Ia mengenakan busana minim, dress di atas lutut. Kesan eksploitasi santer terlihat.

“Kami buka jam tujuh malam. Tutup tergantung pengunjung. Kalau sampai pagi ada pengunjung, kita masih buka. Kalau sepi, jam 02.00 WIB kita tutup. Kerja di sini mana ada libur,” ungkap LA.

Setahun lebih ia mencari makan di sana sejak dikeluarkan dari sekolahnya karena ketahuan merokok. Putus asa dan tak ada kerjaan untuk anak seusianya, LA pun memilih bekerja melayani pria hidung belang.

“Orangtua juga semakin menyalahkan saya. Saya memilih tempat ini untuk mendapatkan uang,” jelasnya.

Bahkan, subuh itu, abang kandung LA sendiri menyaksikan langsung adiknya melayani tamu kafe. “Ada abang saya,” kata LA sambil membalas pesan singkat abangnya yang menunggu di luar.

Parasnya tergolong ayu (tergantung selera) tidak terjun ke dunia malam sendiri. LN lah, juga dikeluarkan dari sekolah, yang diajak LA.

LN sendiri bermasalah dengan gurunya. Ia mengupload foto-foto tato iblis dan hello kitty di pundaknya. “Saya diajak dia untuk bekerja di kafe, tahunya tempat seperti ini. Ya sudah, saya lajakkan (teruskan, red). Sekali terjerumus, terjerumus sekalian saja, orangtua juga tidak peduli,” ucap LN ringan, tangannya menunjuk LA.

Tidak hanya jago minum minuman keras sampai berbotol-botol, LA dan LN juga menjajakan tubuhnya dan terlibat dalam penggunaan narkotika. Bahkan, tidak mesti dibayar dengan uang, asal suka sama suka persetubuhan dapat terjadi.

“Bisa. Yang penting happy saja. Sama-sama pakai garam,” katanya, memberi kode khusus narkotika (garam).

Hanya saja, mereka tidak mau ‘dieksekusi’ di tempatnya bekerja meski di lantai atas Kafe Lecak terdapat kamar. “Garam di sini bisa beli Rp70 ribu. Bisa juga Rp100 ribu. Kalau mau, bisa kita pesankan. Ada yang antar, tapi pakainya di luar saja, jangan disini,” celetuk LN.

LA dan LN tahu apa yang dikerjakannya adalah sesuatu yang hina di mata masyarakat. Pekerjaan yang salah dan memalukan. Namun mau tidak mau harus digeluti oleh mereka. Kendati demikian, jika ada kesempatan untuk kembali mengecap bangku sekolah, mereka mau.

“Di sini tempat yang tidak baik, kami tahu ini salah. Mau diapakan. Kalau memang bisa sekolah lagi, kami pasti akan menyelesaikan sekolah kami. Tapi kalau tidak bisa, ya kami lanjutkan kerjaan ini,” tutur LA.

Mereka memang sudah jadi korban. Namun tidak ada kata terlambat jika ada campur tangan dari pemerintah dan tentunya orangtua masing-masing. Barangkali, inilah pekerjaan rumah (PR) bagi semua kalangan di Kota Singkawang. Perlu diingat, belakangan diketahui banyak kaum ibu di Singkawang yang terjangkit virus HIV dari suaminya yang doyan jajan di luar. (*)