Ibu Kandung Hartono Azas Dibunuh

Pelakunya Anak Sendiri dan Mengidap Gangguan Jiwa

262
EVAKUASI. Polisi mengevakuasi jasad korban pembunuhan di Gang Landak Jalan Tanjungpura Kecamatan Pontianak Selatan, Kamis sore (5/7). Andi Ridwansyah-RK
EVAKUASI. Polisi mengevakuasi jasad korban pembunuhan di Gang Landak Jalan Tanjungpura Kecamatan Pontianak Selatan, Kamis sore (5/7). Andi Ridwansyah-RK

eQuator.co.idPontianak-RK. Gang Landak Jalan Tanjungpura Kecamatan Pontianak Selatan tiba-tiba gempar, Kamis sore (5/7). Bagaimana tidak, seorang ibu dibunuh anak kandungnya sendiri di rumah No. 29 di gang tersebut. Keduanya ternyata ibu dan adiknya Anggota DPRD Pontianak Hartono Azas.

Korban bernama Jong Sui Jo. Perempuan 80 tahun ini tewas menggenaskan. Kedua pergelangan kaki korban terpotong dan leher nyaris putus.

Pelakunya Lung Hui Na alias Ana. Perempuan 43 tahun ini memiliki riwayat gangguan jiwa. Dia menghabisi nyawa ibunya menggunakan parang.

Iwan, warga setempat mengatakan, kejadian ketika memasuki waktu Ashar. Saat itu dirinya berniat melaksanakan Salat di rumahnya. Tiba-tiba mendengar suara minta tolong dari rumah korban. “Belum ramai, masih sepi,” ujarnya kepada Rakyat Kalbar.
Iwan kemudian keluar. Di benaknya masih belum menyangka telah terjadi pembunuhan. Ketika tiba di tempat kejadian perkara (TKP), dia sempat bertanya kepada beberapa warga lainnya. Saat itu, pintu rumah TKP dalam keadaan terbuka.
Iwan bertemu seorang bapak-bapak di lokasi tersebut. Sementara menantu korban sedang menghubungi seseorang melalui sambungan telepon. Menurut bapak tersebut, kemungkinan ada pembunuhan.
Perlahan-lahan Iwan masuk ke dalam rumah tersebut untuk mengintip. Betapa kagetnya dia melihat pelaku sedang memotong korban menggunakan parang. “Pelaku saya lihat berjongkok,” ungkap pria 48 tahun ini.
Sambil mengayunkan parang tajamnya kata dia, pelaku mengucapkan kata-kata yang tidak diketahuinya. Lantaran ketakutan, Iwan meminta warga lainnya untuk menghubungi pihak kepolisian. Karena ia tahu betul bahwa pelaku mengalami gangguan jiwa.
Warga lainnya yang melihat kejadian tersebut Adi. Pria 52 tahun ini pada pukul 15.30 WIB mendengar ada keributan. “Saya dengar orang teriak, saya keluar dan bertanya ada apa ni?, ternyata sumber suaranya dari rumah korban,” ceritanya.
Saat itu kata dia, pembantu korban yang berteriak. Mengatakan ada pembunuhan di dalam rumah. “Saat itu pembantunya sudah menyelematkan diri, dan meminta bantuan kepada warga,” ujarnya.
Lantaran mengetahui pelaku mengindap kelainan jiwa, warga tidak berani masuk ke dalam rumah korban. Warga hanya berupaya menghubungi pihak kepolisian. Sekitar pukul 16.00 WIB  seorang polisi datang. Akhirnya, dia dan beberapa warga memberanikan diri masuk ke dalam rumah.
“Saat masuk ke dapur, korban nampak tengah menggerek (menggorok) leher ibunya, dan masih dalam keadaan memegang parang,” kisahnya.
Pelaku baru melepaskan parang yang dipegang setelah diminta oleh abangnya. Menurutnya, abangnya tersebut memang ditakuti pelaku. “Abangnya minta parang dilepas, baru dia melepaskanya,” tutup Adi.
Sementara warga lainnya, Ipeh mengatakan, dua cucu korban berusia 5 dan 6 tahun menyaksikan langsung bagaimana korban meregang nyawa. Dua cucu korban sempat keluar rumah sambil berteriak. “Kalau tidak segera keluar, bisa-bisa keduanya menjadi korban,” ucap wanita berusia 36 itu.

Dijelaskannya, sebelum kejadian sadis tersebut antara pelaku dan korban sempat cekcok mulut. Pelaku sempat melontarkan ancaman akan membakar rumah. “Dia datang ke warung mau beli korek. Rupanya mau bakar rumah,” ujarnya.

Masih cerita Ipeh, sebelumnya pelaku tidak menunjukkan gejala stres. Namun setelah lulus kuliah, kejiwaan Ana mulai terlihat terganggu hingga sekarang. Bahkan Ana sempat dipasung sebelum akhirnya dikurung ibunya dalam kamar.

Korban sebenarnya sangat sayang dengan pelaku. Ketika Ana akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa (RSJ), tapi ibunya tak mau.

“Pas kejadian, korban ini membuka pintu kamar pelaku. Pas korban lagi masak untuk dua cucunya, Ana langsung bacok ibunya. Terus sampe dipotong-potong gitu,” cerita Ipeh.

Ipeh mengatakan, pelaku dan korban merupakan adik serta ibu kandung politisi Hartono Azas. Ia berkata, Hartono meminta untuk tidak menggembar-gemborkan kejadian ini.

Kasat Reskrim Polresta Pontianak Kompol M. Husni Ramli  menuturkan, pihaknya mendapat laporan dari warga telah terjadi kejadian pembunuhan pada pukul 16.00 WIB. “Sampai di TKP kami menemukan jasad wanita umur 80 tahun sudah tergeletak tidak bernyawa,” terangnya kepada wartawan.
Dikatakan Husni, tersangka pembunuhan tak lain anaknya sendiri. Saat ini pelaku sudah diamankan di Mapolresta Pontianak.
“Tersangka membunuh korban merupakan HN anak korban sendiri yang menghabisi nyawa ibunya menggunakan sebuah parang,” sebutnya.
Husni menuturkan, korban mendapatkan luka serius pada bagian leher, kedua tangan dan kaki putus akibat benda tajam. Dari keterangan keluarga, pelaku memiliki gangguan jiwa. Kendati begitu, pihaknya juga akan melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Dijelaskan Husni, sampai saat ini polisi belum mengetahui motif pembunuhan. “Sampai saat ini motif pembunuhan masih didalami,” tutup Husni.

Hartono Azas pada Kamis malam (5/7), ketika dikomfirmasi sempat menjawab panggilan telepon Rakyat Kalbar. Namun tidak banyak keterangan yang didapat dari mantan Ketua DPRD Pontianak ini. “Sebentar-sebentar ya, saya lagi ngurus mamak saya dulu,” singkat Ketua DPC Partai Demokrat Kota Pontianak seraya langsung menutup teleponnya.

 

Laporan: Bangun Subekti, Andi Ridwansyah, Gusnadi

Editor: Arman Hairiadi