Harga Gas Bersubsidi Belum Stabil

Kapuas Hulu Minim Pangkalan dan Agen

6
GAS BERSUBSIDI. Tabung gas elpiji yang dijual dalam operasi pasar di wilayah Putussibau yang bekerjasama dengan pihak pangkalan beberapa waktu lalu. Dok

eQuator.co.id – PUTUSSIBAU-RK. Harga gas elpiji 3 kilogram di pasaran wilayah Putussibau masih relatif tinggi. Padahal Dinas Perdagangan, UKM dan Koperasi Kabupaten Kapuas Hulu sudah beberapa kali melakukan operasi pasar gas bersubsidi tersebut.

Saat ini di pasaran, harga gas tabung melon masih di kisaran Rp35 ribu – Rp40 ribu per tabung. Kondisi tersebut dikeluhkan warga. Mereka meminta pemerintah daerah mencari penyebab, mengapa harga elpiji untuk masyarakat miskin itu masih tinggi.

Kepala Dinas Perdagangan UKM dan Koperasi Kapuas Hulu Abang Chaerul Saleh menjelaskan, pihaknya sudah beberapa kali berkoordinasi dengan Pertamina terkait harga gas elpiji yang belum normal itu.”Dari kami sudah beberapa kali memanggil Pertamina agar dapat mengstabilkan harga gas elpiji 3 kg ini,” katanya, Rabu (26/12).

Chaerul mengatakan, pihaknya sulit untuk melakukan tekanan dalam menstabilkan harga gas 3 kg ini. Karena pihaknya hanya sebatas memberikan masukan-masukan kepada Pertamina. Karena Kewenangan itu ada di Pertamina. “Gas elpiji ini kan di bawah kendali Pertamina langsung. Kami hanya bisa monitoring,” ucapnya.

Ia  memprediksi, harga gas elpiji masih tinggi bisa juga dikarenakan terbatasnya jumlah pangkalan. Karena menumpuk di dalam kota, sementara di kecamatan tidak ada.

“Coba di setiap kecamatan itu pangkalan gasnya ada, sehingga kuota gasnya bisa dibagi. Sehingga masyarakat di Kecamatan juga mendapatkan gas dan harganya pun bisa stabil,” sarannya.

Chaerul menambahkan, masalah ini sering dibahas dalam rapat Forkompinda. Karena masalah gas ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat.

“Bagaimana tidak kita bahas, gas ini kebutuhan masyarakat. Dan harganya saat ini belum stabil. Bahkan di Badau itu harga gas elpiji 3 Kg sudah mencapai Rp50 ribu pertabung,” pungkas Chaerul. (dRe)