Gerakan Balita Sehat di Tengah Sulitnya Perekonomian

Pemkab Sanggau akan Launching

SOSIALISASI. Para peserta serius memerhatikan Bupati Sanggau, Poulus Hadi saat Sosialisasi PIN Polio di Hotel Meldy Sanggau, Selasa (16/2). Kiram Akbar-RK
KUNYIT. Satu di antara pengobatan tradisional pada Balita yang masih digunakan saat ini. Mengolesi kunyit di atas alis dan hidungnya. Dipercaya dapat meredakan batuk pilek pada Balita, Selasa (16/2). Kiram Akbar-RK
KUNYIT. Satu di antara pengobatan tradisional pada Balita yang masih digunakan saat ini. Mengolesi kunyit di atas alis dan hidungnya. Dipercaya dapat meredakan batuk pilek pada Balita, Selasa (16/2). Kiram Akbar-RK

eQuator.co.id – Sanggau-RK. Ekonomi sulit, lantaran harga karet dan sawit anjlok. Supaya asupan gizi Bayi di bawah Lima Tahun (Balita) tetap tercukupi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sanggau akan meresmikian (launching) Gerakan Balita Sehat, 22 Februari mendatang.

“Saya ingin ada inovasi, termasuk melihat saat ini ekonomi masyarakat rendah. Inilah peran pemerintah melalui gerakan ini,” jelas Poulus Hadi, Bupati Sanggau ditemui usai Sosialisasi Program Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio di Hotel Meldy, Selasa (16/2).

Gerakan Balita Sehat itu, PH–sapaan Poulus Hadi–akan diklopkan dengan program PIN Polio. Terlebih Pemda memiliki kader-kader dan petugas kesehatan hingga ke tingkat bawah yang siap digerakkan. “Kalau dia nanti perlu asupan, perlu dukungan gizi, nah ini nanti yang akan kita buat seperti apa. Saya minta itu,” katanya.

Bisa saja gotong-royong, tambah PH, nanti diserahkan susu dan segala macam untuk asupan gizi bayi. “Tetapi saya harus omong dulu, bagaimana membawa susu, uangnya dari mana dan segala macam. Inilah suatu gerakan yang harus kita bangun secara tersistem melibatkan berbagai pihak, termasuk investor kita melalui CSR (Corporate Social Responsibility),” bebernya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sanggau, dr Jones Siagian Mqih mengakui mengakui dilema terkait pemenuhan asupan gizi Balita di tengah sulitnya perekonomian.

Namun, jelas Jones, masyarakat jangan salah persepsi bahwa makanan bergizi itu identik dengan makanan yang harganya mahal. Tidak demikian yang sebenarnya.

“Dengan Rp100 ribu sudah bisa mendapatkan gizi yang cukup untuk keluarga dan Balita. Contohnya, kalau untuk memenuhi seribu kalori itu kan hanya beberapa sendok, kemudian dicampur bayam atau sayur-sayuran di kampung. Kalau untuk daging kan bisa diganti tahu tempe,” papar Jones.

Yang menjadi masalah saat ini, lanjut Jones, masalah pengolahannya. Artinya bahan-bahan yang murah dan begizi itu harus diolah hingga menjadi menarik dan mau dimakan oleh Balita.

“Masyarakat di kampung-kampung itu tidak mempunyai kemampuan mengolahnya menjadi menarik. Cuma saya setuju yang dikatakan Pak Bupati, kita sering menganggap sepele bahwa asupa gizi bagi Balita merupakan sesuatu yang sangat penting. Ini sesuai dengan program Pak Jokowi tentang Seribu Hari Kehidupan,” jelas Jones.

Terkait soal inovasi itu, Jones mengaku masih menunggu launching Gerakan Balita Sehat pada 22 Februari nanti. “Jadi nanti di sana akan diundang SKPD-SKPD, pihak swasta termasuk para investor. Tujuannya, bagaimana ini menjadi gerakan bersama yang terintegrasi,” pungkasnya.

Laporan: Kiram Akbar

Editor: Mordiadi