Entikong Perketat Masuknya Unggas

Malaysia Timur Dilanda Wabah Flu Burung

18
TOLAK UNGGAS MASUK. Stasiun Karantina Pertanian Entikong menolak masuknya 4 ekor ayam yang dibawa oleh seorang pelintas batas, Sabtu (11/8). Penolakan ini disaksikan pihak Bea Cukai dan sekuriti PLBN Entikong. FB Badan Karantina Pertanian
TOLAK UNGGAS MASUK. Stasiun Karantina Pertanian Entikong menolak masuknya 4 ekor ayam yang dibawa oleh seorang pelintas batas, Sabtu (11/8). Penolakan ini disaksikan pihak Bea Cukai dan sekuriti PLBN Entikong. FB Badan Karantina Pertanian

eQuator.co.id – SANGGAU-RK. Badan Karantina Pertanian Republik Indonesia melarang masuknya unggas segar dan olahan dari Malaysia. Menyusul pernyataan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia Office International des Epizooties (OIE) yang menyebutkan Malaysia tengah diserang wabah virus flu burung.

Untuk mengantisipasi penyebarannya di indonesia, Stasiun Karantina Pertanian Entikong menolak unggas jenis ayam dari Malaysia melintasi pintu lintas batas negara (PLBN). Salah satu yang ditolak adalah masuknya 4 ekor ayam yang dibawa oleh pelintas batas Sabtu (11/8). Penolakan ini disaksikan pihak Bea Cukai dan sekuriti PLBN Entikong.

“Kami akan tegas melakukan tindakan karantina penolakan sesuai Surat Edaran Kepala Badan Karantina Nomor : 13631/KR.120/K/08/2018 tertanggal 09 Agustus 2018 tentang Instruksi Pelarangan Pemasukan Unggas dan Produk Unggas Segar dari Negara Wabah Avian Influenza,” kata Syamwidartomo, Medik Veteriner Stasiun Karantina Pertanian Entikong.

Baca Juga: Flu Burung Muncul (Lagi)

Penolakan tersebut merupakan langkah Karantina Entikong dalam mewaspadai pemasukan unggas dan produk unggas segar dari Malaysia yang terjangkit wabah Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) itu. Karantina Pertanian Entikong, tambahnya, terus memantau dan menyiapkan langkah pencegahan agar wabah dan penyebaran HPAI agar tidak terjadi di dalam negeri khususnya di Kalbar.

“Pelintas batas di PLBN Entikong dimohon tidak melakukan aktivitas pemasukan unggas dan produknya sampai terbit surat edaran pencabutan instruksi pelarangan pemasukan unggas dan produk unggas segar dari negara wabah flu burung oleh Badan Karantina Pertanian,” pesannya.

Diberitakan sebelumnya, Uni Emirat Arab (UEA) mengeluarkan larangan impor unggas hidup dari Sabah dan Sarawak, Malaysia. Hal ini dilakukan setelah munculnya wabah flu burung di negara bagian di timur itu.

Baca Juga: Telur Ayam Malaysia Masuk ke Sintang

Pernyataan resmi dari Kementerian Perubahan Iklim dan Lingkungan UEA menyatakan, pihaknya untuk sementara melarang impor semua jenis unggas, baik jinak maupun liar, burung hiasan, anak ayam, dan telur penetas dari Malaysia timur. Kementerian itu juga melarang impor daging unggas serta produk tanpa pemanasan dan telur dari negara bagian Sabah.

Langkah tersebut diambil setelah mereka menerima pemberitahuan pada 6 Agustus dari Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan soal kemunculan kasus flu burung H5N1. Penemuan penyakit yang sangat mudah menular itu dilaporkan di peternakan di Malaysia Timur.

Sheikh Majid Sultan Al Qassimi, asisten sekretaris urusan sektor keragaman makanan pada Kementerian Perubahan Iklim dan Lingkungan UAE, mengatakan kementeriannya berharap dapat menjamin kesehatan dan keamanan unggas UEA, selain melindungi kesehatan masyarakat.
UEA mengimpor 90 persen makanannya, kata Kementerian Perekonomian UEA. Hal ini yang mendorong pemerintah UEA teliti soal makanan.

Baca Juga: Unggas Masuk? Segera Laporkan!

Namun, produk unggas yang ditangani dengan pemanasan, termasuk daging dan telur, sudah diizinkan masuk dari seluruh wilayah Malaysia. Sampel produk-produk makanan impor telah dikirimkan ke berbagai laboratorium untuk diperiksa guna memastikan bahwa produk makanan aman untuk dimakan, menurut laporan media setempat.

Dilansir New Straits Times, Pemerintah Malaysia menyatakan virus tersebut telah membunuh 3.000 dari 28.000 ayam petelur di peternakan, di Kampung Kauluan, distrik Tuaran. Namun, virus tersebut tidak menginfeksi pekerja di peternakan dan warga desa.
“Untuk sekarang, tidak ada seorang pun yang terinfeksi. Tapi tim kami akan terus melakukan pengawasan dan pemeriksaan,” kata Peter Lee, wakil direktur Departemen Kesehatan Hewan Sabah, pekan lalu.

Laporan: Kiram Akbar
Editor: Mohamad iQbaL