Dorong UMKM Syariah Tembus Pasar Digital

Ilustrasi.NET

eQuator.co.id – JAKARTA-RK. Bank Indonesia (BI) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) syariah memasarkan produk secara digital untuk memperluas akses pasar. Peluang pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran didukung oleh tingginya tingkat penetrasi internet di Indonesia.

Deputi Gubernur BI, Rosmaya Hadi menyatakan, BI telah melakukan program persiapan pemasaran online UMKM (on boarding). Di antaranya, pembinaan, pendampingan, capacity building, dan fasilitasi UMKM sesuai dengan klasifikasi kelasnya.

Kebijakan ekonomi dan keuangan syariah telah menjadi salah satu bauran kebijakan BI untuk dapat menjaga stabilitas dan mendorong momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Adapun saat ini, pertumbuhan ekonomi tanah air memang melesu dari 5,07 persen pada kuartal-I 2019 menjadi 5,05 persen pada kuartal-II 2019.

“Hal itu diwujudkan dalam tiga program utama,” kata Rosmaya dalam acara Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (KTI) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (12/9).

Salah satu programnya ialah pengembangan ekonomi syariah dengan mengembangkan ekosistem halal value chain pada industri halal nasional. Hal ini untuk mendorong produk-produk halal seperti makanan halal, busana muslim, maupun pariwisata halal dapat dipasarkan kepada konsumen luar negeri.

“Kebijakan ini yang dapat mendorong ekspor dan devisa,” ujarnya.

Kemudian, pendalaman pasar keuangan syariah melalui penerbitan instrumen Sukuk Bank Indonesia (SUKBI). Terakhir, kampanye untuk mendorong halal life style, yang mendukung halal value chain.

“Kampanye tersebut diharapkan dapat mempertemukan antara supplier dan produsen, produsen dan distributor, produsen dan konsumen, maupun inventor dan investor pada industri halal nasional dalam rangka mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia,” pungkasnya.

KPw BI Kalbar juga ikut berkontribusi dalam kegiatan ini. Sebanyak 21 kontingen diberangkatkan ke Banjarmasin sebagai perwakilan Kalbar dan termasuk empat UMKM yang menjadi unggulan Kalbar.

“Tentu produk-produk UMKM yang menjadi unggulan Kalbar, seperti produk makanan, fashion dan pertanian namun tentu yang menjadi utama. Adalah terjamin dan jelas kehalalannya dan memiliki keunikan tersendiri khas Kalbar,” ungkap Analis Fungsi Pengembangan UMKM KPw BI kalbar, Fadli Akbar.

Di samping itu, persiapan lainnya, KPw BI Kalbar juga akan ikut serta dalam berbagai perlombaan seperti Tari Kreasi Islam, Nasyid dan Pesantren Unggulan. Hal ini tentunya dilakukan dengan melibatkan pihak dari Kanwil Kemenag Provinsi Kalbar dan Kanwil Kota untuk memberikan rekomendasi.

“Nanti juga ada dari perwakilan STQ dan MTQ untuk melakukan penyeleksian,” pungkasnya.

Pemilihan Kalsel dalam kegiatan ini, lantaran merupakan suatu kehormatan dan sesuai dengan akar sejarah Kalsel sebagai satu diantara pusat penyebaran Islam di Nusantara. Merujuk pada kajian sejarah Kalsel, suku Banjar merupakan sub etnis yang mendiami wilayah Kalsel yang berasal dari Melayu pesisir.

“Islam merupakan landasan budaya dan identitas komunitas orang Banjar, kehadiran konsep ekonomi syariah di masyarakat banjar merupakan hal yang tidak asing lagi karena nilai suara Islam yang berkaitan dengan hal tersebut sudah menjadi kebiasaan,” ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Kalsel, Herawanto.

Herwanto menyebutkan, Kalsel juga memiliki potensi yang dinilai cukup besar dalam pengembangan ekonomi berbasis syariah sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru. Ini juga didukung dengan jumlah penduduk di provinsi ini yang dinilai cukup besar khususnya penduduk Muslim mencapai 3,5 juta jiwa atau 96,7 persen dari total populasi penduduk.

“Ini juga didukung dengan banyaknya pesantren yang ada di daerah tersebut yang mencapai 283 pesantren yang merupakan jumlah terbanyak di antara wilayah Kalimantan lainnya,” paparnya.

Namun, pengguna ekonomi syariah di Kalsel tidak hanya eksklusif terbatas pada umat muslim saja, melainkan secara inklusif dapat dimanfaatkan untuk berbagai kalangan dan khalayak umum.

Laporan: Nova Sari/Jawa Pos
Editor: Andriadi Perdana Putra