Dorong Distribusi BBM Sampai ke Pedalaman

Hiswana Migas Kalbar

102
Ghulam Muhammad Syaron

Sintang- RK. Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Kalimantan Barat (Kalbar) mendorong penuh agar distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bisa sampai ke pedalaman. Keterjangkaun distribusi akan memudahkan masyarakat dalam mendapatkan BBM.

“Kita dorong agar distribusi BBM menjangkau semua kecamatan. Terutama kecamatan yang pedalaman dan perbatasan,” kata Ketua I Hiswana Migas Kalbar, Ghulam Muhammad Syaron, Rabu (9/3) disela peresmian terminal BBM pertalite di Sintang.

Menurut Syaron, misalnya seperti kecamatan Ketungau dan Ambalau. Distribusi BBM sepenuhnya belum menjangkau kedua kecamatan itu. Padahal masyarakat setempat sangat membutuhkan. “Kita sebagai swasta siap bermitra dengan pemerintah, membuka akses distribusi,” ujarnya.

Menurut Syaron, akibat tidak terjangkau distribusi, terjadi disparitas harga di pedalaman maupun di perbatasan. Akibatnya tidak sedikit warga perbatasan menjadi tergantung dengan BBM dari Malaysia.

Meskipun demikian, lanjutnya, dispensasi dapat diberikan untuk kebutuhan wilayah pedalaman atau perbatasan dengan melakukan pengisian BBM di SPBU menggunakan jerigen. Hanya saja dengan catatan mempunyai rekomendasi dari instansi terkait serta kepala desa (Kades). “Peruntukkan jelas, buat kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.

Karena itu, menurut Syaron, masyarakat dari pedalaman maupun perbatasan amat dimungkinkan dapat dilayani pada malam hari. Lantaran kondisi geografis yang berat serta jauh. “Kita lihat kondisi sekarang, menuju Ketungau misalkan. Maka, kalau datang untuk sesegera mungkin dilayani. Tapi tetap harus berdokumen resmi,” lugas Syaron.

Terpisah, Retail Fuel Marketing Manager Region VI Pertamina, Asep Wicaksono, mengatakan dispensasi dapat diberikan kepada masyarakat mengisi BBM menggunakan jerigen. Namun mempunyai persyaratan dan mesti sesuai aturan. Yakni mengantongi rekomendasi resmi dari pemerintah. Karena diperuntukkan buat masyarakat dipedalaman.

Ia menambahkan jam pelayanan juga tidak dibatasi. Pembelian dengan jerigen untuk masyarakat pedalaman maupun perbatasan dilayani pada malam hari dapat ditoleransi. Asal bukan disengaja,  melainkan karena faktor teknis perjalanan. “SPBU idealnya memang buka 24 jam. Kita batasi jam operasional karena faktor keamanan. Misal mengantisipasi perampokan,” seru Asep.

Laporan: Achmad Munandar

Editor: Arman Hairiadi