Ditemukan Dua Bocah Suspect Difteri di Kecamatan Sungai Kunyit

440 Anak Diimunisasi Ulang

45
DITANGANI SECARA SEKSAMA. Salah seorang anak suspect Difteri dalam penanganan intensif di RS Rubini Mempawah, Senin (1/1). Ari Sandy-RK

eQuator.co.id – Mempawah-RK. Menyusul temuan dua pasien positif penyakit diduga Difteri, Pemerintah Kabupaten Mempawah bereaksi cepat. Sebanyak 440 anak di Desa Sungai Duri 2, Kecamatan Sungai Kunyit jadi sasaran imunisasi ulang, Sabtu (30/12/2017) lalu.

Kegiatan tersebut dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes), Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (KB) Kabupaten Mempawah. “440 anak di Desa Sungai Duri 2 telah dilakukan imunisasi ulang dengan memberikan vaksin antidifteri,” ujar Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dari Dinkes, Pengendalian Penduduk, dan KB Mempawah, Muchtar Siagian, Senin (1/1).

Dia mengatakan, saat ini stok persediaan vaksin antidifteri di Kabupaten Mempawah mengalami kekosongan. Walau begitu, instansinya telah mengupayakan penambahan stok yang diajukan ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) hingga ke pemerintah pusat.

“Kita meminta dropping vaksin ke Dinas Kesehatan Provinsi, bahkan ke Kemenkes RI dalam waktu segera,” ungkapnya.

Upaya pencegahan, diterangkan Muchtar, dilakukan dengan memberikan imunisasi ulang terhadap kelompok anak usia 0 hingga 3 tahun, usia 4 tahun hingga 7 tahun, dan anak usia 7 tahun hingga 14 tahun di Mempawah, agar tidak terjangkit dugaan penyebaran difteri.

Dia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan terus menjaga kesehatan lingkungan sekitar tempat tinggal. Selain itu, melakukan upaya pencegahan dengan melakukan imunisasi secara merata ke daerah-daerah yang telah ditentukan.

Sebelumnya, Muchtar mengatakan pihaknya telah menginstruksikan semua Puskesmas di Mempawah untuk bersiap. “Kita telah melakukan antisipasi dengan membuat surat edaran ke puskesmas untuk mewaspadai jika ada pasien yang memiliki ciri-ciri terjangkit difteri,” jelasnya.

Ia menerangkan penyakit Difteri rentan dialami anak-anak dan Balita. Hanya yang telah diimunisasi lengkap yang kecil kemungkinan terkena difteri.

Menurut Muchtar, penyakit Difteri menular lebih cepat daripada penyakit lainnya. Sebab melalui udara.

“Jika satu orang di dalam rumah terjangkit difteri, bisa satu rumah tertular,” ujarnya.

Karena itu, ia mengingatkan, jika terdapat orang yang positif difteri, maka orang-orang di sekitarnya harus melindungi diri dengan masker. Diungkapkannya, kasus Difteri terakhir teridentifikasi terjadi di Kabupaten Mempawah pada tahun 2010 lalu.

“Jika memang terdapat laporan suspect Difteri di Kabupaten Mempawah, kita akan merujuk pasien yang bersangkutan di ruang isolasi di RSUD Soedarso. Tapi mudah-mudahan tidak ada,” pungkas Muchtar.

Sementara itu, salah seorang warga Mempawah, Dani, 28 tahun, berharap pemerintah melakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai bahaya dan pencegahan penyakit berbahaya tersebut. “Saya harap pemerintah terkait turun ke lapangan mensosialisasikan tata cara pencegahan penyebaran penyakit Difteri, karena diketahui penyakit tersebut dapat mematikan pasien yang terserang penyakit itu,” pintanya.

Selain itu, penyediaan vaksin difteri untuk imunisasi harus dilakukan secara massal alias banyak, karena jumlah penduduk banyak, khususnya anak kecil di Kabupaten Mempawah. “Pencegahan lebih baik ketimbang mengobati,” pungkas Dani.

Dua suspect Difteri yang ditemukan masih anak-anak, yakni warga Desa Sungai Duri II berinisial AN (6 tahun) dan warga Desa Sungai Limau, FK (12 tahun). Sungai Duri II dan Sungai Limau terletak bagian dari Kecamatan Sungai Kunyit. Mereka dirawat intensif di ruang isolasi RSUD Rubini, Mempawah, sejak Jumat (29/12).

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mempawah masih menunggu hasil uji laboratorium (uji lab). Tentunya untuk memastikan apakah penyakit mereka benar-benar Difteri yang saat ini sudah menjadi wabah nasional.

Dikatakan Bidang Pelayanan, Pencegahan, dan Pengendalian Infeksi Dinkes Mempawah, Eka Mardyana, hasil pemeriksaan dokter, pada pangkal tenggorokan dua bocah tersebut didapati bercak putih. Maka dokter mengambil sample cairan dari selaput lendir tenggorokan mereka untuk dilakukan uji lab.

“Hasilnya keluar dalam waktu dua minggu kedepan,” ungkapnya.

Sambil menunggu, pihaknya melakukan penanganan awal dengan memberikan antibiotik dan antidifteri. Penanganan intensif dilakukan kepada dua anak itu.

“Hingga saat ini, kondisi anak tersebut sudah membaik,” terang Eka. “Jika dilihat secara klinis, sudah menjauhi gejala Difteri, makanya masih suspect (terduga),” imbuhnya.

Upaya pencegahan, ia menyatakan, terus dilakukan pihaknya. “Dan dalam kasus ini, saya berharap agar para orangtua memvaksinasi anaknya agar tidak terkena penyakit berbahaya seperti ini,” pungkas Eka.

 

 

Laporan: Ari Sandy

Editor: Mohamad iQbaL