
eQuator.co.id – Pontianak-RK. Guru olahraga SMP Bhayangkari, Jalan Adisucipto, Sungai Raya, Kubu Raya, Sunardi, 38, dipukul pria berinisial H, orangtua anak didiknya.
Pemukulan ini terjadi, Jumat (7/10) pekan lalu. Kala itu guru yang tinggal di Jalan Paris II, Pontianak Tenggara itu berada di kantin. Kemudian H dating memanggilnya dan mengajaknya ke ruang hold SMP Bhayangkari. Di ruang itu ada kepala sekolah, securty dan istri H.
Terjadi perdebatan antara H dan Sunardi. H komplain, tidak terima anaknya yang duduk di kelas IX di SMP Bhayangkari itu dibawa ke kolam renang. Sunardi menjelaskan, semua anak kelas IX dibawa berenang, karena merupakan bagian dari kurikulum pendidikan. Ada penialaian yang akan dilakukan di kolam renang.
Setelah terjadi perdebatan dan dijelaskan oleh Sunardi, pria berinisial H itu meninggalkannya. Tanpa disadari oleh Sunardi, orangtua anak didiknya itu kembali menuju ke arahnya. H memukulnya dari belakang, mengenai antara leher dan kepala.
Sunardi terkejut dan kesakitan. Melihat Sunardi dipukul, Kepala Sekolah SMP Bhayangkari melerai H yang hendak memukulnya lagi. Namun H tetap bersikukuh ingin mendekati Sunardi.
“Sakit, itu dia pukul saya dari belakang. Di hadapan kepala sekolah dan securty serta istrinya sendiri. Saya benar-benar terkejut,” jelas Sunardi ditemui Rakyat Kalbar, Sabtu (15/10).
Menurut Sunardi, tidak ada masalah berkaitan dengan dirinya membawa anak didiknya ke kolam renang. Apalagi untuk mengambil penilaian. “Alasan orangtuanya saya tidak mengawasi. Itu bukan alasan bagi saya. Karena orangtuanya sendiri kok yang mengantar anaknya ke kolam renang. Kemudian mereka ada di sekitaran kolam renang,” ungkapnya.
“Tapi itu yang dijadikan permasalahan. Itu pun sudah saya jelaskan. Setelah saya dipukul itu, akhirnya dipisahkan kepala sekolah,” beber Sunardi.
Sehari pascapemukulan, Sabtu (8/10) malam, Sunardi melaporkan apa yang dialaminya ke Sat Reskrim Polresta Pontianak. Dia tidak terima atas pemukulan yang dilakukan H. “Hanya satu kali pukulan, buktinya ada rekaman CCTV (closed circuit television),” tegasnya.
Sunardi sangat menyesalkan, mediasi hendak dilakukan kepala sekolah, setelah dirinya melapor ke kepolisian. “Bahkan pascakejadian, kepala sekolah menganggap seperti tidak terjadi apa-apa,” kesalnya.
Dia melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian, agar ke depan tidak ada lagi nasib guru seperti dirinya. “Kalau diam-diam terus, nanti akan terus terulang. Maka saya lapor polisi, guna ada keadilan,” harap Sunardi agar polisi memproses hukum sampai tuntas apa yang dilakukan H terhadapnya.
Kepala SMP Bhayangkari, Soni Heranto mengaku tidak mengetahui, guru olahraganya lapor polisi. “Hingga saat ini belum ada panggilan atau disampaikan pihak berwajib kepada kami,” jelas Soni.
Soni juga membantah terjadi pemukulan orangtua terhadap guru olahraga bernama Sunardi. “Tidak ada, kalau disebut pemukulan saya rasa tidak lah ya, karena kita tidak bisa simpulkan dia dipukul atau tidak,” bantahnya atas pemukulan orangtua murid terhadap guru olahraganya.
“Tidak ada lebam (memar), tidak ada apa-apa. Dia masih ketawa-ketawa. Mungkin dia (Sunardi) ini ingin mencari sensasi. Kita akan klarifikasi kepada dia. Sampai saat ini saya belum bertemu dengannya. Mungkin dia sedang sibuk,” sambung Soni yang menunggu panggilan pihak berwajib.
Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Andi Yul Lapawesean membenarkan telah menerima laporan yang dibuat Sunardi, guru olahraga SMP Bhayangkari. “Laporan yang dibuat guru itu (Sunardi), berkaitan dengan tindak pidana penganiayaan,” jelas Kompol Andi Yul, Minggu (16/10).
Andi Yul menegaskan, laporan Sunardi sudah naik ke tahap penyidikan. Berbagai pihak yang berkaitan dengan kasus ini akan segera dipanggil. “Termasuk terlapor,” tegasnya.
Laporan: Achmad Mundzirin
Editor: Hamka Saptono