Di Singkawang Rawan Perdagangan Orang

13
SOSIALISASI. Suryani Lasari memberikan materi Sosialisasi Pendidikan Pencegahan TPPO di Aula Hotel Sentosa Singkawang, Kamis (11/10)--SUHENDRA

eQuator.co.idSingkawang-RK. Kota Singkawang masuk dalam daerah rawan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Karena itu, kota ini menjadi satu diantara 20 kabupaten/kota se Indonesia yang mendapatkan Sosialisasi Pendidikan Pencegahan TPPO oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Kegiatan ini bekerja sama dengan Lembaga Asa Puan Kalbar dan Pemkot Singkawang. Digelar di Aula Hotel Sentosa, Jalan Yos Soedarso, Kamis (11/10).

“Data dari berbagai sumber seperti Bareskrim, Kemensos, Disnakertrans dan BNP2TKI, ternyata Singkawang juga masuk daerah rawan TPPO,” ujar Suryani Lasari, Pengumpul dan Pengolah Data Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat, Kemendikbud.

Dia menjelaskan, indikator lainnya juga karena banyak terjadi perkawinan kontrak. “Banyak pula orang yang datang ke sini dan keinginan bekerja ke luar negeri. Ini satu diantara indikator kenapa sosialisasi dilakukan di Kota Singkawang,” katanya.

Sosialisasi ini diberikan kepada setiap orang tua agar mereka sadar mengenai dampak TPPO ini. “Tidak hanya mengandalkan pemberantasan oknum yang ditindak. Kalau masih ada orang tua dan banyak permintaan yang ingin anaknya dinikahkan atau ke luar negeri, maka akan sangat rawan,” katanya.

Suryani mengatakan, apabila bisa menghentikan, maka akan bisa memberikan efek yang lebih bagus. Maka perlu langsung disasar ke hulunya.

Di tempat yang sama, Ketua Asa Puan Kalbar, Sovia mengatakan, bahwa sosialisasi diberikan kepada para pelajar SMP, SMA, SMK, guru, lurah, RT, organisasi perempuan, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Kota Singkawang.

“TPPO dapat dilakukan oleh siapa pun, untuk tujuan apa pun dan dalam bentuk apa pun. Prosesnya dengan melakukan perekrutan pada calon korban. Kemudian melakukan pengangkutan, pengiriman, penampungan dan proses penerimaan,” katanya.

Sovia melanjutkan, bahwa metode dari TPPO sangat beragam. Mulai dari ancaman, kekerasan, penculikan, penipuan, pemalsuan, paksaan, hingga penyalahgunaan kekuasaan yang tujuannya untuk eksploitasi dan prostitusi. (hen)