Demokrat Kalbar Siap Kerja Keras Menangkan Usungannya

AHY Tak Jadi Cawapres Tahun Ini, Siap Berlaga 5 Tahun Lagi

Raden Hidayatullah Kusuma Dilaga
Raden Hidayatullah Kusuma Dilaga

eQuator.co.idPontianak–RK. Kemarin (10/8), Partai Demokrat Kalbar mengeluarkan sejumlah pernyataan. Walaupun pengajuan cawapres partai bintang mercy itu, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tak diakomodir Prabowo Subianto, mereka tetap legowo. Demi  perubahan Indonesia yang lebih baik.

“Kami memuji Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) sebagai bapak bangsa yang melihat sulitnya perekonomian rakyat saat ini,” tutur Wakil Ketua DPD Demokrat Kalbar, H. Raden Hidayatullah Kusuma Dilaga, SH, MH, kepada Rakyat Kalbar, Jumat (10/8).

Kesulitan itu, menurutnya, terlihat dari harga yang terus melambung. Sedangkan lapangan kerja dan pendapatan rakyat sulit didapat.

“Dengan harapan adanya pergantian pimpinan nasional, insya Allah akan ada perbaikan untuk rakyat Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga: Demokrat Kalbar: 2019 Ganti Presiden, 2019 Hijrah

Ditegaskannya, Demokrat Kalbar siap mendukung apapun keputusan ketua umumnya. Ia meyakinkan bahwa partainya siap bekerja sama dengan partai-partai koalisi.

“Termasuk untuk bekerja keras memenangkan pasangan usungan Partai Demokrat, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno,” terang Hidayatullah.

Ia meyakini, seluruh kader Demokrat Kalbar akan patuh dan berjuang atas nama rakyat dan perintah Ketua Umum Partai Demokrat, SBY. “Sesuai dengan hastag #2019GantiPresiden, #2019Hijrah,” tegasnya.

Senada dengan itu, dari Jakarta, meski Ketua Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, AHY, harus menahan kecewa karena tidak dipilih sebagai calon wakil presiden (Cawapres) Prabowo Subianto, namun partainya tetap mendukung pasangan Prabowo–Sandiaga Uno.

Dukungan Partai Demokrat kepada Prabowo diberikan setelah melalui lobi-lobi politik yang sangat pelik. Bahkan, hubungan kedua partai itu mencapai titik nadir pada Rabu (8/8) malam ketika Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief melancarkan serangan ke kubu Prabowo dan menyebut mantan Danjen Kopassus itu sebagai jenderal kardus. Dia juga menuding Sandiaga memberikan uang mahar masing-masing Rp 500 miliar kepada PKS dan PAN.

Kamis (9/8) pagi Prabowo pun datang ke rumah SBY di Jalan Mega Kuningan Timur VII. Namun, keduanya gagal mencapai kesepakatan. Kamis malam, Prabowo kembali datang ke rumah Presiden RI ke-6 itu. Lagi-lagi keduanya tidak menemukan titik temu. Partai Demokrat menolak Sandi sebagai cawapres, dan tetap menyodorkan AHY. Partai Gerindra, PKS, dan PAN akhirnya tetap mendeklarasikan Prabowo–Sandi sebagai capres–cawapres. Partai Demokrat tidak datang dalam deklarasi yang dilakukan di rumah Prabowo Jalan Kertanegara.

Baca Juga: Jokowi: Tidak Mungkin Kaos Bisa Mengganti Presiden

Partai Demokrat baru mengambil keputusan mendukung Prabowo–Sandi kemarin (10/8) sekitar pukul 11.00.  Penyampaian dukungan pun bukan dilakukan SBY, tapi disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat EE Mangindaan, kemudian dilanjutkan AHY.

“Setelah berkomunikasi dan melewati hari-hari serta malam panjang, Majelis Tinggi Partai Demokrat memutuskan untuk mengusung Prabowo – Sandi sebagai capres – cawapres,” terang AHY saat konferensi pers di rumahnya Jalan Mega Kuningan kemarin.

Sebagai kader inti Partai Demokrat, dia memberikan dukungan penuh kepada pasangan tersebut demi kesukseskan Pilpres 2019.  Dalam kesempatan itu, AHY juga meminta maaf kepada para pihak, baik kader Partai Demokrat mau pun masyarakat yang menginginkan dirinya menjadi cawapres.

Menurut dia, karena berbagai faktor, dirinya belum mempunyai peluang untuk menjadi cawapres. Tentu, kata dia, ada rasa sedih dan marah yang dialami para pendukungnya.

“Lalu banyak yang tanya AHY mau ngapain,?” ucap dia. Putera sulung SBY itu mengatakan, dia dan istrinya akan menunaikan ibadah haji lima hari kedepan. Dia sudah jauh-jauh hari merencakan untuk beribadah ke suci.

Waktu pedaftaran pilpres kemarin merupakan momen yang sangat spesial bagi dirinya, karena dia genap berusia 40 tahun. “Kata banyak orang, usia 40 itu usia yang baik,” terang dia. Dia akan berupaya mengaktualisasikan diri dan berjuang untuk bangsa dan negara.

Sebagai ketua Kogasma Partai Demokrat, dia akan bekerja keras untuk membangkitkan suara Partai Demokrat dalam pileg mendatang. Ia yakin, target yang diinginkan partainya akan tercapai. Dia juga akan terus menyapa masyarakat dan mendengarkan suara rakyat.

“Saya hanya warga negara biasa yang ingin berkontribusi. Kita hanya bisa bekerja keras, Allah lah yang mentakdirkan,” tutur mantan calon gubernur DKI Jakarta itu.

Suami Annisa Pohan itu mengatakan, jika pada pilpres lima tahun mendatang terbuka kesempatan bagi dirinya untuk maju berkontestasi, maka dia pun akan menyiapkan diri sebaik-baiknya. Yang paling penting sekarang adalah terus berjuang, dan berbuat yang terbaik sesuai kemampuan.

Sementara itu, AHY mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari para petinggi parpol. Ucapan tersebut disampaikan saat AHY berada ruang tunggu Masjid Agung Sunda Kelapa usai salat Jumat. Di tempat itu ada Prabowo, Sandi, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Ketua Komisi Pemenangan Pemilu Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas, dan politikus PAN Amien Rais.

”Oh iya AHY ulang tahun ya,” kata Amien. Lantas ditimpali Prabowo yang juga memberikan ucapan selamat kepada AHY. Hampir semua orang lantas bernyanyi. Sedangkan AHY hanya terlihat tersenyum.

Pada rangkaian pendaftaran capres itu, AHY seolah mendapatkan tempat spesial. Dia beberapa kali diajak foto bersama Prabowo dan Sandi. AHY juga duduk di meja pendaftaran di sebelah kanan Prabowo. Di sebelah kiri Prabowo ada Sandi. Saat konferensi pers Sandi pun menyebut nama AHY yang sedang berulang tahun.

”Kami juga ingin mengucapkan selamat ulang tahun mas Agus. Mas Agus Yuhdhoyono hari ini (kemarin, Red) unik usianya 40 tahun. Life begin at forty,” ujar Sandi.

Sandi menuturkan dia dan Agus ingin berjuang bersama-sama dalam Pilpres. Tapi, untuk posisi di tim pemenangan Sandi masih belum mau menjelaskan panjang lebar. Dia menyebutkan masih dalam pembahasan dengan pimpinan partai koalisi. ”Kita sama-sama ingin berjuang bersama-sama mas Agus. Karena mas Agus ini potensi dan modal bangsa kedepan,” puji Sandi.

Pada saat pendaftaran kemarin, SBY juga tidak hadir. Yang terlihat hanya Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Pandjaitan, Ibas, dan Wakil Ketua Umum Syarifuddin Hasan.

Syarif menuturkan memang tidak ada keharusan bagi SBY untuk datang langsung ke KPU. Lantaran bisa diwakilkan kepada pengurus lainnya. saat pendaftaran kemarin, SBY sedang berada di rumahnya di Mega Kuningan, Jakarta Selatan. ”Ini kan organisasi kalau ketua umum nggak ada kan bisa wakil ketua umum,” ujar dia.

Dia pun menjelaskan keputusan untuk mendukung pasangan Prabowo-Sandi itu memang baru diputuskan pagi kemarin. Lantaran harus melewati majelis tinggi partai. ”Kita itu ada prosedur administrasi intern yang harus dilewati. Ya itu harus melalui majelis tinggi. Jadi kalau DPP sudah setuju dibawa ke majelis tinggi. di majelis tinggi dibahas,” ujar dia.

EE Mangindaan mengatakan, sebelum memutuskan mendukung Prabowo – Sandi, pihaknya melakukan survei internal dengan meminta pendapat pengurus DPP, DPD, dan anggota DPR serta DPRD.  Mereka dimintai pendapat siapa calon yang akan diusung dalam pemilu mendatang, apakah Jokowi atau Prabowo.

Walhasil, sebanyak 62 persen mendukung Prabowo, kemudian 38 persen menginginkan Jokowi. Berdasarkan survei internal dan sejumlah pertimbangan lain, majelis tinggi pun mendukung Prabowo.

“Sikap resmi tetap berkoalisi dengan Partai Gerindra serta partai pengusung lainnya,” tutur dia.

Ketua DPP PAN Yandri Susanto mengatakan, dukungan Partai Demokrat akan menguatkan partai koalisi pengusung Prabowo – Sandi. Menurut dia, dukungan partai berlambang bintang Mercy itu dilakukan secara tulus. Sebab, dia mendengarkan sendiri dari SBY. Sebelum pendaftaran dilakukan, dirinya datang ke rumah SBY dengan membawa kontrak koalisi.

“Pak SBY menyampaikan akan all out mendukung Prabowo – Sandi,” kata dia saat ditemui Jawa Pos usai mengantarkan Prabowo – Sandi mendaftar ke KPU.

Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari menilai keputusan SBY dan Demokrat yang mendukung Prabowo-Sandi merupakan jalan terakhir. Sebab, dengan sisa waktu yang ada, tidak cukup waktu bagi SBY untuk memutuskan dukungan kepada pasangan Jokowi-Ma’ruf.

“Tidak ada jalan lain, karena pendaftaran Jokowi pagi hari, mereka baru rapat pagi hari,” kata Qodari kepada Jawa Pos.

Qodari menilai, dukungan SBY itu disampaikan dalam kondisi yang tidak ideal, karena dua malam sebelumnya hubungan dengan Prabowo sempat renggang, terutama penolakan terhadap sosok Sandi. Namun, karena masalah waktu, SBY tidak punya pilihan kembali ke Prabowo, meski tidak sesuai dengan rencana politik jangka panjang Demokrat.

“Saya yakin (dukungan SBY) tidak maksimal. Karena, lebih baik yang menang Jokowi-Ma’ruf di 2019, supaya kontestasi di 2024 seimbang. Kalau Prabowo yang menang, bisa jadi Sandi yang maju di 2024, akan lebih membahayakan bagi AHY,” kata Qodari. (miq/Jawa Pos/JPG)