Dampak Video Game pada Kesehatan Mental Anak

Ilustrasi.NET

eQuator.co.id – Sebagian besar anak-anak suka bermain video game. Memang, lewat hal tersebut anak bisa belajar keterampilan tertentu dan mengetahui sesuatu yang baru. Namun di sisi lain, tahukah Anda bahwa anak yang sering bermain video game juga dikaitkan dengan kesehatan mental yang terganggu?

Faktanya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan bermain video game sebagai sebuah kegiatan yang berpotensi mengganggu kesehatan mental.

Meski kasusnya jarang, yakni hanya sekitar 3 persen, WHO tetap meminta keluarga untuk terus waspada serta mengidentifikasi tanda dan gejala apabila si Kecil mengalami gangguan kesehatan mental akibat sering bermain video game.

Adapun beberapa alasan yang mendasari mengapa video game dapat menyebabkan kesehatan mental anak terganggu, yaitu:

Pertama, kehilangan masa anak-anak. Semakin tinggi perasaan cinta anak Anda kepada video game, semakin tidak peduli pula ia terhadap hal-hal lain yang terjadi di sekitarnya. Lebih buruk dari itu, si Kecil juga akan menunda melakukan hal-hal penting, melewatkan acara dan melupakan momen khusus dengan teman ataupun keluarganya. Ia pun akan kehilangan masa-masa sosialisasi dan bermain bersama teman-teman sebayanya.

Kedua, perubahan cara melihat sesuatu. Sebagian besar video game mengandung unsur kekerasan dan kompetisi. Tanpa dampingan orang tua, hal tersebut dapat membuat anak memiliki pikiran yang buruk dan negatif. Bila dibiarkan berlanjut, bukan tak mungkin anak Anda akan bertingkah seperti karakter dalam video game yang ia mainkan.

Ketiga, tidak belajar lebih banyak. Tidak setiap video game mampu memberikan pejalaran akan suatu hal yang bermanfaat. Beberapa jenis video game bahkan bisa membuat anak ketagihan, sehingga yang ada dipikiran si Kecil hanyalah konten dari game tersebut. Hal seperti itu bisa menyebabkan sebuah kemunduran pada pola pikirnya, bukan?

Kempat, pikiran tidak tenang. Seperti telah disinggung sebelumnya, sebagian konten yang ada di dalam video game bisa “tersangkut” di otak anak sehingga ia akan memikirkannya terus-menerus. Jika si Kecil juga tak kenal waktu kala bermain video game, dirinya tidak akan bisa beristirahat dengan optimal di malam hari. Karena pikiran dan tubuhnya tidak mendapatkan istirahat yang dibutuhkan, si Kecil akan mengalami kelelahan pada hari berikutnya. Ia pun menjadi tidak dapat fokus dengan baik saat mengikuti pelajaran di sekolah, sehingga nilainya cenderung mengalami penurunan.

Dari fakta ini, Anda sebaiknya bersikap waspada dan segera ambil tindakan. Jangan biarkan video game mengganggu kesehatan mental dan menghancurkan masa depan anak secara diam-diam. Berikan batasan dan atur jadwal harian si Kecil sedemikian rupa, agar ia tahu kapan saatnya belajar, bermain, atau tidur. (jpnn)