Cinta Ditolak Ulekan Bertindak

Misteri di Balik Mayat dalam Septic Tank

109
DITEMBAK. Luluk Anggar Irawan mendapat pertolongan medis RS Anton Soedjarwo Bhayangkara Pontianak, Selasa (3/4) siang. Dia ditembak anggota Jatanras karena berusaha melawan saat pengembangan kasus pembunuhan yang dilakukannya. Ocsya Ade CP-RK
DITEMBAK. Luluk Anggar Irawan mendapat pertolongan medis RS Anton Soedjarwo Bhayangkara Pontianak, Selasa (3/4) siang. Dia ditembak anggota Jatanras karena berusaha melawan saat pengembangan kasus pembunuhan yang dilakukannya. Ocsya Ade CP-RK

eQuator.co.idPontianak-RK. Misteri penemuan mayat Suprihatin dalam septic tank Warung Makan Rojo Koyo, di Jalan Mayor Alianyang, kawasan Jembatan Kapuas II Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya terungkap. Korban memang dibunuh rekan kerjanya, Luluk Anggar Irawan.

Sebelumnya, korban hilang sejak Sabtu (24/3). Supriatin kemudian ditemukan tak bernyawa pada Rabu (28/3) sekira pukul 07.30 WIB. Pelaku membunuh korban lantaran dilandasi sakit hati. Pasalnya, korban yang kerap marah dan menolak cintanya. “Aku khilaf, kayak ada yang bisikin,” kilah Luluk sambil merintih kesakitan ketika peluru yang bersarang di betis kanannya dikeluarkan tim medis RS Anton Soedjarwo Bhayangkara Pontianak, Selasa (3/4) siang.

Pria kelahiran Bojonegoro, 31 Desember 1996 ini ditangkap tim Jatanras Satreskrim Polresta Pontianak di rumah kakak kandungnya di Kelurahan Sugihwaras, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Senin (2/4) sekira pukul 22.20 WIB. Dikawal Kanit Jatanras Polresta Pontianak, Iptu Jatmiko beserta anggotanya, Luluk diterbangkan ke Pontianak, Selasa (3/4). Setelah mendarat di Bandara Internasional Supadio Kubu Raya sekira pukul 07.30 WIB, Luluk langsung digelandang ke lokasi pembunuhan untuk melakukan pengembangan.

Namun, lelaki berbadan tinggi dan kurus ini berusaha kabur dan melawan. Tembakan peringatan pun tak dihiraukan. Terpaksa dia dilumpuhkan dengan tembakan pada betis kanannya. Kemudian, dia dilarikan ke RS Bhayangkara.

Saat ditanya awak koran ini, Luluk mengaku jengkel dengan korban yang lebih tua 15 tahun darinya itu. “Aku jengkel sama dia. Sering marahi aku juga gara-gara nyalakan lampu. Marahnya kayak mau mukul. Aku juga pernah diguyur banyu (air) saat tidur. Terus aku diam saja,” tuturnya.

Luluk merupakan rekan kerja korban. Terhitung 28 Maret, dia baru bekerja sebulan di tempat usaha yang khusus menjual makanan sate milik keluarga korban, warga Boyolali. Pada Jumat 23 Maret, menjelang pergantian hari, emosi Luluk tiba-tiba memuncak. “Lama-lama aku dimarahi, jadi jengkel aku Pak. Aku pukul leher dia dari belakang pakai ulekan batu,” kisahnya.

Kala itu, hari sudah berganti Sabtu. Korban yang dipukul kemudian tumbang dan tak sadarkan diri. “Dia jatuh dan tergeletak. Terus aku diem sampai berapa jam, dia nggak bangun-bangun,” ceritanya.

Karena takut, Luluk kemudian menyeret tubuh korban yang tak berdaya itu untuk dimasukkan ke dalam tangki septik yang dalam keadaan penuh. Lalu, tangki septik ditutup rapat dan tubuh korban tidak tampak. “Aku seret dia,” ucapnya.

Hari semakin Subuh, Luluk kemudian berencana melarikan diri. Sebelum itu, dia mengambil perhiasan, puluhan bungkus rokok, sejumlah uang, dua handphone (HP) jenis Samsung dan Oppo serta sepeda motor yang ada dalam warung makan itu. Sepeda motor yang dicurinya kemudian dijual ke seseorang dengan bantuan temannya. Penawaran motor jenis matik bernopol AD 6371 RM tersebut dilakukan melalui grup jual beli di facebook (FB).

Akhirnya, motor itu laku dibeli Sudirman, warga Kecamatan Teluk Pakedai seharga Rp3,2 juta. Transaksi berlangsung di depan Alfamart tak jauh dari Mako Brimob Polda Kalbar. “Uang itu aku gunakan untuk beli tiket pesawat pulang ke Surabaya,” tutur Luluk.

Sedangkan barang bukti lainnya dijual di Surabaya. Selama pelariannya, Luluk mengaku selalu dihantui korban. “Aku dihantui, mimpiin dia terus,” tuturnya lagi.

Sebelumnya, rekan kerja korban Muryati dan tetangga sebelah warung Lestari mengatakan bahwa Luluk genit. Kerap mengganggu korban dan perempuan yang ada di sekitarnya. Namun hal itu dibantah Luluk. “Tidak, aku cuma pernah kesenggol dia saja,” kilahnya.

Saat ini, Luluk masih menjalani pemeriksaan secara mendalam di Polresta Pontianak setelah kasus yang awalnya ditangani Polsek Sungai Raya ini dilimpahkan.

Wakil Kepala Satreskrim Polresta Pontianak, AKP Efadhoni Lilik Pamungkas menerangkan, setelah melakukan serangkaian penyelidikan dari keterangan saksi-saksi yang ada, anggota Jatanras mendapati informasi bahwa Luluk yang tadinya diduga berada di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Tim Jatanras kemudian melakukan koordinasi dengan anggota Polres Lamongan guna memastikan posisi keberadaan Luluk.

“Setelah pasti keberadaannya, Kasat Reskrim memerintahkan Kanit Jatanras dan anggotanya untuk berangkat Lamongan untuk melakukan penangkapan terhadap pelaku,” jelas Dhoni, sapaan Wakasat Reskrim saat ditemui di ruangan Jatanras.

Mantan pasukan perdamaian PBB di Darfur, Sudan ini menambahkan, Luluk ditangkap di rumah kakak kandungnya di Kelurahan Sugihwaras, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan, Senin (2/4) sekira pukul 22.20 WIB.

“Hasil pemeriksaan, pelaku mengakui perbuatannya. Motifnya, percintaan. Pelaku sakit hati ketika cintanya ditolak oleh korban. Lalu, korban dipukul menggunakan cobek (ulekan). Kemudian dimasukkan ke dalam septic tank. Tak berapa lama dalam septic tank, korban baru meninggal dunia,” terang Dhoni.

Ia menegaskan, Luluk dijerat Pasal 338 juncto Pasal 365 KUHP dengan ancaman penjara paling lama 15 tahun atau seumur hidup. Sementara Sudirman, pelaku yang membeli motor korban sudah ditangkap Polsek Sungai Raya di Hotel Kapuas Palace, Jalan Budi Karya, Pontianak Selatan, Kamis (29/3) pukul 11.00 WIB. Penadah motor hasil kejahatan ini dijerat Pasal 480 KUHP dengan ancaman penjara paling lama empat tahun.

 

Laporan: Ocsya Ade CP

Editor: Arman Hairiadi