Cari Solusi Atasi Anjlok Harga Karet

20
KUNKER. Airlangga Hartarto (bermasker) melakukan kunjungan kerja di PT. New Kalbar Processors melihat proses pengolahan karet, Sabtu (17/11). Bangun Subekti-RK

eQuator.co.idPontianak-RK. Harga karet anjlok terjadi sejak tahun 2011. Pemerintah Indonesia sedang mencari jalan keluar untuk meningkatkan demand komoditas karet.

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan, untuk meningkatkan permintaan karet, pemerintah telah memberikan investasi untuk membuat percobaan dengan mencampurkannya bersama aspal. Dia juga menginstruksikan kepada asosiasi untuk segera difinalisasikan persiapannya. “Kemudian yang kedua yaitu mendorong untuk replanting (penanaman kembali) melalui pajak ekspor,” jelasnya saat melakukan kunjungan kerja di PT. New Kalbar Processors, Pontianak, Sabtu (17/11).

Bila industrinya siap, maka pemerintah akan menarik pajak ekspor tersebut. Seperti perkebunan sawit yang diambil pajak ekspornya untuk BPDP. Maka hasil pajak tersebut digunakan untuk replanting pada kebun-kebun rakyat. Masalahnya produktivitas karet Indonesia masih tergolong rendah dibanding beberapa negara, karena tidak melakukan replanting akibat tekanan harga. “Oleh karena itu akan dibuat cross subsidi untuk ekspor dan replanting,” ucapnya.

Mengenai industri crumb rubber, Airlangga mengatakan bahwa investasi pada sektor tersebut ada yang masih nol. Akan dikaji ulang, mengapa bisa mendapatkan nilai nol. “Ada review khusus untuk UMKM, ada yang kita buka dan ada yang melibatkan asing terbatas sekitar 49 persen,” kata Airlangga.

Dahulu kata dia, pemerintah menggunakan terminologi kemitraan, namun hasil akhirnya tidak jelas. Makanya, semua yang menggunakan sistem kemitraan diangkat. Sekarang semua diperjelas peruntukannya. “Misal batik kami serahkan kepada UMKM,” jelasnya.

Kemudian yang terbuka misalnya pengolahan susu. Karena pabrik-pabriknya telah terintegrasi dengan besar. “Untuk crumb rubber ini sudah ada investor yang berminat untuk mengisi kekosongan tersebut,” katanya.

Dia mengungkapkan, bahwa industri ban karet terus melakukan ekspansi. Lantaran turunnya harga crumb rubber, maka produksi ban menjadi terbatas. Untuk synthetic rubber, pabriknya pun tetap berekspansi. “Sehingga ada ketidakcocokan dalam hal ini. Untuk ketersediaan bahan baku, sudah ada 60 persen,” paparnya. Usai dari PT. New Kalbar Processors, Airlangga berkunjung ke Gerai IKM Dayang Songket. Menurutnya, industri tradisonal berupa songket telah mencapai hasil yang memuaskan. “Industri seperti ini perlu untuk ditingkatkan lagi,” ucapnya.

Ia mengaku telah mendengar penjelasan Wakil Gubernur Kalbar Ria Norsan, bahwa produk-produk kain tersebut telah dijual dengan sistem online. Dengan akses ini, penjualan akan semakin besar. “Kementerian Perindustrian juga memiliki e-smart yang terkoneksi dengan e-commerce,” jelasnya.

Airlangga berharap ini dapat memacu produksi industri sejenis. Mengingat industri kain tradisional memiliki prospek cukup besar.

“Industri ini telah menampilkan ciri khas Kalbar,” pungkas Airlangga.

 

Laporan: Bangun Subekti

Editor: Arman Hairiadi