Berkah Musim Kering di Hulu

SPOT. DAS Kapuas di Desa Siawan Kecamatan Bunut Hilir ini menjadi salah satu lokasi masyarakat setempat mencari ikan, Jumat (15/7). ANDREAS-RK

eQuator.co.id – Kekeringan yang mulai melanda hampir semua daerah di Kabupaten Kapuas Hulu sekitar sebulan terakhir ini ternyata membawa berkah tersendiri bagi masyarakat. Terutama yang berada di pesisir DAS (Daerah Aliran Sungai) Kapuas dan danau.

Meski tak menepikan kesulitan air yang mulai terjadi, menyempitnya aliran sungai dan danau mempermudah masyarakat menangkap ikan. Bahkan, seorang nelayan di Danau Kenelang kawasan  Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS), Desa Nanga Tawang, Kecamatan Suhaid, Anoi mengaku kewalahan.

“Kalau sudah musim kemarau seperti sekarang, memang anugerah bagi para nelayan. Jumlah tangkapan ikan meningkat dari hari biasanya. Biasanya sampan kami penuh ikan,” ungkap Anoi, Jumat (15/7). Kewalahan yang dia maksud karena saking banyaknya ikan —belakangan mencapai ratusan kilogram perharinya— yang harus diolah menjadi ikan asin atau salai.

Di sisi lain, nelayan Danau Sunjung, Desa Bunut Hilir, Kecamatan Bunut Hilir, Diki menyatakan akibat melimpahnya hasil tangkapan, harga pasaran ikan menurun. Ikan biawan kasar dari Rp25 ribu per kilogram turun menjadi Rp20 ribu, ikan gabus dari Rp25 ribu turun ke Rp22 ribu perkilogramnnya, dan ikan lais dari Rp15 ribu menjadi Rp12 ribu perkilogram. Begitu juga dengan daging ikan untuk olahan kerupuk basah dan kering dari Rp28 ribu turun menjadi Rp17 ribu perkilogram.

“Saat ini hanya ikan konsumsi yang sudah langka saja tidak turun harganya, seperti ikan Seladang Rp40 ribu perkilogram dan Ikan Belidak Rp80 ribu perkilogramnnya,” papar Diki.

Beruntung, pangsa pasar ikan masih sangat menjanjikan. Baik di dalam maupun luar daerah Kapuas Hulu. “Kalau biasanya saya subuh-subuh menoreh getah, pagi hari mencari ikan. Kalau musim kemarau ini saya fokus cari ikan,” ucapnya.

Menurut dia, biasanya hasil tangkapan ikan hanya 2 kilogram per hari. Saat air surut karena jarang hujan sekarang ini meningkat menjadi 50 hingga 100 kilogram perhari. “Kami menangkap ikan menggunakan cara tradisional. Pakai pukat, jala, bubu mini, rabai, pancing, dan cara lainnya,” tukas Diki.

Dikatakannya, khusus di Kecamatan Bunut Hilir, daerah penghasil ikan terbesar adalah Desa Empangau, Teluk Aur, Siawan, Bunut Hulu, dan Bunut Hilir. “Rata-rata untuk daerah penghasil ikan terbanyak yang memiliki danau, karena jumlah ikan paling banyak berada di danau,” jelasnya. Ikan hasil tangkapan para nelayan danau tersebut dipasarkan ke Putussibau melalui transportasi sungai speedboat dengan ongkos kirim satu kilogram ikan Rp2000. (*)

Andreas, Putussibau

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!