Berharap Gasing Kalahkan Angry Bird

197
NGAT MASA KECIL. Walikota Pontianak, Sutarmidji, terlihat asik mencoba permainan gasing di atas telapak tangannya di Museum Negeri Pontianak, Selasa (1/12). GUSNADI -RK

eQuator – Ditelan zaman, permainan tradisional Indonesia seakan tidak ditoleh lagi. Kalah dengan game di Android semacam Angry Bird, maupun yang online seperti Clash of Clan (CoC) dan Point Blank. Padahal, banyak pesan moral dan pembelajaran yang terkandung di dalam sejumlah dolanan. Terpenting, permainan tradisional murah meriah, tidak perlu mengeluarkan ratusan ribu rupiah untuk membeli voucher game online.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), melalui Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Kacung Marijan menggelar Pameran Permainan Tradisional Nusantara di Museum Negeri Pontianak, Selasa (1/12). Tuan rumah, Walikota Sutarmidji pun menyambut baik perhelatan tersebut.

Sepengetahuan pria pemilik akun Twitter @BangMidji itu, sudah ada buku yang mengupas tentang permainan tradisional. Namun, belum ada buku yang menyajikan filosofi dari permainan tradisional yang ada di nusantara.

“Semuanya harus ditulis secara lengkap sehingga lebih mudah orang memahaminya dan mengimplementasikannya. Ada pembelajaran yang bisa dipetik melalui permainan tradisional,” ungkap Midji kepada sejumlah wartawan, di Museum Negeri Pontianak, Selasa (1/12).

Sebelumnya, Dirjen Kebudayaan Kacung Marijan menyatakan, kunjungannya ke Kota Pontianak kali ini guna memberikan wawasan terkait permainan tradisional yang terkandung kearifan lokal di dalamnya. Contohnya simpel, petak umpet, gasing, gala kepung, dan tembak-tembakan.

“Permainan itu membawa alam pikir anak berimajinasi positif. Hanya anak yang punya imajinasi punya energi besar mengejar cita-citanya,” ujar Kacung.

Namun, lanjutnya, imajinasi belumlah cukup tanpa diiringi kreativitas. Kacung mengatakan, tidak sedikit hasil ciptaan seseorang yang berawal dari imajinasi seperti permainan enggrang yang ingin berjalan tanpa kaki.

“Hanya bangsa yang punya imajinasi dan kreativitaslah akhirnya menjadi bangsa yang besar,” papar dia.

Agar permainan tradisional tidak ditelan zaman dengan gencarnya serbuan mainan modern di lingkungan masyarakat, perlu pelestarian dari guru, orangtua, dan pemerintah. “Kita buka ruang lebar-lebar, anak-anak mau bercerita, silakan bercerita. Anak-anak mau membangun kreativitas apapun kita beri kesempatan supaya mereka tumbuh menjadi generasi yang jauh lebih baik dari kita,” harap Kacung.

Pihaknya berharap ada terobosan berupa perlombaan yang dikemas semenarik mungkin. Baik itu menciptakan mainan lama maupun baru maupun bersaing dalam jalannya perlombaan-perlombaan.

“Dari bahan-bahan alam sekitar. Basisnya adalah bahan-bahan dari lingkungan masyarakat. Mungkin kalau permainan dalam bentuk game-game komputer sudah banyak sekarang, tapi kita juga perlu menbuat permainan tradisional dengan perlengkapan seadanya seperti kayu pohon pisang dan lain-lain,” tutupnya.

Hal itu diamini Walikota Sutarmidji. Ia sepakat dengan wacana dari Kemendikbud. “Dalam setiap permainan tradisional itu selalu membawa alam pikir anak ke arah hal-hal yang membuat mereka lebih disiplin, lebih kreatif, menumbuhkembangkan kemampuannya berinovasi,” demikian Bang Midji, yang sempat mencoba beragam permainan tradisional.

Laporan: Gusnadi

Editor: Mohamad iQbaL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here