Bawa Samurai dan Bom Kamuflase

4 Teroris Tewas, Seorang Polisi Terbunuh, 2 Wartawan Luka-luka

40
PERIKSA MOBIL. Tim Jibom Gegana Brimob Polda Riau memeriksa Avanza yang digunakan para terduga teroris yang berupaya menyerang Markas Polda Riau, Rabu (16/5). Defizal
PERIKSA MOBIL. Tim Jibom Gegana Brimob Polda Riau memeriksa Avanza yang digunakan para terduga teroris yang berupaya menyerang Markas Polda Riau, Rabu (16/5). Defizal

eQuator.co.idRiau-RK. Teror menyebar ke luar Jawa. Kali ini menyambangi Riau. Ajaibnya, pelaku teror berani menyerang markas Polda. Anehnya, hanya membawa samurai dan bom kamuflase.

Rabu (16/5), sekitar pukul 09.00 WIB, tiba-tiba terdengar suara tembakan senjata api dari arah Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Riau. Teriakan ketakutan terdengar lantang. Semua pengendara yang berada di Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Gajah Mada, langsung panik.

Personel kepolisian berlarian keluar dari Mapolda lewat gerbang arah Jalan Gajah Mada. Semua pengendara diminta untuk meninggalkan jalan itu. Di bagian dalam, suara tembakan masih terdengar. Suasana begitu mencekam.

Ternyata, Mapolda Riau diserang sekelompok terduga teroris pagi itu. Kebetulan, pagi itu direncakan ekspos pengungkapan tangkapan 41 kg sabu dan puluhan ribu pil ekstasi di halaman mapolda itu. Sehingga banyak wartawan yang hadir.

Tapi, belum sempat ekspos itu digelar, kondisi Mapolda langsung buncah. Kondisi ini ketika satu mobil Toyota Avanza berwarna putih, dengan nomor polisi BM 1192 RQ, menerobos masuk ke Mapolda Riau. Kejadian ini sekitar pukul 09.00 WIB.

Mobil ini masuk dari gerbang Jalan Sudirman. Sebenarnya, pengamanan di Mapolda Riau begitu ketat. Gerbang selalu ditutup. Tapi mobil terduga teroris ini bisa masuk, karena mengikuti mobil salah seorang anggota kepolisian di depannya. Sehingga, belum sempat menutup pagar kembali, mobil terduga teroris menerobos masuk.

Terdengar juga suara benturan. Mobil itu menabrak sepeda motor yang berada di sekitar pagar itu.

Sekitar 10 meter dari pagar itu, keluar dari mobil dua orang terduga teroris, yakni AS (23) dan seorang lagi tidak diketahui identitasnya. Pelaku AS, menyerang beberapa orang polisi dengan samurai. Dia langsung ditembak oleh polisi dan tewas 10 meter dari gerbang masuk, yakni depan SPKT.

Satu orang lagi yang belum diketahui identitasnya, menyerang polisi dengan samurai, dan lari ke dalam gedung Mapolda. Saat ini masih dalam pencarian.

Mobil terus berjalan, dan tepat di depan loby Mapolda, turun satu pelaku lagi, yakni PG. Di sana, langsung ditembak oleh polisi. PG tewas di depan loby itu.

Mobil berjalan ke arah gerbang keluar Jalan Gajah Mada. Sebelum keluar, turun dua lagi, yakni SU dan MR. Di dekat pos penjagaan itu, mereka berdua ditembak mati.

Mobil terus mengarah keluar dan menabrak beberapa orang. Antara lain, satu orang personel Polda Riau Iptu Auzar dan dua orang wartawan, yakni Rian Rahman (TV One), Rahmadi (MNC TV).

IPTU Auzar dan dua orang wartawan itu langsung dilarikan ke RS Bhayangkara. Di rumah sakit, IPTU Auzar meninggal dunia. Rahmadi mengalami luka memar di punggung, kaki, dan lehernya. Sedangkan Rian pipi dan kakinya luka.

Setelah sampai di Jalan Gajah Mada, mobil sempat berbelok dan hendak masuk ke dalam. Namun mobil menabrak trotoar. Sopir dalam mobil itu, melarikan diri. Saat ini masih dalam pengejaran dan tak diketahui identitasnya.

Keempat pelaku yang tewas yakni PG (23) yang merupakan warga Jalan Perjuangan Gang Permai, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai. Kedua, AS (23) yang merupakan mahasiswa, dan beralamat  di Jalan Pendowo, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai. Ketiga, SU (29), warga Jalan Lubuk Gaung, Kecamatan Sei Sembilan, Kota Dumai. Keempat, MR (48) yang berprofesi sebagai buruh harian lepas dan beralamat di Jalan Bangun Sari, Dumai Timur, Kota Dumai.

Aksi teror tersebut berlangsung hanya sekitar 10 menit. Dari jarak 100 meter, terdengar belasan letusan senjata api. Mobil ambulan beberapa kali keluar dari Mapolda Riau. Jalan Gajah Mada dan Jalan Jendral Sudirman, disterilkan. Warga tidak boleh melintas. Begitu juga wartawan, tidak boleh memasuki lokasi tersebut.

Dua jam setelah dilakukan sterilisasi, barulah wartawan diperbolehkan masuk. Namun, pemeriksaan begitu ketat. Setiap wartawan, diperiksa identitasnya dan barang-barang bawaannya.

Saat sampai di Mapolda, Kabid Humas Polda Riau, AKBP Sunarto langsung menggelar jumpa pers. Saat itu, dia menyebut bahwa selain empat orang terduga teroris yang tewas, ada satu orang anggota Polda Riau yang gugur, yakni IPTU Auzar.

Dia juga menyampaikan bahwa ada dua orang anggota polisi lainnya yang terluka. “Brigadir John Hendrik anggota Propam luka di ibu jari kanannya terkena ayunan samurai. Kemudian Kompol Farid Abdullah Anggota Bidkum luka di belakang kepala,” ujar Sunarto.

“Ada juga dua rekan media yang terluka karena ditabrak dari TV One atas nama Rian luka lecet di pipi dan kaki dan rekan Mahdi dari MNC luka sakit di pinggang dan anggota kita dua orang sementara dilakukan perawatan di RS Bhayangkara,” sambungnya.

Pada petangnya, Kabid Humas Polda Riau, AKBP Sunarto kembali menggelar jumpa pers. Saat itu, dia masih menyampaikan hal yang sama dengan jumpa pers pada pagi.

“Mobil itu menerobos masuk pagar penjagaan. Kemudian melukai dua anggota kami, pertama Brigadir John Hendrik anggota Propam Riau luka senjam di ibu jari tangan kanan. Kedua, Kompol Farid Abdullah luka benda tajam di belakang kepala. Dirawat di RS Bhayangkara,” ujarnya.

Dia menyebut, Iptu Auzar yang gugur karena ditabrak mobil terduga teroris, telah dimakamkan. Katanya, pihak kepolisian telah melakukan pemeriksaan terhadap barang bukti dan identifikasi pelaku. Dari hasil pemeriksaan oleh tim penjinak bom, ditemukan kamuflase bom. Tapi bukan bom. Semacam rangkaian kabel-kabel.

“Bahwa pada diri salah satu pelaku memang didapat rangkaian kabel dan rangkaian elektronik namun dipastikan itu bukan peledak. Hanya semacam kamuflase dan kotak ternyata kosong,” tukas Sunarto.

Pada kendaraan yang digunakan pelaku ini, juga tidak ditemukan bahan membahayakan. “Para pelaku mayatnya sudah dilakukan pemeriksaan identifikasi oleh tim inafis dan biddokkes dan berhasil diidentifikasi,” ucapnya.

Sunarto juga menyebut, diamankan beberapa barang bukti. Di lokasi tewasnya korban pertama, yakni di depan ruang SPKT, ditemukan satu bundel rakitan rangkaian kabel kamuflase. Ada juga satu sangkur bertuliskan mariam, satu samurai, satu bendera hitam, satu buah sebo loreng, satu celana, satu pisau lipat, satu buah pelindung lutut, sepasang sepatu warna hitam merek caterpillar, satu ikat kepala hitam, sepasang kaos kaki loreng dan kabel merah.

Di lokasi tewasnya mayat pelaku kedua, tepatnya di lobi gedung Mapolda, diamankan satu bilah samurai, satu sebo loreng, sepasang sepatu caterpilar hitam dan sepasang kaos kaki loreng.

Kemudian, lokasi tewasnya pelaku ketiga, tepatnya di depan pos penjagaan pintu keluar, diamankan satu badik kecil, satu samurai, sepasang sepatu caterpilar, sebo loreng, satu ikat kepala hitam, dan sepasang kaos kaki loreng.

Di lokasi tewasnya pelaku keempat, tepatnya di pagar keluar, diamankan sepasang sepatu caterpilar, satu samurai, satu sebo loreng, dan satu ikat kepala hitam.

Dari mobil yang dibawa pelaku kata Sunarto, didapat sebuah jaket warna biru, satu jaket hitam adidas. Ditemukan juga satu kabel merah, kotak P3K, dua sebo hitam, satu dompet loreng krem berisi uang Rp170 ribu, kunci mobil Avanza STNK atas nama Zarul Rukmi.

“Ditemukan juga satu jam tangan Cassio, satu papan nama Okratima Rukmana, simcard Telkomsel, satu handgrip, satu sarung tangan hitam, satu sepatu kiri Nike dan sepatu kanan Adidas,” ujarnya.

Saat ditanya berapa orang yang ikut terlibat dalam serangan teror ini, Sunarto belum bisa memastikannya. “Belum bisa dipastikan berapa jumlah orang di dalam mobil. Tadi disampaikan melarikan diri sementara kita kejar,” terangnya.

Terkait dengan diamankannya seorang terduga teroris yang diamankan di Polresta Pekanbaru, dia juga belum memastikan bahwa orang tersebut terlibat dalam aksi teror itu. “Nanti kami sampaikan hasil pemeriksaan,” janji dia.

Dia juga menyebut, bahwa ada sepucuk surat yang ditemukan pada pelaku teror yang tewas ditembak. “Betul, ada satu lembar surat. Satu lembar kertas ditulis tangan. Penyidik nanti ya (pemeriksaanya),” jelas Sunarto.

SURAT TERSEBUT BERISI:

Amma Badu,

Wahai orang-orang yang beriman mengapa apabila dikatakan kepada kamu berangkatlah untuk berperang dijalan Allah kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu entah kamu menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan) kehidupan di akhirat hanyalah sedikit.

Jika kamu tidak berangkat untuk berperang niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain dan kamu tidak akan merugikannya sedikitpun dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu (At Taubah 38 39).

Dan untuk kamu para tougut dan anshornya “wahai orang-orang kafir mamu pasti akan dikalahkan dan digiring kedalam neraka jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal” (surat An Naam ayat 12).

Sungguh kami akan terus memerangi kalian walaupun salah satu dari kami akan terbunuh, itu adalah hal kecil bagi kami demi tegaknya ajaran Allah di muka bumi ini. Karena kami tidak ridho diatur oleh aturan kafir yang kalian ada-adakan dan sungguh kami akan terus berperang hingga diri ini semata-mata hanya untuk Allah dan hanya Allah saja yang ada di ibadahku. Walhamdulillahirabilalamin. (Riau Pos/JPG)