Adu Pamor Tiga Ajang Besar di 2022

Hujan Iringi Upacara Penutupan Asian Games

PENUTUPAN. Suasana penutupan Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (2/9). Dipta Wahyu/Jawa Pos

eQuator.co.id – JAKARTA –RK. Seremoni penutupan Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) tadi malam berselimut hujan, Mingu (2/89. Sejak sore cuaca memang sudah mendung, namun itu tidak menyurutkan asa rakyat Indonesia untuk tetap menjadi saksi sejarah setelah 56 tahun lamanya tidak menjadi tuan rumah. Mereka tetap memadati tribun, sekalipun hujan tidak berhenti mengguyur dari langit.

Sebagai pembuka ada penampilan dari drum band gabungan Akademi TNI dan Corps Cendrawasih Akademi Kepolisian. Menyusul kemudian kehadiran Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla bersama dengan Presiden Dewan Olimpiade Asia Sheikh Ahmad Al Fahad Al Sabah. Sementara Presiden RI Joko Widodo tidak dapat menghadiri acara, sebab sedang melakukan kunjungan ke daerah yang baru saja terkena bencana alam gempa bumi di Lombok.

Selanjutnya ada parade bendera tiap negara peserta Asian Games 2018. Pembawa bendera diwakili oleh atlet-atlet terbaik tiap negera, seperti bendera Merah Putih yang dibawa oleh pesilat Hanifan Yudani. Sementara Rikako Ikee yang meraih gelar sebagai most valuable player (MVP) terpilih menjadi pembawa bendera Jepang.

Menyusul kemudian defile atlet yang diawali dengan kontingen dari Indonesia yang disambut meriah penonton. Uniknya para relawan yang sudah membantu terlaksananya pesta olahraga se-Asia turut menutup barisan parade.

Walau tak dapat hadir dalam seremoni penutupan, tetapi Jokowi tetap hadir dan memberi sambutan melalui sambungan video langsung dari Nusa Tenggara Barat. “Asian Games 2018 memang berakhir di sini. Tetapi Energi of Asia, Semangat Asia tidak terlupakan. Inilah Energi Asia yang sesungguhnya. Bersatu membawa kebaikan bagi semua,” ujar Jokowi.

Jusuf Kalla pun turut memberi sambutan singkat. “Ini pesta untuk anda. Terima kasih sudah menampilkan pertandingan yang luar biasa. Anda semua adalah pahlawan Asia,” katanya.

Acara dilanjut dengan penyerahan bendera Asian Games pertama dari New Delhi ke Hangzhou yang akan menjadi tuan rumah selanjutnya.

Tidak ada panggung megah seperti pada upacara pembukaan 18 Agustus lalu. Tidak ada pula gunung berapi sebagai latar belakang. Hanya panggung bulat tanpa ornamen berlebih.

Tapi itu tidak mengurangi gebyar kemeriahan seremoni penutupan yang dikonsep layaknya konser. Beberapa penyanyi ternama Indonesia seperti Isyana Sarasvati, Bunga Citra Lestari, hingga band Gigi. Ada pula penampilan dari boyband iKon yang menggemparkan panggung tadi malam.

Permainan lampu membuat setiap peforma terasa spesial. Ditambah nyala kembang api di atas langit-langit SUGBK seolah tidak ada hentinya.

Peforma boyband Super Junior sontak mendapat sorakan yang begitu membahana dari penonton. Maklum, boyband satu ini jadi idola para K-popers. Mereka berlomba-lomba mengabadikan momen boyband satu ini dengan ponsel masing-masing.

Seremoni ditutup dengan lagu ofisial Asian Games 2018 yang berjudul Bright As The Sun dan Meraih Bintang.

Upacara penutupan Asian Games 2018 tadi malam, memang menjadi akhir dari pelaksanaan pesta olahraga se-Asia yang diadakan di Jakarta-Palembang. Tapi bukan berarti cerita berhenti sampai di sana. Masih ada Asian Games selanjutnya.

Terdekat pada 2022 Hangzhou, Tiongkok mengajukan diri menjadi tuan rumah Asian Games. Kota ini akan menjadi kota ketiga di Tiongkok yang didaulat jadi tempat terselenggaranya Asian Games, setelah Beijing 1990 dan Guangzhou 2010.

Tapi tentunya Asian Games diempat tahun yang akan datang menjadi tantangan tersendiri. Sebab di 2022 nanti Asia akan menjadi tuan rumah bagi tiga event besar sekaligus. Yaitu Olimpiade Musim Dingin yang rencananya diadakan Februari di Beijing, menyusul Asian Games di pertengahan tahun, tepatnya September, dan terakhir Piala Dunia FIFA di Qatar pada November.

Diapit dua event olahraga yang selalu menyita perhatian dunia, tentu jadi tantangan bagi penyelenggara Asian Games selanjutnya untuk mempertahankan euforia sebagai pesta olahraga terbesar se-Asia. Pertanyaannya mampukah Hangzhou menjawab kekhawatiran itu? Atau justru sebaliknya Hangzhou mampu menjaga nyala obor Asian Games ditengah-tengah dua event besar dunia di Asia itu?

Direktur Jendral dan Teknik Dewan Olimpiade Asia (OCA) Husain Al Mussalam tidak memungkiri 2022 akan jadi tantangan besar untuk membuat Asian Games tidak tenggelam diantara dua event besar.

“Kami harus punya ide agar Asian Games nanti unik dengan menerapkan high technology,” kata Husain.

Menurutnya sangat penting untuk menyelenggarakan Asian Games sesuai dengan perkembangan zaman dan apa yang sedang tren di kalangan anak muda saat itu. Ia mencontohkan e-sport yang pada edisi 2018 ini masih ekshibisi, tapi banyak negara yang mengikuti pertandingan ini. Banyaknya peserta yang mengikuti e-sport menunjukkan kesuksesan penyelenggara menarik minat anak muda. Hal seperti itu nanti yang akan dilakukan untuk menyukseskan Asian Games 2022. (Jawa Pos/JPG)