2018, Beli BBM di Pontianak Harus Pakai Uang Elekronik

531
TUNJUKKAN KARTU FLAZZ. Salah satu tamu undangan kick off SPBU Cashless menunjukkan kartu Flazz di Hotel Grand Tulip, Pontianak, Rabu (5/7) siang. Ocsya Ade CP

eQuator.co.id – Pemerintah tak bosan-bosannya menggenjot masyarakat untuk bertransaksi tanpa lembaran uang tunai. Di Pontianak, beberapa market telah melayani transaksi nontunai atau menggunakan uang elektonik (e-money). Dalam waktu dekat, transaksi bahan bakar minyak (BBM) di Ibukota Kalbar inipun akan diwajibkan secara nontunai.

“Terhitung 1 Januari 2018, pembelian BBM di SPBU Kota Pontianak wajib menggunakan uang elektronik atau biasa disebut dengan e-money,” tutur Eko Harjito, Kepala Cabang PT Pertamina Pontianak, dalam sambutan perhelatan kick off SPBU Cashless di Hotel Grand Tulip, Rabu (5/7) siang.

Hadir beberapa perusahan terkait alias pemilik/pengelola SPBU dan bank di Pontianak yang bekerja sama dengan Pertamina. Penggunaan uang elektronik di SPBU ini rencananya diberlakukan setiap Sabtu dan Minggu bulan Juli di satu jalur premium. Konsumen masih bisa membeli bahan bakar lainnya dengan tunai.

“Pontianak menjadi kota pertama di Kalimantan yang direalisasikannya pengisian bahan bakar dengan transaksi nontunai,” terang Dwi Susiamanto, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat, dalam sambutannya.

Ditambahkan General Manager Marketing Operation Region VI Pertamina Kalimantan, Yanuar Budi Hartanto, penggunaan uang elektronik ini diharapkan jadi solusi menggurangi penggunaan cash. Dan mempermudah pelayanan di SPBU sebab diklaimnya jauh lebih praktis.

“Tidak memakan waktu lama untuk melakukan transaksi menggunakan e-money dikarenakan langsung ditempel, tidak seperti uang kertas yang harus ditukar dan dicek keasliannya,” jelas Yanuar.

Usai kick off, dalam konferensi pers, Sales Eksekutif BBM Pertamina Pontianak, Arwin Nugraha menyebut, dalam persiapannya, Pertamina menggandeng beberapa bank yakni Bank Indonesia, Bank Kalbar, BCA, BRI, Mandiri, dan BNI. Hiswana Migas pun digaet untuk menyediakan EDC (Electronic Data Captures) di setiap SPBU.

“Kita saat ini tengah bekerja sama untuk menyiapkan sarana dan prasarana. Serta melakukan kampanye pada masyarakat atau pelanggan untuk penggunaan uang elektronik. Di sini kita berbagi peran. Pertamina dan SPBU-SPBU melalui Hiswana Migas sebagai merchant dan BI nantinya sebagai team leader project ini,” ujar Arwin.

Sebagai kota pertama yang melaksanakan program ini di Kalimantan, ia yakin efektivitas penggunaan nontunai untuk membeli BBM akan terlihat di Pontianak. Bagi dia, program ini sangat solutif menangani antrean di SPBU dan menghindari kemacetan di beberapa titik yang memiliki volume kendaraan lebih banyak.

“Kota Pontianak kota pertama kalinya menjalankan program ini di seluruh SPBU. Untuk di kota-kota seluruh Indonesia, baru uji coba pilot project di beberapa SPBU. Tidak seperti kita,” terangnya.

Saat ini, seluruh SPBU di Kota Pontianak sudah memiliki EDC. Masyarakat bisa membeli kartu e-money dan melakukan top up (isi ulang) tersebut di semua SPBU Pontianak.

“Pihak-pihak bank juga sudah memiliki uang elekronik sendiri. Misal BRI ada Brizzi, BCA ada Flazz, Bank Mandiri ada e money dan BNI ada Tab Cash. Tapi yang paling siap untuk tahap sosialisasi adalah BCA dan BRI,” ungkap Arwin.

Bagaimana jika kartu itu hilang? Pimpinan BCA KCU Pontianak, Hartoyo, menyebut belum ada fasilitas untuk pemblokiran.

“Jadi, kalau kartu uang elektronik itu hilang, sama halnya uang cash kita hilang. Tidak bisa diblokir,” tuturnya. Hal ini berbeda jika kartu e-money yang digunakan jadi satu dengan kartu ATM.

Maka dari itu, maksimal saldo untuk kartu e-money SPBU Cashless ini hanya Rp1 juta. Pertimbangannya, jika kartu e-money hilang, kerugian terbesar pemiliknya hanya Rp1 juta.

“Ini sudah diatur BI. Kalau pun kehilangan, tidak terlalu besar,” ujar Hartoyo.

Sementara itu, Ketua Hiswana Migas Kalbar, Hendra Salam mengungkap benefit lain melakukan transaksi nontunai dalam program ini. Selain soal keamanan, simpel dalam pelaksanaannya, juga lebih akurat ketika mengisi BBM.

“Biasanya, kalau pembelian secara tunai sebesar Rp11.250, kemudian konsumen bayar sebesar Rp15.000. Kadang-kadang angka kembaliannya tidak tepat. Nah dengan Cashless Payment System, maka akan akurat,” klaim dia.

Meski program Cashless Payment System ini mengedukasi masyarakat, lanjutnya, tetap butuh tahapan. Dalam artian, edukasi menggiring dan sedikit memaksakan masyarakat untuk memakai e-money.

“Sehingga nantinya kita akan merasa nyaman bertransaksi dengan program Cashless Payment System ini,” pungkas Hendra.

 

Laporan: Ocsya Ade CP

Editor: Mohamad iQbaL