Yogyakarta dan Papua Berminat Jadi Tuan Rumah Berikutnya

Malam Ini Penutupan Pesparawi Nasional

31
LOMBA ETNIK. Penampilan peserta dari Papua Barat pada lomba etnik di event Pesparawi XII di Rumah Radakng, Kamis (2/8). Rizka Nanda
LOMBA ETNIK. Penampilan peserta dari Papua Barat pada lomba etnik di event Pesparawi XII di Rumah Radakng, Kamis (2/8). Rizka Nanda

eQuator.co.idPONTIANAK-RK. Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional ke XII Tahun 2018 akan ditutup hari ini di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman (SSA) Pontianak. Penutupan itu sekaligus mengumumkan pemenang.

“Ya bisa dibilang itu puncak acara yang ditunggu-tunggu oleh peserta,” ujar Ketua Harian Pesparawi, Jakius Sinyor, Kamis (2/8).

Dijelaskan dia, acara seremoni penutupan akan dilaksanakan malam hari. Pagi harinya sesuai dengan hasil Rakornas akan digelar Musyawarah Nasional (Munas). Dalam Munas akan menentukan tuan rumah Pesparawi Nasional berikutnya.

Dijelaskan dia, syarat utama untuk dapat menjadi tuan rumah harus mendapat persetujuan kepala daerah. Selain itu, kesiapan lain juga harus ada. Seperti akomodasi dan transportasi.

Yogyakarta dan Papua berminat jadi tuan rumah. Bahkan Gubernur Papua sudah menyatakan keinginannya tersebut. “Keputusannya bisa dilihat saat Munas nanti. Siapa yang layak menjadi tuan rumah, tentu akan dibantu LPPN juga,” ungkapnya.

Jakius berharap Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin datang dan menutup secara resmi Pesparawi Nasional XII nanti. “Kami sudah sampaikan ke Dirjen Binmas agar Menteri Agama bisa hadir menutup Pesparawi,” tutup Jakius.

Sementara itu, Ketua Harian Lembaga Pengembagan Pesparawi Daerah (LPPD) Papua, Constan Karma mengatakan, nanti akan ada Festival Asia Pasifik 2022 dan Pesparawi Tanah Papua 2020. Kedua event tersebut dianggap menjadi momen baik apabila Papua bisa menjadi tuan rumah di Pesparawi Nasional XII.

“Kami tidak meminta dan akan mempertimbangkan dengan baik jika Munas memutuskan Papua sebagai tuan rumah, karena berbagai agenda besar sudah menanti disana,” singkat Constan.

Terpisah, warga Kota Pontianak Yuliardi Qamal menuturkan, sebagai masyarakat umum dan umat Muslim menyambut baik dengan berbagai pagelaran atau lomba-lomba di Pesparawi ini. Dia menilai, tampilan tarian daerah yang dihadirkan sangat menarik dan menghibur. “Di sini kita melihat seni dan budaya masing-masing provinsi yang beragam dan perlu dilestarikan,” ujarnya saat menyaksikan penampilan tarian di rumah Radakng, Pontianak, Kamis (2/8).

Terlebih saat menyaksikan tarian dan atraksi yang ditampilkan provinsi Papua Barat. Yuliardi mengaku kagum. Lantaran nilai budaya masih terjaga dengan baik dan dikembangkan hingga saat ini.

“Saya takjub dan suka sekali saat tadi melihat penampilan kesenian peserta Pesparawi dari Papua Barat. Mereka memainkan alat musik, lalu menari khasnya,” tuturnya.
Ketua Perhimpunan Hotel Dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalbar ini mengatakan, event seperti ini sebaiknya tidak hanya digelar sekali. Dia berharap pemerintah dapat mendorong berbagai kegiatan besar berskala nasional dapat terus dilakukan di Kalbar.

“Sebab ini dampaknya sangat positif, terlebih dengan menghadirkan budaya tradisional, tentu akan menarik wisatawan datang. Apalagi turis asing sangat suka dengan hal-hal etnik seperti ini, dibanding yang sifatnya moderen,” paparnya.

Event ini juga berdampak besar bagi pelaku usaha. Salah satunya di bidang perhotelan. Event Pesparawi yang menghadirkan ribuan peserta ini membuat seluruh hotel di Kota Pontianak full terisi.

“Belum lagi pelaku usaha kita, UMKM, kuliner lalu pusat oleh-oleh, tentu akan diburu oleh pengunjung. Dampaknya pada daerah tentu pada PAD yang meningkat,” pungkasnya.

 

Laporan: Rizka Nanda, Nova Sari

Editor: Arman Hairiadi