YNDN Khawatir Proses Hukum Lenyap

TLB Karyawan Perusahaan Mitra Polda

117
TLB Karyawan Perusahaan Mitra Polda

eQuator –  Proses hukum kasus fedofilia dengan pelaku berinisial TLB alias Al dikhawatirkan tak tuntas ditangani Polda Kalbar. Mengingat pelaku merupakan karyawan CV Nuri Indah, rekanan kerja Polda Kalbar dalam mencetak Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB).

“Kita snagat khawatir dengan hal ini. Kita minta Polda beberkan perkembangan kasusnya, dan proses hukum ini harus tuntas sampai ke meja hijau,” ungkap Devi Tiomana, Direktur Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN) kepada wartawan saat mengunjungi TKP (tempat kejadian perkara) di Gang Sepakat 2 C, Jalan Dr Wahidin, Pontianak Kota, Jumat (6/11).

Apalagi sudah ada bukti adanya kasus fedofilia yang tiba-tiba proses hukumnya senyap. “Ada beberapa kasus terhenti saat sedang dalam proses hukum. Ini yang kita tidak diinginkan. Pelaku harus diadili,” harapnya.

Parahnya lagi, penyidik yang menangani kasus ini, meminta orangtua korban menutup diri. “Kita sangat menyesalkan upaya oknum penyidik yang meminta para orangtua korban untuk menutup diri. Sedangkan korban-korban sendiri saat ini masih mengalami trauma yang berat,” sesalnya.

“Kondisi korban pasca kejadian belum stabil. Bahkan ada salah satu korban, pasca diperlakukan tak senonoh oleh TLB, dia ketakutan apabila bertemu dengan orang lain,” ungkap Devi.

Devi juga menduga korban kebejatan TLB sangat ramai. Hanya saja yang sudah terbukti baru enam anak laki-laki. Sementara korban kekerasan seksual lainnya belum melapor.

“Mengapa saya berani menduga sangat ramai, karena banyak anak-anak yang dipelihara pelaku TLB,” kata Devi.

Diakui Devi, baru-baru ini dia mendapatkan informasi, banyak anak-anak berjenis kelamin laki-laki yang dipelihara TLB. Modusnya, menjadikan korban sebagai anak angkat. Di tempat tinggal dia (TLB) di Desa Kapur, Sungai Raya—Kubu Raya, banyak anak-anak tinggal bersamanya. “Korban dipelihara dengan memberikan uang jajan, bahkan ada anak asuhnya yang merupakan tukang semir sepatu,” ujar Devi.

Takut tak terjadi apa-apa ke depannya, para orangtua mesti membawa anaknya ke psikolog atau pun psikiater. Korban mesti menjalani terapi. “Kita juga telah mendatangi rumah koban. Kita langsung membawa Kabid Perlindungan Perempuan (PP) dan Perlindungan Anak (PA) Badan P2KB Kota Pontianak,” paparnya.

Setelah melihat para korban kekerasan seksual yang dilakukan TLB, Badan P2KB Kota Pontianak dalam waktu dekat akan menggelar rapat. Mengundang semua insntasi, termasuk Polda Kalbar. “Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah. Karena para korban TLB yang saat ini tercatat enam anak, status mereka pelajar SD dan SMP. Kasus-kasus seperti ini harusnya menjadi atensi Polda Kalbar, bukan malah terkesan menutupinya,” tegas Devi.

Korban kebejatan TLB berinisial Rd, ketika ditemui di rumahnya, mengaku digerayangi pelaku. Bahkan tak hanya Rd, teman-temannya juga diperlakukan serupa oleh pelaku. “Ya dipegang-pegang gitu. Saya takut, saya tidak mau. Tapi dia maksa,” katanya. “Saking takutnya, kami sampai berlari, jika melihat bapak itu (TLB),” saambung Rd.

Korban lainnya berinisial Sl juga membenarkan TLB suka memanggil dirinya dan memberinya uang. “Ya dikasi uang. Tapi saya dipegang-pegang sama dia,” ujar Sl.

Karyawati bekerja di perusahaan yang sama dengan TLB, Risma merupakan saksi kunci kasus ini. Dia membeberkan apa yang dilihatnya. “Jelas terlihat apa yang dilakukan TLB (mencabuli korban),” ujar Risma.

Risma menuturkan, pencabulan yang dilakukan TLB berlangsung di ruang belakang di dekat ruang pencetakan TNKB. “Saya terkejut. Pak Al (TLB) tahu saya melihat apa yang dilakukan olehnya terhadap anak-anak itu. Sudah banyak tahu, bahkan ada beberapa pekerja yang mengatakan, bahwa saya lah orang yang paling terakhir mengetahui kebiasaan Pak Al (TLB) itu,” ungkap Risma.

Kabid Humas Polda Kalbar, AKBP Arianto ketika hendak dikonfirmasi tentang kejelasan kasus fedofilia yang melibatkan karyawan perusahaan CV Nuri Indah, rekanan kerja Polda Kalbar, hingga saat ini belum bisa memberikan penjelasa kasus ini. “Mas, saya baru di luar kantor, baru ada giat koordinasi,” kata AKBP Arianto melalui WhatsAppnya.

Ditanya jam berapa pulang dari kegiatannya tersebut, AKBP Arianto tidak dapat memberikan kepastian. “Mohon maaf, masih koordinasi nich,” balasnya lagi.

Laporan: Achmad Mundzirin

Editor: Hamka Saptono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here