Yakinkan Pemilih dengan Visi Misi dan Program

Mulai Didistribusikan 8 Oktober, KPU Daerah Diminta Siapkan Gudang Khusus untuk Logistik Pemilu

CAP TANGAN. Sutarmdiji membubuhkan tanda tangan dan cap tangan di sebuah kain putih saat Deklarasi Pemilu Damai 2019 di Taman Budaya Pontianak, Minggu (30/9). Humas Pemprov for RK

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Tahapan Pilpres dan Pileg 2019 sudah dimulai. Saat kampanye, para calon diharapkan menjual visi misi dan program dalam meyakinkan pemilih.

“Saya harap pada Pileg dan Pilpres hendaknya para calon dapat menyampaikan visi misi serta menjual program untuk menyakinkan masyarakat,” kata Gubernur Kalbar Sutarmidji saat Deklarasi Pemilu Damai 2019 di Taman Budaya Pontianak, Minggu (30/9).

Ditegaskan pria yang karib disapa Midji ini, visi misi harus disampaikan. Agar masyarakat terbiasa, sekaligus melakukan edukasi politik. Dirinya mengaku tidak pernah menyampaikan kampanye negatif untuk siapapun pada Pilkada kemarin. Padahal menurutnya peluang itu ada.

“Ketika kita memberikan solusi dan visi misi untuk menyelesaikan masalah mereka, saya yakin itulah yang akan menjadi pilihan mereka,” lugasnya.

Midji optimis pelaksanaan Pilpres dan Pileg di Kalbar berjalan aman, damai dan lancar. Dibandingkan Pilpres dan Pileg, Pilkada Kalbar diprediksi rawan. “Namun dapat berjalan aman, damai dan kondusif,” jelasnya.

Berdasarkan pengalaman Pilkada, yang harus siap KPU dan Bawaslu. Menurutnya, biasanya yang rawan di Bawaslu. Jika terjadi pelanggaran, harus disikapi dengan bijak. Pelanggaran bukan berarti semua seharus dengan penegakan hukum.

“Kalau dengan hal-hal sepele kenapa tidak dimusyawarahkan, kenapa harus dibesar-besarkan. Nah, kadang itu yang menimbulkan sedikit ketegangan. Ini pengalaman,” terang Midji.

Deklarasi Pemilu Damai 2019 ini juga dihadiri anggota DPR RI, Ketua DPRD dan tokoh masyarakat. Masing-masing tokoh agama memanjatkan doa. Deklarasi damai juga ditandai dengan pembubuhan tanda tangan oleh Gubernur, Kapolda, Pangdam, para pimpinan partai, dan calon legislatif.

Sementara itu, produksi kotak dan bilik suara untuk Pemilu 2019 mulai dilakukan. Mengacu pada jadwal yang disusun Komisi Pemilihan Umum (KPU), logistik pemilu juga mulai didistribusikan  pada 8 Oktober. KPU daerah diminta menyiapkan gudang khusus untuk menyimpannya.

Produksi perdana kotak dan bilik suara dilakukan serempak di empat perusahaan yang memenangi tender pengadaan. Yaitu, PT Cipta Multi Buana Perkasa (CMBP), Kabupaten Tangerang; PT Karya Indah Multiguna (KIM), Bekasi; PT Asada Mitra Packindo; Serang, Banten; dan PT Intan Ustrix, Gresik.

Kemarin para komisioner KPU meninjau langsung dimulainya pembuatan logistik pemilu itu. Mereka berbagi tugas dalam melakukan peninjauan. Komisioner KPU Pramono Ubaid dan Viryan Aziz berkunjung ke PT CMBP, Ilham Saputra datang ke PT KIM, dan Ketua KPU Arief Budiman melihat produksi perdana di PT Intan Ustrix.

Jawa Pos ikut meninjau di pabrik PT CMBP. Sebelum melihat produksi, pihak perusahaan secara simbolis menyerahkan berkas kontrak ke Pramono. Selanjutnya, Pramono dan Viryan diajak melihat langsung proses produksi. Pramono memencet tombol tanda dimulainya produksi. Mesin pun menyala mencetak kotak dan bilik suara yang terbuat dari kertas karton kedap air itu.

Setelah pencetakan, para pekerja mulai melipatnya menjadi dua bagian dan memasukkannya ke plastik. Khusus untuk kotak suara, di salah satu sisinya ada lubang yang ditutup dengan mika transparan. Tujuannya, bagian dalam kotak itu terlihat.

Kemarin pihak perusahaan juga menunjukkan contoh kertas yang sudah dilipat membentuk kotak berukuran 60 x 40 cm. Pramono dan Viryan bergantian duduk di atas kotak suara berwarna putih itu. ”Walaupun diduduki tetap kuat. Jadi, tidak mudah rusak. Seperti ini yang kami harapkan,” kata Pramono. Tidak mudah jebol dan tidak tembus ketika terkena air.

Pria asal Semarang itu mengatakan, sesuai dengan kontrak kerja, produksi kotak dan bilik suara harus selesai selama 64 hari. Menurut dia, distribusi logistik tidak harus menunggu semua produksi selesai. Jadi, akan didistribusikan secara bertahap mulai 8 Oktober. ”Kami harap produksi tepat waktu, supaya tidak meleset dari jadwal” kata dia seusai peninjauan.

Pramono mengatakan, total kotak suara yang diproduksi di empat perusahaan itu sebanyak 4.060.000 unit. Sedangkan bilik suara yang diproduksi berjumlah 2,1 juta unit. Seluruh kotak suara yang akan digunakan untuk Pemilu 2019 adalah produksi baru.

Sedangkan untuk bilik suara, ada 1,2 juta unit produk lama berbahan aluminium yang bisa digunakan. Jadi, total bilik suara 3,3 juta unit. ”Itu bagian efisiensi yang kami lakukan,” papar dia.

Untuk anggaran, KPU menyiapkan pagu Rp 948.111.800.000 untuk kotak suara. Namun, nilai kontrak pengadaan lebih kecil, yaitu hanya Rp 284.185.351.099. Jadi, nilai efisiensinya mencapai Rp 663.926.448.901 atau 70,03 persen.

Pagu anggaran bilik suara Rp 196.011.304.500. Nilai kontraknya Rp 59.811.190.620. Berarti, efisiensinya mencapai Rp 136.200.113.880 atau 69,49 persen. Jika ditotal, nilai efisiensi kotak dan bilik suara mencapai Rp 800.126.562.781.

 

Laporan: Rizka Nanda

Editor: Arman Hairiadi