Wisata Padi Milenial Hidupkan Beras Lokal

Kubu Raya Targetkan Lumbung Pangan

PETINGGI TURUN KE SAWAH. Gubernur, Bupati, Forkopimda dan masyarakat bersama-sama menanam padi di Desa Parit Keladi, Kecamatan Sungai Kakap, Minggu (3/11) pagi. Humas Polda for RK

eQuator.co.id – Sungai Kakap-RK. Sebagai kabupaten agraris, Pemkab Kubu Raya ingin menjadikan daerahnya sebagai lumbung pangan. Karena itu, kaum milenial harus dikenalkan, diajak dan didorong mencintai pertanian yang didominasi generasi tua.

Untuk itulah Gerakan Wisata Tanam Padi Milenial digagas di  Gapoktan Solo Berseri, Desa Parit Keladi, Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya. Ribuan orang terutama para milenial, Bupati dan Wakil Bupati Kubu Raya, Gubernur Kalbar dan Jajaran Forkopimda berbaur di acara tersebut.  Mereka bersama sama turun ke sawah, bekubang lumpur menanam padi.

“Tujuan kita mengajak anak-anak muda, agar atmosfer dan imaji mencintai pertanian. Mereka didorong berusaha menggerakkan masyarakat. Supaya pertanian tetap menjadi yang utama bagi mereka. Dan anak-anak di kampung menjadikan itu sebagai masa depannya,” gagas Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan, Ahad (3/11).

Ini gerakan menjadi salah satu cara untuk membangkitkan gairah dan semangat agar tidak terjadi krisis petani dan krisis dominasi kaum tua di pertanian. Selebihnya, agar tanam padi menjadi peradaban yang diutamakan. Sasarannya, program beras lokal Kubu Raya yang akan launching Januari-Februari mendatang.

“Kita harapkan kegiatan ini menjadi launching dan getaran seluruh Kubu Raya dengan luas areal 30 ribu hektar. Untuk memperkuat beras lokal kedepan, dengan sistem pasar sistemik yang menjamin pasar petani,” harapnya.

Peras lokal nantinya akan dijual kepada PNS dan institusi yang ada termasuk swasta. Sehingga beras lokal Kubu Raya terjamin pasarnya, dan petani lebih rajin dengan harga yang terjamin. “Tidak khawatir harganya jatuh,” katanya.

Dengan cara mendorong milenial, pemerintah Kubu Raya berupaya menjadikan petani lebih semangat melakukan aktivitas pertanian. “Yang tadinya hanya satu kali setahun, jadi dua kali. Bahkan kita bisa sampai tiga. Yang tanam biasanya 1 hektare bisa lebih,” ujarnya.

Terlebih, lahan tidur yang tidak dimanfaatkan masih cukup banyak. Kekhawatiran lahan pertanian dijual menjadi lahan komersial ke daerah-daerah berdekatan dengan perkotaan.

“Dengan cara ini kita harapkan anak-anak muda punya pandangan. Supaya nanti kalau orangtuanya sudah tua semua jangan sampai lahan tidak dicintai. Tapi kalau pertanian dicintai, akhirnya mereka tidak mau melepas pertanian itu,” harapnya.

Kubu Raya, kata Muda, penyangga pangan wilayah kota. “Hampir 60 persen persen sayur mayur, ikan dan sumber sumber pangan lain diproduksi dari Kubu Raya. Otomatis harus kita kokohkan supaya tidak terjadi inflasi,” tandasnya.

Selain Parit Keladi, Pemkab KR juga akan menyelenggarakan kegiatan serupa di Terentang dan Baru Ampar. Wakil Bupati Sujiwo menargetkan Kubu Raya akan menjadi sumber pangan yang rill. Jiwo akan menghidupkan beras lokal yang saat ini permintaanya tinggi.

“Permintaan beras lokal cukup luar biasa, dari Polri, TNI, belum lagi ASN Pondok-pondok pesantren,” katanya.

Kedepan, tinggal bagaimana fokus memberikan kebijakan anggaran kepada dinas pertanian. Sehingga lumbung pangan di Kubu Raya bisa terwujud, dan beras lokal bisa berkibar lagi.

Sementara itu, Pangdam XII/Tpr, Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad mengapresiasi gerakan Wisata Tanam Padi Milenial yang digagas Bupati Kubu Raya ini. Gerakan yang melibatkan para pemuda untuk mewujudkan kemandirian dalam bidang pertanian.

 

Kegiatan yang sangat bagus dimulai dari Kubu Raya ini, kata Pangdam, mengajak para milenial untuk bagaimana mencintai pertanian. Sekarang rata-rata usianya masih muda sehingga program pemuda milenial ini sangat baik.

“Kodam XII/Tpr menyambut acara ini. Harapan kami nanti ini merupakan salah satu model pembinaan pemuda di desa-desa. Sehingga menambah jumlah tenaga kerja di bidang pertanian,” harapnya.

Gubernur Sutarmidji berharap mudah-mudahan 2020 mendatang tidak ada lagi beras luar yang masuk ke Kalbar. Bahkan Kalbar yang mengirim beras.

“Saya juga meminta Rektor Untan khususnya di Fakultas Pertanian terus mengkaji bibit yang cocok untuk pengembangan di Kalbar. Kita semangati kegiatan ini. Kenapa melibatkan milenial, supaya orangtuanya yang punya lahan sawah atau lahan tanam jangan dijual. Anak-anaknya nanti bisa melanjutkan sehingga luas lahan tanam padi itu tidak berkurang,” anjurnya.

Midji, karib ia disapa, berharap target produksi  beras di Kubu Raya terealisasi. “Di sini ada 29.000 hektar. Kalau rata-rata per hektar 3 ton saja, dua kali panen bisa 6 ton gabah kering. Itu setara dengan 4 ton beras. Sehingga produksi di sini lebih dari 100 ribu ton beras,” katanya.

Jumlah 100 ribu ton itu, sambung Midji, lebih dari cukup untuk kebutuhan Kubu Raya. Sebab kebutuhan se Kalbar 546 ribu ton.

“Kalau di Kubu Raya saja sudah 100 ribu ton, Landak bisa 100 ribu ton, daerah lain seperti  Ketapang, Mempawah, Sanggau, dan lainya 600 ribu ton. Maka kita akan surplus pangan,” katanya

Terkait penyerapan beras lokal, Midji menyebut Bulog menyerap beras petani masih sangat sedikit, baru mencapai 4800 ton lebih gabah kering giling.

“Jangan kan ini. Setengah persen pun gak ada. Bulog pasti tidak tahu. Karena Bulog hanya menyimpan beras impor. Jadi tidak menyerap beras lokal. Saya sudah tanya,” pungkasnya.

 

Laporan: Andi Ridwansyah, Abdul Halikurrahman

Editor: Mohamad iQbaL