Warga Mengantre Berjam-jam di Pangkalan

Elpiji 3 Kilogram Langka

19
BELI GAS. Salah seorang warga membeli gas elpiji 3 kilogram di salah satu pangkalan gas di ibukota Kabupaten Sekadau, Jumat (3/8). Abdu Syukri
BELI GAS. Salah seorang warga membeli gas elpiji 3 kilogram di salah satu pangkalan gas di ibukota Kabupaten Sekadau, Jumat (3/8). Abdu Syukri

eQuator.co.id – Sekadau RK. Sejak dua bulan terakhir, warga Kabupaten Sekadau sulit membeli gas elpiji tabung 3 kilogram (kg). Kelangkaan tersebut memaksa warga mengantre hingga berjam-jam di pangkalan gas.

“Sudah hampir dua bulan ini susah cari gas. Puncaknya, dua minggu ini. Langkah sekali gas 3 kg,” ujar Iskandar, warga Sewak, Desa Mungguk kepada Rakyat Kalbar disela mengantre gas di salah satu pangkalan gas di Jalan Sekadau-Sintang KM 1, Kota Sekadau, Jumat siang (3/8).

Akibat kelangkaan itu, warga terpaksa harus mengantre hingga berjam-jam, jika hendak mendapatkan gas elpiji. “Saya sudah dua jam disini. Belum juga dipanggil,” sambung Iskandar.

Pantauan Rakyat Kalbar, di pangkalan gas Jalan Sekadau-Sintang KM 1, ratusan warga mengantre untuk mendapatkan gas elpiji 3 kg. Tidak hanya ibu-ibu, bapak-bapak juga terlihat mengantre.

Pemilik pangkalan terpaksa menerapkan sistem penjatahan. Setiap pengantre diharuskan menunjukkan KTP, dan hanya diberikan jatah dua tabung per orang.

Iskandar mengaku, tidak mengetahui persis apa yang menyebabkan kelangkaan tersebut. Yang jelas, setiap kali pasokan gas datang ke sejumlah pangkalan, maka akan langsung diserbu warga. Dalam hitungan tiga jam saja, satu truk pasokan gas akan langsung ludes. “Tolong lah pemerintah bisa mengatasi masalah ini,” harap Iskandar.

Sur, salah seorang pengguna gas elpiji 3 kg juga mengeluhkan susahnya mencari gas selama beberapa pekan terakhir. “Ambil di pangkalan dan agen juga harus antre,” kata Sur.

Anehnya lagi, lanjut Sur, sejumlah pangkalan justru mendahului para pembeli dalam jumlah besar yang akan dijual kembali di toko-toko. “Sedangkan kami yang beli hanya untuk digunakan sehari-hari, kadang dikasi kadang tidak,” kesalnya.

Sur berharap, pemerintah melalui instansi terkait menertibkan pangkalan yang pilih kasih tersebut. “Mestinya, kami yang didahului. Jangan yang pembeli dalam jumlah banyak yang terus-terusan didahulukan,” pinta Sur.

 

Reporter: Abdu Syukri

Editor: Yuni Kurniyanto