Warga Blokir Jalan Menuju TPA Batu Layang

Limbah Cemari Parit dan Kolam

52
BLOKIR JALAN. Warga menutup jalan menuju TPA Batu Layang di Jalan Kebangkitan Nasional Kelurahan Batu Layang Kecamatan Pontianak Utara bagi truk sampah, Sabtu pagi (7/4). Andi Ridwansyah-RK
BLOKIR JALAN. Warga menutup jalan menuju TPA Batu Layang di Jalan Kebangkitan Nasional Kelurahan Batu Layang Kecamatan Pontianak Utara bagi truk sampah, Sabtu pagi (7/4). Andi Ridwansyah-RK

eQuator.co.idPONTIANAK-RK. Puluhan warga yang bermukim di kawasan Tempat Pembuatan Akhir (TPA) Sampah Batu Layang menutup Jalan Kebangkitan Nasional Kelurahan Batu Layang Kecamatan Pontianak Utara bagi truk sampah, Sabtu pagi (7/4). Pemblokiran ini dilakukan lantaran warga kesal, Pemerintah Kota Pontianak tak kunjung membenahi limbah sampah.

Aksi pemblokiran ini dimulai pukul 06.00 WIB. Warga menutup akses jalan menuju TPA Batu Layang  dengan membentang sebuah spanduk bertuliskan “Jalan ini blokir warga”. Puluhan aparat Polsek Utara dan Satpol PP Kota Pontianak  disiagakan untuk mengamankan aksi tersebut.

Tak hanya aparat, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak dan Camat  setempat hadir di lokasi untuk mendengarkan aspirasi warga. Setelah dilakukan dialog, akhirnya warga membuka pemblokiran jalan tersebut sekitar pukul 10.00 WIB.
“Sebenarnya ini merupakan tuntutan lanjutan, soal limbah sampah yang mengalir di kolam warga ketika hujan, sementara warga sekitar TPA ini menggunakan kolam dan parit sebagai sumber kebutuhan hari-harinya,” ujar Ketua RT 05 Kelurahan Batu Layang Kecamatan Pontianak Utara, Samsul Bahri, Sabtu (7/4).

Dalam aksi tersebut, Samsul bersama sejumlah warga, menyampaikan 12 tuntutan kepada Pemerintah Kota Pontianak. tuntutan tersebut harus dipenuhi DLH Kota Pontianak.

“Kalau sekarang kita tutup satu jalur saja, kalau masih diindahkan kami warga sekitar akan menutup total akses menuju TPA,” ujarnya.

Tidak hanya itu, warga juga mengancam akan demo di kantor Wali Kota dan DPR Pontianak. Bahkan mereka akan melakukan unjuk rasa di kantor Gubernur Kalbar. “Namun saat ini kami masih menunggu hingga Juli, sebab tadi juga sudah disampikan oleh Kadis Lingkungan Hidup,” ungkapnya.

Tuntutan tersebut kata dia, lantaran mereka merasakan sulitnya memperoleh air bersih, utamanya di parit atau kolam yang dibuat di masing-masing rumah warga. Pasalnya, limbah sampah sudah mencemari parit dan kolam warga. “Efeknya pada kesehatan, warga gatal-gatal dan koreng, utamanya bagi anak-anak. Bahkan yang lebih menyedihkan anak pesantren yang tak jauh dari TPA ini, mereka mandi, sikat gigi, wudhu menggunakan air parit di kawasan ini,” tutur Samsul.

Dikatakan dia, aksi penutupan jalan ini dilakukan karena tidak ada upaya pemerintah terkait menindak lanjuti keluhan warga setempat. “Kita sudah datang, kita temui, namun tidak pernah di tanggapi dan hanya janji terus,” ungkapnya.
Tumpukan sampah kata Samsul, semakin hari semakin dekat dengan kediaman warga. Sampah-sampah itu menjadi masalah yang begitu berat bagi masyarakat. Ketika hujan, air limbah sampah mengaliri Parit Madura Kelurahan Batu Layang  dan Parit Sahang yang berbatasan dengan Kelurahan Batu Layang dan Kelurahan Siantan Hilir. Sehingga menimbulkan bau yang amat busuk. “Dahulu berjarak dua Km, dan saat ini hanya 500 m dari kediaman warga,” sebut Samsul.

Kepala DLH Kota Pontianak, Sri Sujiarti menyampaikan, penutupan ini sebetulnya bukan bari kali ini. Sebelumnya warga setempat juga pernah melakukan hal serupa. Saat ini pihaknya berupaya menampung keluhan-keluhan serta tuntutan warga terhadap Pemkot melalui dinas terkait.

“Dalam poin tuntutan warga ini salah satunya adalah merasa terganggu terhadap lindi yang dibangun di TPA, kemudian ketidakpuasan terhadap pejabat yang ada di TPA, namun ini bukan kewenangan pada kita tapi balik ke Wali Kota, serta tuntutan lain yang nanti akan kita koordinasikan kembali,” terangnya.

Dalam hal ini kata Sri, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk membenahi penataan TPA. Namun melihat kondisi TPA yang sudah lama dibangun, beberapa sarana dan prasarana tidak dapat digunakan atau rusak.

“Ini dibangun sejak tahun 1997, jadi memang jalan dan saluran dalam keadaan hancur, pecah-pecah, terlebih lindi tidak bisa ditampung dan diolah, sehingga sebagian besar air lindi lari ke saluran warga,” pungkas Sri.

 

Laporan: Nova Sari, Andi Ridwansyah

Editor: Arman Hairiadi