Ubah Air Tanah Gambut Jadi Layak Pakai

Double Media Filtrasi Harapan Baru Warga Batu Layang

13
AIR DARI TANAH GAMBUT. Double media filtrasi mengubah air baku dari lahan gambut menjadi air layak pakai di Kelurahan Batu Layang Kecamatan Pontianak Utara, Sabtu (8/9). Rizka Nanda-RK

eQuator.co.id – Tong air pinguin warna oranye berdiri gagah di atas penyanggah. Di sisi kanan kirinya terdapat selang pipa yang menyambungkan ke dua tabung dibawah. Double Media Filtrasi. Alat pengolahan air baku menjadi air bersih.

Alat itu berdiri gagah di atas tanah depan rumah Ketua RT 05 Kelurahan Batu Layang Kecamatan Pontianak Utara. Jauh sebelum alat ini ada, masyarakat sekitar harus menggunakan air yang berasal dari lahan gambut. Untuk mandi, cuci, kakus (MCK).

Lahan gambut menjadikan sumber air di sekitar berwarna merah. Baunya pun tak sedap. “Umur saya sudah 56 tahun, dan selama itu pula belum pernah ada bantuan air bersih,” ujar Ketua RT 05, Candra Kanang, ketika ditemui awak media, Sabtu (8/9).

Melalui program pengolahan air baku menjadi air bersih kerjasama Kementerian PPN/Bappenas, Pemprov Kalbar, USAID, UKaid, ICCTF, dan Universitas Tanjungpura Pontianak. Warga sekitar sudah bisa mendapatkan air bersih. Warga pun sangat terbantu. “Bantuan ini baru kami dapatkan di tahun 2018 ini, beberapa bulan lalu,” tuturnya sambil membuka keran air, lalu memperlihatkan airnya kepada awak media.

Sebagaimana program-program lain, tentu saja program kerja sama ini pun ada kendala. Candra mengatakan air bersih berada di depan rumahnya belum bisa dinikmati banyak warga. Selama ini, baru bisa digunakan 6 hingga 7 rumah. Sementara ada 62 kepala keluarga dan 74 rumah di RT itu. “Saya berharap fasilitas ini kedepannya bisa dirasakan oleh semua warga,” harap Candra.

Hambatan lainnya, terdapat di bagian proses pengolahan yang masih dilakukan secara manual. Hal itu membuat pria yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu perlu tenaga lebih. Untuk mendapatkan air bersih, ia harus mengaduk sendiri campuran kimiawi di dalam tangki besar. Ditambah lagi, proses dari air baku yang keruh sampai menjadi air bersih yang jernih, memakan waktu sekitar 24 jam. “Cukup lama dan rumit prosesnya. Sudah saya lakukan selama berbulan-bulan,” tuturnya.

Tak hanya soal tenaga, Candra yang seorang petani, juga kesulitan mendapatkan biaya. Sebab untuk mengisi air ke dalam tangki perlu menggunakan listrik. Walaupun ingin menikmati air bersih, di sisi lain ia tetap tak ingin membebani warga. “Nggak enak mau membenani warga, seperti sumur, listrik juga kita tanggung secara pribadi,” ungkap Candra.

Dikatakan dia, rata-rata warga sekitar bekerja sebagai petani. Ada juga yang berkerja sebagai tukang cangkul dan pemungut sampah. Itulah yang membuat Candra tak tega harus meminta bantuan dana pada warganya. “Maklum kita hanya warga kecil. Kalau mengisi Rp50 ribu, 3 galon ini sudah habis voucher listriknya,” ucap Candra

Sementara itu, Dekan Fakultas Kehutanan Untan Pontianak Gusti Hardiansyah membenarkan apa yang dikatakan Candra. Menurutnya, walaupun masyarakat sudah cukup mandiri, kini yang menjadi persoalannya adalah ketersediaan bahan-bahan kimia. Seperti NaOH ataupun PAC untuk mengubah PH air baku menjadi air bersih layak konsumsi.

Sebelumnya, Gusti menjelaskan bagaimana proses pengolahan air di lahan gambut itu. Sifat-sifat racun yang ada dalam air baku dipisahkan dengan H2O. Untuk memisahkan kedua unsur itu, perlu diberikan bahan kimiawi, yaitu akustik soda atau NaOH.

“Alasan menggunakan NaOH untuk mendapatkan PH dari PH 4 ke PH 8-9. Setelah diberi NaOH, akan terjadi penggumpalan-penggumpalan,” jelas Gusti, Kamis (13/9).

Gusti menuturkan untuk menurunkan PH supaya air minum dalam bentuk kesehatan sesuai dengan peraturan menteri dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) harus PH 6. Makanya pihaknya berikan yang namanya PAC. Kalau 2 kubik, biasanya 6-10 sendok teh.

PAC yang telah dimasukkan, diaduk Pak Candra. Kemudian, terjadi sedimentasi dan air bersihnya jadi tambah jernih. Air yang jernih kita alirkan ke dua tabung. “Itulah yang disebut double filterisasi,” paparnya.

Walaupun tenaga dan biaya menjadi kendala. Ia menilai  pengolahan air bersih sudah cukup membantu warga RT 05/13, Kelurahan Batu Layang. Solusi lain, pihaknya harus memberikan arahan pada masyarakat di mana harus membeli bahan-bahan kimia. Kendala yang paling penting masyarakat harus bagus mengambil air baku.

“Sebab air baku adalah air sumber. Jika air baku bagus, prosesnya akan bagus. Dan hasilnya juga bagus,” tuturnya.

Gusti mengatakan, prototype air baku menjadi air bersih yang dalam pengerjaannya dibantu oleh PKM 2018 Fakultas Kehutanan Untan. Dan sudah melalui uji kesehatan. “Ini sudah layak disebut air bersih. Hanya, kalau untuk diminum, tetap harus dimasak dulu,” pungkasnya. (*)