Tuntut Pelaku Diproses Hukum

Aliansi Umat Islam Kalbar Sampaikan 5 Pernyataan Sikap

9
KE KERATON. Massa Aliansi Umat Islam Kalbar memadati halaman Keraton Kadriah untuk menyerahkan bendera tauhid kepada Sultan Pontianak, Jumat (26/10). Andi Ridwansyah-RK

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Dibeberapa daerah Indonesia menggelar aksi mengecam pembakaran bendera tauhid, Jumat (26/10). Aksi serupa juga dilakukan ribuan massa yang mengatasnamakan Aliansi Umat Islam Bersatu Kalbar. Aksi damai bela kalimat tauhid ini gelar di Digulis Untan, Pontianak.

Aksi dikawal anggota kepolisian. Tampak juga peserta unjuk rasa membantu kepolisian mengatur arus lalulintas.

“Kami atas nama Aliansi Umat Islam Bersatu Kalbar, hari berkumpul untuk aksi bela kalimah tauhid serentak di beberapa daerah di Kalbar dan sejumlah daerah di Indonesia,” kata Habib Rizal di sela-sela unjuk rasa.

Mereka memuntut agar pembakaran bendera bertuliskan tauhid oleh oknum Banser pada peringatan Hari Santri Nasional di Garut, Jawa Barat, diproses hukum. “Kami berkumpul meminta untuk segera yang membakar bendera kalimah tauhid La Ilaha Illallah, pemimpinnya maupun yang membakar, aktor intelektualnya harus segera ditangkap,” pintanya.

Jika tuntutan dari berapa daerah tidak terpenuhi, se Indonesia akan melakukan perkumpulan lebih besar lagi. “Kami akan melaksanakan aksi 212 episode ke 2, Insyaallah tanggal 2 Desember kalau masih tidak ada jalan keluarnya,” ujarnya.

Terkait anggapan yang dibakar adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia, Habib Rizal mengatakan perkumpulan ini tidak ada urusan dengan HTI. Apalagi Ormas itu sudah lama dibubarkan pemerintah. Sudah ada Perppu yang sudah melarang Ormas itu.

“Kami tidak ada urusannya sama HTI, kami hari ini turun mutlak membela kalimah La Ilaha Illallah. Dimana kalimah yang merupakan eksistensi umat Islam di seluruh dunia, Kalimah yang sangat kami banggakan, membedakan antara muslim dan non muslim,” papar Habib Rizal.

Kendati hujan lebat, ribuan massa dari berbagai lapisan masyarakat tetap berkumpul untuk menyerukan aksi protes pembakaran bendera tauhid. Massa berdatangan menggunakan pakaian muslim. Masing-masing dari mereka juga membawa bendera tauhid.
Gema takbir berkumandang. Orasi disampaikan di atas sebuah kendaraan roda empat di hadapan massa aksi. Berganti orator menyampaikan orasi yang dikawal ketat ratusan personel kepolisian. Aliansi Umat Islam Kalbar menyerahkan petisi ke pihak Polda  Kalbar. Setelah itu, massa konvoi menuju ke Keraton Kadariah.

Sultan Pontianak Syarif Macmud Melvin Alqadrie menegaskan, kegiatan tersebut adalah aksi damai. Saat orasi, dia menyampaikan kepada massa untuk dapat menjaga keamanan dan ketertiban lalu lintas. “Jangan sampai menghambat lalu lintas itu sendiri,” ujarnya.
Sebagai Sultan Pontianak ke IX, dia menyayangkan peristiwa pembakaran bendera tauhid. Secara pribadi dan sebagai sultan, dia meminta pelaku oknum Banser yang membakar bendera tauhid ditangkap. “Diproses sesuai dengan hukum yang berlaku,” harapnya.
Sultan meminta kepada mujahid peserta aksi damai dan orator hanya menyampaikan seputar bendera tauhid yang dibakar. Dia juga meminta warga menjaga ketenangan Kota Pontianak. Karena kejadian pembakaran bendera tauhid di Garut. Jangan sampai dibawa ke Kota Pontianak yang sudah aman dan tentram.

“Kita serahkan kepada aparat penegak hukum untuk memproses oknum Banser yang membakar bendera tersebut,” ajaknya.
Di Keraton, Sultan menerima penyerahan bendera tauhid. Bendera tersebut akan dikibarkan di Keraton Kadriah. “Guna menenangkan mujahid-mujahid yang melakukan aksi damai,” jelas Sultan.
Salah seorang peserta unjuk rasa yang ditemui di sekitar di Digulis Untan, Hendrik mengatakan, aksi damai mereka merupakan gabungan umat Islam yang ada di Kalbar. Mereka mengutuk keras dibakarnya bendera tauhid. Dia berharap, pelaku pembakaran tersebut diproses hukum. “Saya rasa umat Muslim semua tidak terima, dan tidak ada alasan untuk melakukan pembakaran atas bendera tauhid ini,” kata warga Kota Pontianak ini.
Selain Kota Pontianak, peserta aksi ada juga datang dari Kabupaten Sanggau, Try. Dia mengaku tetap semangat walau sempat diguyur hujan. “Tetap semangat,” lugasnya.
Pria 30 tahun menuturkan, rela izin tidak masuk kerja demi dapat menjadi peserta aksi. “Saya izin dulu tidak masuk kerja sampai minggu nanti,” katanya.

Senada dengan yang lainnya, Try minta pelaku pembakaran bendera tauhid ditindak sesuai hukum berlaku. “Saya dari sanggau sampai ke Pontianak pada pukul 09.00 WIB sendiri menggunakan  sepeda motor,” timpal Try.

Laporan: Ambrosius Junius, Andi Ridwansyah

Editor: Arman Hairiadi