Tren

Oleh: Joko Intarto

KURSUS KULINER. Fatmah Bahalwan di antara para peserta kursus kulinernya. JTO

eQuator.co.id – ‘’Anda boleh melakukan apa saja. Tapi jangan melakukan yang satu ini: melawan tren. Akan sia-sia.’’ Nasihat Dahlan Iskan itu kembali terngiang di telinga saya ketika berbincang dengan Fatmah Bahalwan. Ahli kuliner. Pendiri Natural Cooking Club yang membernya jutaan orang di seluruh dunia itu.

Tren adalah fenomena yang memperlihatkan kecenderungan pada satu arus tertentu. Tren terjadi di semua segi kehidupan. Misalnya, tren busana anak-anak muda.

Tiga tahun lalu, mode ala Jepang yang dikenal dengan nama Harajuku menjadi tren. Sekarang lenyap. Kaum remaja milenials mulai meniru fashion ala Korea. Entah apa namanya. Potongan rambutnya. Warna semir rambutnya. Busananya. Lipstiknya. Bahkan gelang dan kaos kakinya.

Demikian pula tren bisnis kuliner. Banyak anak muda yang sekarang tertarik belajar kuliner karena ingin berbisnis memproduksi makanan dan minuman. Atau membuka jasa catering.

Ada tiga fenomena menarik dalam kursus kuliner saat ini yang ditangkap dengan baik oleh Fatmah. Pertama: motifnya. Kedua: resepnya. Ketiga: usia peserta.

Motif adalah faktor pendorong yang membuat seseorang melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Sederhananya: niat dan tujuannya.
Dulu, banyak orang belajar kuliner karena hobi memasak. Sekarang berbeda. Mereka belajar memasak karena ingin punya bisnis.

Resep pun mengalami tren perubahan. Dulu, makanan junkfood yang serba instan sangat popular. Tren saat itu berkiblat ke Eropa dan Amerika. Saat ini trennya berubah ke Asia Timur, khususnya Jepang dan Korea Selatan.

Tidak heran kalau di kota-kota besar sekarang ini restoran Jepang dan Korea Selatan makin banyak saja jumlahnya. Bahkan, makanan kedua bangsa itu sudah merambah ke warung kaki lima!

Nama Chicken Karaage, misalnya, sudah sama ngetopnya dengan fried chicken. Sama-sama mulai dijual di lapak kakilima. Keduanya memang mirip. Chicken Karaage disebut juga fried chicken-nya Jepang.
Bedanya, fried chicken mengandalkan ‘’cepat sajinya’’. Sedangkan chicken karaage mengunggulkan daya tahan di penyimpanannya. Sebab, chicken karaage ini didesain sebagai menu yang disimpan dalam wujud beku alias frozen food.

Tren ketiga adalah usia peminat kursus kuliner. Dulu, yang paling berminat adalah kaum ibu rumah tangga. Sekarang yang banyak justru wanita muda yang sibuk bekerja. Keinginan mereka untuk memperoleh penghasilan dengan kebebasan waktu yang tinggi menjadi alasan utama.

Usia Fatmah sebenarnya sudah bukan muda lagi. Tapi mantan gadis sampul majalah remaja tahun 80-an itu memahami bahwa tren tidak bisa dilawan. Maka dia yang mengalah.

Kursus kuliner yang dulu dilakukan secara offline 100 persen itu sekarang mulai disisipi kursus online. Walau baru sekali seminggu. Kursus secara live menggunakan platform webinar itu untuk melayani kelompok milenials yang sehari-hari tidak lepas dari gadgetnya.

Proses penentuan resepnya pun berubah. Dulu, Fatmah yang menetapkan resepnya. Menghadapi kaum milenials, Fatmah tak berkutik. Merekalah yang menentukan resepnya. Lewat polling.

Tren memang tak bisa dilawan. Kata Tsun Tzu, penulis ilmu perang yang sangat kesohor itu, janganlah melawan naga, tetapi jadilah penunggang naga. Nah, tren itulah naganya. Pintar-pintarlah menjadi jokinya.(jto)