TNI Gembleng Polhut Taman Nasional

Setiap Hari Ada Hotspot, Beri Pelatihan Fisik dan Mental

28
GEMBLENG. Personel Polhut dan TPHL BBTNBKDS digembleng dalam pelatihan fisik dan mental di Makodim 1206 Putussibau, Kamis sore (9/8). Andreas-RK

eQuator.co.idKALBAR. Sejumlah titik api tersebar di Kabupaten Melawi. Sebagian besar terjadi di lahan warga yang berladang.

“Dari pantauan satelit NOAA yang diakses melalui situs sipongi Kementerian Lingkungan Hidup terdapat 17 titik api,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Melawi, Syafarudin di ruang kerjanya, Jumat (10/8).

Sebaran hotspot terjadi di berbagai kecamatan. Seperti Belimbing Hulu, Belimbing, Sayan, Pinoh Utara, Pinoh Selatan sampai desa-desa di sekitar Nanga Pinoh. “Beberapa waktu lalu sudah terdeteksi sembilan titik api yang berada di wilayah Kecamatan Sayan,” ungkapnya.

Satgas Reaksi Cepat Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kata dia, sudah turun langsung untuk memadamkan api.

Satgas ini dibentuk sejak awal tahun lalu. “Di dalamnya termasuk TNI dan Polri serta sejumlah instansi terkait,” jelasnya.

Lahan yang terbakar luasnya bervariasi. Senin di Desa Kelakik terbakar lahan warga sekitar lima hektare. Pemadaman melibatkan petugas BPBD, Damkar dari BS-PBK, TNI, polisi hingga masyarakat. Dengan menggunakan mesin damkar. “Yang terbakar kebun karet dan sawit warga termasuk lahan kosong. Bersama masyarakat petugas damkar dan aparat saling bahu membahu memadamkan api,” terangnya.

Untuk membantu proses pemadaman api, BPBD sudah menyerahkan dua mesin pompa karhutla kepada damkar BS-PBK. Selain mesin juga diserahkan perlengkapan damkar. Mulai dari selang, flexi tank satu unit serta 20 set baju serta celana petugas damkar.

“Sementara ini diberikan untuk pemadam swasta. Nantinya juga diberikan kepada petugas damkar Pemkab Melawi. Sehingga bila ada karhutla, seluruh petugas bisa turun bersama dengan menggunakan peralatan ini,” harapnya.

Untuk pemadaman api di kebun atau lahan masyarakat, helikopter BNPB juga sudah standby untuk melakukan water bombing. Beberapa kali pemadaman melalui udara sudah dilakukan di wilayah Melawi.

“Seperti di Belimbing beberapa waktu lalu. Helikopter ini sudah standby di Sintang. Jadi begitu terdeteksi ada titik api bisa langsung turun ke TKP,” tegasnya.

Diakui Syafarudin, menanggulangi Karhutla masih terbilang sulit. Karena kebiasaan masyarakat membuka lahan dengan cara membakar. Meskipun sosialisasi sudah seringkali disampaikan ke masyarakat agar tak membakar lahan saat berkebun.

“Selama belum ada solusi maka setiap tahun akan terus dilakukan masyarakat. Kita sendiri sudah meminta masyarakat, bila membakar ya lapor dengan aparat desa setempat,” paparnya.

Sementara itu, Danramil Sayan, Kapten Inf Hendi mengungkapkan, ada sejumlah titik api ditemukan di wilayahnya. Di antaranya, di Desa Nanga Pak, Desa Madya Raya, Desa Tumbak Raya dan berbagai desa lainnya. Banyak kesulitan yang dihadapi tim di lapangan. Di antaranya jarak yang jauh atau akses menuju titik api sulit.

“Belum lagi sinyal HP dan internet yang juga terkadang tak ada sama sekali. Hanya memang tetap diupayakan agar tim bisa melakukan pemadaman api dengan peralatan yang ada,” lugas Hendi.

Beralih ke Kabupaten Sambas, Karhutla juga terjadi di Kecamatan Paloh. Untuk itu, Kapolsek Paloh Kompol Hadiryaman akan berkoordinasi dengan Forkopimcam, masyarakat dan tokoh setempat

“Kami akan mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi, kemudian

koordinasi dengan semua pihak di Paloh, untuk mencari tahu penyebab

masih terjadinya Karhutla di Paloh, kalau sudah ditemukan penyebabnya, selanjutnya mencarikan solusi, agar Karhutla tak terjadi di Paloh,” terangnya, Kamis (9/8).

Hadiryaman yang baru menjabat sebagai Kapolsek Paloh ini mengungkapkan, lantaran Karhutla terjadi setiap musim kemarau tentu memerlukan koordinasi semua elemen masyarakat. Terlebih Paloh merupakan daerah perbatasan langsung dengan Malaysia. Tentu tingkat kewaspadaan perlu ditingkatkan.

“Paloh sangat dekat dengan wilayah Malaysia, maka untuk itu kita harus menambah kewaspadaan, guna mencegah adanya barang ilegal

dari Malaysia melalui Paloh,” pungkasnya.

Di Kabupaten Kapuas Hulu, sebanyak 25 personel Polisi Kehutanan (Polhut) dan 3 Tenaga Pengamanan Hutan Lainnya (TPHL) Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum (BBTNBKDS) tuntas digembleng dalam pelatihan fisik dan mental di Makodim 1206 Putussibau. Pelatihan fisik dan mental ini dilakukan sejak 7 hingga 9 Agustus kemarin. Dalam upacara penutupan latihan, Kamis (9/8), Dandim 1206/Psb Letkol Inf. M Ibnu Subroto berharap, para peserta setelah keluar dari latihan tersebut, lebih berkualitas dan profesional dalam melaksanakan tugasnya di lapangan.

“Walaupun kegiatannya hanya tiga hari. Karena sekarang kita dihadapkan dengan tantangan Karhutla. Hotspot setiap hari ada di wilayah Kapuas Hulu. Jadi dengan adanya karhutla diharapkan Polisi Kehutanan pro aktif dalam pencegahan,” pesan Dandim.

Dikatakannya, pencegahan karhutla adalah perintah langsung dari Presiden. Apa lagi saat ini Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games. Oleh karenanya, jangan sampai Polhut tidak peka dengan segala kejadian yang berhubungan dengan hutan. Khususnya kebakaran hutan.

“Polisi Kehutanan harus mempunyai sikap, kepekaan, kedisiplinan dan tanggung jawab karena tugasnya sangat berat. Seperti kegiatan pengamanan kawasan Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum dan Hutan Negara sesuai amanat peraturan dan UU yang berlaku,” terang Dandim.

Sementara itu Kepala BBTNBKDS Arief Mahmud menjelaskan, tujuan dari kegiatan tersebut yaitu meningkatkan kemampuan dan keterampilan setiap anggota Polhut. Sehingga dapat meningkatkan motivasi kerja dan pengetahuan guna menunjang tugas pokok dan fungsi perlindungan hutan.

“Polisi Kehutanan merupakan jabatan yang memiliki peranan sangat vital dalam pengelolaan kawasan hutan. Karena dengan keadaan aman maka manfaat hutan akan bisa kita rasakan bersama baik dari segi ekologi, ekonomi dan sosial masyarakat,” kata Arief.

Arief meminta setiap anggota Polhut agar selalu menanamkan rasa bangga, memiliki jiwa korsa yang kuat dalam tim dan profesional dalam bekerja.

Oleh karenanya, Polhut BBTNBKDS harus meningkatkan skil dan berbenah diri supaya tidak tertinggal, dapat melayani masyarakat serta melindungi dan menjaga kawasan hutan.

“Untuk itulah Polhut ini digembleng secara fisik dan mental selama tiga hari di Makodim 1206 Putussibau oleh narasumber dan instruktur yang kompeten dan terlatih.  Maka saya berpesan, ilmu yang telah didapatkan selama berlatih untuk didalami dan diterapkan dalam dunia kerja. Bekerjalah sesuai prosedur yang telah ada, bekerjalah dengan santun dan bekerjalah dengan hati,” pesan Arief.

 

Laporan:  Dedi Irawan, Sairi, Andreas

Editor: Arman Hairiadi