Tingkatkan SDM untuk Tangkal Hoaks

HCC Kalbar Gelar Pelatihan Training of Trainer

14
PEMATERI. Dian Lestari, Ketua Sejuk Kalbar saat menyampaikan materi dalam kegiatan ToT yang digelar HCC Kalbar di Hotel Kapuas Dharma Pontianak, Sabtu (11/8)--Nova Sari
PEMATERI. Dian Lestari, Ketua Sejuk Kalbar saat menyampaikan materi dalam kegiatan ToT yang digelar HCC Kalbar di Hotel Kapuas Dharma Pontianak, Sabtu (11/8)--Nova Sari

eQuator.co.idPontianak-RK. Hoax Crisis Center (HCC) Kalimantan Barat kembali menggelar sosialisasi dan pelatihan mengenai hoaks bagi sejumlah masyarakat, tenaga pengajar, komunitas dan jurnalis Pontianak, Sabtu (11/8) kemarin.

Kegiatan yang digelar di Hotel Kapuas Dharma tersebut merupakan salah satu upaya HCC untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam penguasaan materi antihoaks.

“Kegiatan Training of Trainer yang digelar oleh HCC Kalbar ini memiliki tujuan memerangi hoaks yang kerap menyebar di masyarakat,” ujar Reinardo Sinaga, Ketua HCC Kalbar.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini kata Reinardo, HCC menggandeng Komunitas Antihoaks. Yakni Komunitas Peduli Informasi (KOPI) Kalbar.

“Kita ajarkan para peserta mengenai bagaimana melawan dan menangkal hoaks. Peserta ada 30 orang berasal dari komunitas antihoaks, guru-guru, mahasiswa komunikasi, komunitas literasi, dan jurnalis Kalbar,” terangnya.

Dengan harapan, peserta yang ikut dalam kegiatan TOT ini dapat menciptakan kader-kader pelatih dalam mengedukasi masyarakat tentang cara menangkal hoaks.

Kemudian mampu menumbuhkembangkan semangat memerangi hoaks dalam kegiatan-kegiatan aksi nyata di masyarakat.

“Juga diharapkan mampu mendorong sinergitas antara pemerintah, masyarakat dan stakeholder lainnya dalam edukasi antihoaks,” lugasnya.

Pemateri dalam kegiatan tersebut, yakni Ketua Mafindo Kalbar Ema Rahmaniah, Ketua Serikat Jurnalis (Sejuk) Kalbar Dian Lestari dan Ketua HCC Kalbar, Reinardo Sinaga.

“Pada dasarnya pelatihan yang diberikan adalah upaya kita untuk mencetak agen penyebar informasi yang benar melawan hoaks yang menyebar di masyarakat terutama di media sosial,” tambah Dian Lestari.

Ia menilai, dibutuhkan keterampilan dalam upaya memerangi hoaks. Sebab sejauh ini yang terjadi di masyarakat adalah ketika berita hoaks disebar dengan jumlah yang sangat banyak, kepedulian terhadap hal tersebut masih kurang.

“Rata-rata penerima hoaks menyebarkan dan berhenti setelah itu. Namun tidak ada upaya untuk peduli. Dan kita ingin mengajak masayarakat lebih peduli terhadap penyebar berita hoaks atau ujaran kebencian,” tuturnya.

Ema Rahmaniah menambahkan, bahwa program ToT sebetulnya merupakan agenda yang bertujuan mengajak khususnya anak-anak muda yang cinta perdamaian dan punya visi dan misi menyebar kebaikan.

“Training ini juga upaya bagi peserta mengenali hoaks, mengajak agar sebelum men-share berita harus disaring terlebih dahulu. Sebab apabila menyampaikan informasi yang tidak benar tentu bertentangan dalam agama dan hukum,” tuturnya.

Untuk itu, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama memerangi serta mengkampanyekan bahwa hoaks adalah musuh besar bersama.

Laporan: Nova Sari

Editor: Ocsya Ade CP