-ads-
Home Features Terpaku Prosedur, Jelani Keburu Meninggal

Terpaku Prosedur, Jelani Keburu Meninggal

Berbulan-bulan Hidup di Bawah Pohon, Kadis Sosnaker Baru Tahu

ANTARA NYAWA DAN PROSEDUR. Berbulan-bulan hidup di bawah pohon, Jelani ditemukan tewas pada Senin (30/11). Jenazahnya dievakuasi ke RSUD Sanggau untuk diperiksa . I ST

eQuator – Peraturan yang kerap dipuji bagus, bisa jadi “kejam” dalam penerapannya. Itulah yang menimpa Jelani, 55 tahun, warga Sekadau yang menggelandang hidup di bawah pohon. Hanya sekitar 20 meter dari rumah pribadi Sekretaris Daerah Sanggau.

Senin (30/11) sekitar pukul 22.45, Jelani yang sudah jadi mayat ditemukan  Joko Silvester Leo, warga Komplek Kompi, di gubuk kecilnya. Padahal berbulan-bulan pemandangan tak sedap itu tanpa penanganan dari Pemkab Sanggau.

“Kasihan melihatnya sebatang kara. Saat saya panggil namanya, dia tidak menjawab, lalu saya senter ke dalam. Karena senter saya kurang terang, saya hanya melihat korban terbaring,” ungkap Joko kepada Rakyat Kalbar.

-ads-

Joko yang pulang mengantar temannya ke Sanggau Permai, menyempatkan diri singgah ke gubuk kecil itu untuk mengantarkan makanan sebagaimana kebiasaannya. Dia mulai curiga. Karena takut, Joko menyusul temannya ke Lapangan Futsal di Bunut dan memberitahu kakak kandungnya soal kondisi Jelani. Mereka pun akhirnya bersama-sama mendatangi lokasi.

“Setelah mengecek bersama-sama, memang sudah tidak bernyawa lagi. Dengan keadaan terlungkup dan kaki sedikit berlipat, dari mulutnya pun keluar serangga,” ungkapnya.
Kontan mereka menghubungi polisi. “Beberapa hari yang lalu saya juga mengantarkan makan untuk dia. Bukan hanya saya, hampir semua warga di dekat sini suka antar makanan karena iba lihat keadaan Jelani,” tutur Joko.

Di gubuk kecil yang terletak persis di bawah pohon itu, petugas juga menemukan surat baptis yang dikeluarkan Gereja Kemah Injil Indonesia Belitang Baru, Sekadau, dua foto laki-laki, kalung salib, sejumlah uang, dan jam tangan tua, Alkitab, serta pakaian.

Selama tinggal di situ, pria berambut ikal itu mengandalkan belas kasihan orang. Sementara Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Sanggau malah tak berbuat banyak, kalau tak boleh disebut tak peduli.

Kadisosnakertrans Sanggau, Jamilah, justru mengaku baru tahu keberadaan Jelani setelah meninggal. “Saya baru tahu dari Kabid saya, Pak Saiful,” katanya ketika dikonfirmasi via telpon, Selasa (1/12).

Bahkan, Jamilah mengaku masih menunggu laporan resmi terkait meninggalnya pria malang itu. “Baru dapat laporan dari mulut ke mulut, kalau ada orang terlantar yang meninggal,” tambahnya.

Menurut dia, ada jenjang yang harus dilalui dalam penanganan orang terlantar, paling tidak harus ada laporan. “Camatnya juga ndak ada lapor ke saya,” tutur Jamilah.

Padahal, sekitar sebulan lalu, awak media pernah memberitahukan keberadaan pria berkulit gelap itu kepada Ade Sarbini, Sekretaris Dinsosnakertrans Sanggau. Beritanya pun sudah dilansir di koran ini. Ketika itu, Ade Sarbini mengaku bisa saja memulangkan atau memberikan bantuan namun harus melalui sebuah proses.

“Prosedurnya, warga yang melapor ke kita, atau Ketua RT atau Lurah, baru kita siap menanganinya, itu kalau bicara prosedur. Kalau tiba-tiba kita bantu pulangkanlah misalnya, tiba-tiba ada keluarganya yang lapor atau tidak terima, bisa bermasalah,” alasannya.

Berbeda jika bersangkutan ditangkap tangan petugas Satpol PP, otomatis bisa langsung ditangani oleh Dinas Sosial. “Kalau misalnya dia sakit, kita bisa bantu urus BPJS-nya, begitu juga kalau memang dia orang luar, bisa kita pulangkan ke tempat asalnya,” beber Ade.

Selama tinggal di bawah pohon itu, kondisi Jelani cukup memprihatinkan. Hanya koran bekas dan handuk yang dijadikannya alas melepas lelah. Keberadaan Jelani sebelumnya dilaporkan seorang warga yang prihatin atas kondisinya.

“Waktu saya tanya, katanya tidak bisa pulang karena tak punya duit,” kata Ahmad Ismi, warga yang mengaku setiap hari melihat Jelani di bawah pohon.

Ia sering memberikan makanan dan sejumlah uang pada Jelani. “Kalau bisa sih dipulangkan. Waktu saya nemui dia, badannya menggigil, seperti sedang demam. Setelah saya cek, memang badannya terasa panas, lalu saya belikan obat di pasar, kasihan juga kalau dibiarkan begitu,” ujarnya.

INI SOAL KEMANUSIAAN!

Anggota DPRD Sanggau, Konggo Tjintalong Tjondro, menyesalkan ketiadaan penganan pemerintah terhadap Jelani. Menurutnya, Dinsosnakertrans harusnya peka terhadap kondisi Jaelani.

“Harusnya proaktif, ada rasa kemanusiaan. Kalaupun anggaran tidak ada, kan bisa panggil dulu, kalau masih di wilayah Sanggau, kita kirim kembali. Jangan sampai ditelantarkan, ada Undang-Undangnya fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara,” kecam Tjintalong.

Alasan belum adanya laporan, sehingga Pemerintah tak bergerak, dinilai Legislator Golkar itu tak masuk akal. “Ndak usah terlalu kaku. Ini soal kemanusiaan. Kita tangani dulu, soal biaya dan administrasi bisa nyusul,” kesalnya.

Kekecewaan serupa juga diutarakan Anggota Komisi B DPRD Sanggau, Hendrykus Bambang. Pasalnya, tiap tahun ada anggaran untuk penanganan orang-orang terlantar di pos anggaran Dinsosnakertrans Sanggau.

“Saya tak tahu detilnya. Tapi kalau Kabid yang menangani itu ada, artinya anggarannya ada. Jadi kemana anggaran itu?” tanya dia.

Ia menyayangkan sikap Dinsosnakertrans yang tak proaktif. Politisi Golkar ini juga mengaku pernah melaporkan keberadaan orang atau anak terlantar, termasuk anak punk ke Dinsosnakertrans. Tapi seperti dianggap angin lalu.

“Mereka terkadang saling lempar. Padahal ini kan tanggung jawab mereka,” keluhnya.

Ia juga menyesalkan alasan Dinsosnakertrans yang menunggu laporan baru menangani orang-orang terlantar. “Ini kerja sosial, bukan kriminal. Jangan tunggu laporan resmi. Nanti kalau saya tempatkan orang gila di depan rumah Bu Jamilah (Kadinsosnakertrans Sanggau, red), kalau ndak ada yang melapor ditangani ndak? Ini soal kemanusiaan. Apa tega melihat orang seperti itu?” cecar Bambang.

Sikap responsif harus lebih ditonjolkan. Dinsosnakertrans setidaknya melakukan penyisiran untuk mengetahui ada-tidaknya orang terlantar di Sanggau.

“Kemarin juga sudah dilaporkan masalah anak punk, tapi ndak ada tindakan juga,” ungkapnya.

Bambang pun berencana memanggil jajaran Dinsosnakertrans guna mempertanggungjawabkan anggaran yang kerap diajukan itu. “Tanggal 15 ini saya mau ke Jakarta untuk konsultasi masalah anggaran itu ke Kementerian Sosial. Pulang dari itu akan kita panggil,” janjinya. (Kiram Akbar, Sanggau)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Exit mobile version