Tak Takut Sanksi, Sungai Jawi Tetap Tercemar

Parit Masih Menjadi Bak Sampah

193
SAMPAH. Inilah kondisi Parit Sungai Jawi yang masih ada sampahnya, sehingga airnya jadi hitam dan bau, Rabu (3/8) pagi. Gusnadi-RK

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Parit Sungai Jawi masih kotor banyak sampah yang hanyut. Ini karena kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah parit itu masih terbilang rendah. Seolah-olah, warga masih tidak takut dengan sanksi pidana dan denda dalam peraturan daerah (Perda) Kota Pontianak Nomor 3 Tahun 2004 yang dengan tegas melarang membuang sampah sembarangan.

Warga Jalan Puskesmas Kelurahan Sungai Jawi Kecamatan Pontianak Barat

Feris Hendrawan menyatakan, prihatin atas kondisi Parit Sungai Jawi yang kembali dicemari oleh sampah buangan masyarakat. Akibatnya kalau surut, air menjadi hitam dan bau.
“Padahal Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pontianak kerapkali mengimbau masyarakat untuk tidak buang sampah ke sungai, tapi tetap saja sampah itu masih ada bahkan cukup banyak,” ujarnya, Rabu (3/8) pagi.
Padahal, kata pria yang biasa disapa Hendra ini, Parit Sungai Jawi digadang-gadang menjadi objek wisata kuliner. Bahkan Pemkot pernah melakukan pengerukan parit tersebut menggunakan alat berat. Alhasil, kondisinya sempat bersih, tidak dibanjiri sampah dan parit pun menjadi dalam dari sebelumnya.
“Awalnya saja setelah dikeruk, tapi setelah itu lumpurnya naik lagi ke atas sehingga kalau surut pinggir parit jadi kelihatan. Begitu juga dengan sampah mulai banyak kembali,” pungkasnya.
Diakui pria berusia 43 ini, kesadaran warga untuk tidak membuang sampah di parit masih kurang. Hal ini diperparah minimnya sosialisasi dan pemantauan dari pihak terkait agar warga tidak membuang sampah di parit.
“Sungai ini kan cukup panjang, selain masyarakat pelaku usaha juga banyak. Bisa saja masyarakat melakukan tindakan instan karena tidak kuasa membuang sampah mereka ke tempat yang disediakan,” ulas Hendra.
Senada disampaikan Warga Jalan H Rais A Rahman, Firman Hermansyah. Menurut pria 33 itu, kondisi Parit Sungai Jawi tidak hanya dipenuhi sampah. Limbah dari berbagai aktivitas warga pun membuat parit tercemar.
“Buktikan sendiri saja, datang saat air kering sampahnya, aliran limbah dari gang-gang. Aliran air dari gang itu hitam, pekat bau lagi,” sebutnya.
Firman mengakui pernah melihat warga membuang sampah menggunakan kerajang di parit. Saat itu malam hari dan air sedang pasang.

“Waktu itu saya lihat sekitar pukul 22.00 WIB, ya sampah-sampah itu ikut arus masuk,” pungkasya. (agn)