Tak Khawatir Cabai Mahal, Sulap Pekarangan Jadi Kebun

127
BERKUNJUNG . Walikota Sutarmidji mengunjungi kebun cabai milik KWT Sejahtera di Gang Telok Betong, Pontianak Utara, Sabtu (18/2). RISKA ANANDA

eQuator.co.idPontianak-RK. Melambungnya harga cabai, bukan berarti tidak bisa menyantap makanan pedas. Selagi masih ada pekarangan rumah, cabe tetap ada di dapur ibu rumah tangga.

Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Sejahtera, Hj. Siti Saleha mengajak ibu rumah tangga memanfaatkan lahan kosong di lingkungannya di Gang Telok Betong, Pontianak Utara untuk menanam berbagai sayuran dan cabai. Sudah 12 ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok tani ini bisa mendapatkan manfaatnya.

“Walau pun tidak banyak, setidaknya ibu-ibu tidak mengeluh atas tingginya harga cabai,” kata Siti, Sabtu (18/2) seraya mengatakan KWT Sejahtera ini terdiri dari 12 ibu rumah tangga.

Siti yang juga Ketua RT 02/RW 22 Gang Telok Betong, Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara itu menjelaskan, awal mula terbentuknya kelompok tani di RT-nya, karena melihat lahan kosong di dekat rumahnya. Lahan tersebut dijadikan tempat pembuangan sampah oleh warga.

“Saya berpikir untuk manfaatkan dan menjadikan lokasi tersebut tempat untuk berkebun. Akhirnya kami mendapatkan bantuan bibit dan tanah sebagai media tanam di dalam polybag,” jelas Siti.

KWT Sejahtera memanfaatkan lahan seefektif mungkin. Kelompok tani yang terdiri dari 12 ibu rumah tangga tersebut melakukan tanam ganti. “Sistem menanamnya gantian. Kalau sudah panen dan pohonnya mati, maka tanam lagi. Ini kita tanam sejak bulan Agustus lalu dan sudah panen juga,” ungkapnya.

Diakui Siti, hingga saat ini sudah tiga kali menanam selama terbentuknya KWT Sejahtera. “Kemarin kita panen tomat dapat 70 Kg dan cabai 10 Kg serta bunga kol 30 Kg. Pemasaran sangat gampang sekali, cukup dijual kepada masyarakat sekitar,” katanya.

Kemudian anggota KWT Sejahtera ada juga menanam cabai 5-10 polybag bahkan lebih di setiap rumahnya. Hasilnya untuk pribadi, agar tidak lagi membeli cabai di luar. Sedangkan uang hasil dari kebun yang dikelola kelompok tani, masuk kas dan diputar kembali seperti untuk membeli tanah, bibit, pupuk dan sebagainya. “Susah yang dicari itu tanah, dan harga tanah yang kompos kandang itu mahal,” keluhnya.

Siti mengaku, saat ini ada 500 polybag yang dijadikan media tanam, terdiri dari empat jenis tanaman. “Ada daun sop 75 polybag, terong 150 polybag, bunga kol 100 polybag dan sisanya cabai,” terangnya.

Walikota Pontianak H. Sutarmidji, SH, M.Hum sangat mendukung adanya pergerakan KWT Sejahtera ini. Menurutnya, pergerakan mandiri menanam cabai ini patut dicontoh masyarakat di seluruh Kota Pontianak. Sebab bila konsumen cabai menurun, maka akan menyebabkan terjadinya penurunan harga.

“Nah ini baru bagus. Kan enak kalau gini. Kalau semua menanam, jadi tak perlu beli lagi di pasar. Walau persedian mencukupi, itu lebih bagus lagi, nanti jadi turun lah hargenya,” ungkap Sutarmidji.

 

Laporan: Riska Ananda

Editor: Hamka Saptono