Sesak Napas, Suparto Wafat di Mekah

Kamaludin: Wafat Saat Haji Sangat Dimuliakan

15
Suasana rumah almarhum Suparto di Jalan Daeng Menambon Rt 01/Rw 01, Desa Kuala Secapah, Kecamatan Mempawah Hilir dipenuhi sanak keluarga, Minggu (8/12). Ari Sandy
Suasana rumah almarhum Suparto di Jalan Daeng Menambon Rt 01/Rw 01, Desa Kuala Secapah, Kecamatan Mempawah Hilir dipenuhi sanak keluarga, Minggu (8/12). Ari Sandy

eQuator.co.id – Mempawah-RK. Rumah di Jalan Daeng Menambon Rt 01/Rw 01, Desa Kuala Secapah, Kecamatan Mempawah Hilir dipenuhi warga, Minggu (8/12). Suasana duka masih terlihat sejak  almarhum Suparto Kartidjo Abdullah dinyatakan wafat di Mekkah pada 9 Agustus 2018 waktu Arab Saudi. Jemaah Calon Haji (JCH) asal Kabupaten Mempawah ini tutup usia setelah mengalami sesak napas.

Kabar duka itu diakui Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemanag) Mempawah, Kamaludin ketika dikonfirmasi Rakyat Kalbar. “Iya ada satu orang CJH yang meninggal dunia. Almarhum bernama Suparto Kartidjo Abdullah atau Suparto Bin Kartijo, yang berangkat bersama istrinya bernama Nurhayati binti Abdus Samad Muhammad Yusuh ke Tanah Suci Mekah,” ungkapnya, Minggu (8/12).

Kamaludin mengatakan, almarhum meningggal dunia di pemondokan di Tanah Suci, Kamis subuh (9/8) dan sudah dimakamkan oleh otoritas yang bertanggung jawab di Mekah, Makhtab. “Mahktab sudah melakukan proses pemakaman. Kalau ada yang meninggal, kita menghubungi pihak pemerintahan Saudi Arabia untuk mendapatkan COD (Certificate of Dead) kalau di kita surat kematian. COD ini lah yang akan digunakan untuk mengajukan klaim asuransi dan lain sebagainya,” paparnya.

Dia mengatakan, JCH yang meninggal dunia di Tanah Suci Mekah akan sangat dimuliakan dan langsung dimakamkan disana oleh otoritas yang berwenang di Kerajaan Saudi Arabia. “Jadi tidak ada jenazah yang dikembalikan bila meninggal saat menunaikan ibadah haji, karena prosedurnya seperti itu,” paparnya.

Dia mengatakan, jika ada JCH meninggal dunia di Tanah Suci akan dimuliakan, karena jenazahnya disalatkan di Masjid Nabawi, Madinah.  “Kalau meninggalnya di Mekah, maka disalatkan di Masjidil Haram. Luar biasa jutaan orang yang mensholatkan. Tadi kita juga sudah sampaikan ke keluarga almarhum supaya mengikhlaskan almarhum, karena beliau dimuliakan luar biasa,” ungkapnya.

Mengenai kronologis kematian, Kamaludin mengungkapkan, Kemenag Mempawah mendapatkan informasi bahwa almarhum mengalami sesak napas. Sehari sebelum almarhum meninggal dunia, gula darah almarhum sempat naik. “Beliau sesak napas, sehari sebelum meninggal gula darahnya naik sekitar 400. Dari laporan, sempat ditolong oleh dokter kloter, almarhum sudah diinfus, diberikan oksigen. Namun, almarhum tidak dapat tertolong,” ungkapnya.

Keterangan serupa disampaikan Rendi. Menantu almarhum Suparto itu mengatakan, sebelum berangkat almarhum memang mempunyai riwayat darah tinggi dan gula darah. “Bapak sebelumnya mengalami kenaikan gula darahnya, namun pas mau berangkat sudah normal lagi,” tuturnya.

Dia menjelaskan, ayah mertuanya sempat menelpon dia dan istrinya. Namun, tiba-tiba dalam telpon terdengar almarhum menangis. “Ndak pernah-pernah bapak nelpon sambil menangis, waktu ditanya kenapa, apakah bapak lagi sakit, tapi bapak ndak apa-apa katanya, bapak cuma sedih,” ungkapnya menuturkan perkataan ayah mertunya.

Rendi juga mengungkapkan, beberapa hari terakhir, istrinya mengalami mimpi yang aneh dan mungkin merupakan pertanda kalau ayah mertunya akan pergi untuk selama-lamanya. “Memang beberapa hari lalu, istri mimpinya nggak jelas, mimpinya itu kayak ketemu bapak dan almarhum kakak yang pertama. Seperti di rumah itu ramai, dan mimpinya itu nggak terlalu jelas, tapi bapak sama almarhum kakak yang pertama itu ada di rumah,” ungkapnya.

Rendi mengatakan, almarhum dikenal sebagai orang yang baik dan sangat dermawan semasa hidupnya. “Saya salut dengan bapak. Semoga amal ibadah bapak diterima disisi Allah SWT,” doanya.

 

Reporter: Ari Sandy

Editor: Yuni Kurniyanto