Serapan KUR Rendah, Pemerintah Harus “Hadir”

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Akademisi dan pengamat ekonomi dari Universitas Tanjungpura, Muhammad Fahmi menyampaikan bahwa serapan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diperuntukkan bagi para pengusaha UMKM di Kalimantan Barat masih tergolong rendah. Hal itu, diantaranya disebabkan faktor teknis, seperti persoalan tingkat agunan atau jaminan yang diberikan oleh para pengusaha UMKM.

“Program KUR di Indonesia pada umumnya termasuk di Kalbar daya serapnya terasa belum maksimal. Selain salah satunya faktor agunan bagi pengusaha mikro, juga yang utama adalah konsumsi terhadap produk UMKM yang masih rendah, ini berdampak pada serapan,” katanya, kemarin.

Sementara di sisi lain kata dia, pemerintah menargetkan Rp120 triliun pada 2016 ini. Namun pada akhir semester lalu hanya sekitar 30 persen yang terserap, begitu pula di Kalbar.

“Rencana pemerintah tahun 2017 akan menurunkan suku bunga menjadi 7 persen. Semoga hal itu bisa memicu pelaku UMKM terutama KUR Mikro untuk mengaksesnya,” ujarnya.

Secara umum, Fahmi berpandangan bahwa penyaluran KUR ke pelaku UMKM tahun ini sudah lebih baik dibanding tahun lalu.

“Termasuk telah bertambahnya bank penyalur, juga memudahkan pelaku usaha untuk mengakses KUR,” jelasnya.

Fahmi menilai, salah satu solusi agar dana KUR dapat terserap maksimal sebagaimana cita-cita pemerintah untuk mewujudkan perekonomian Indonesia lebih kuat, pemerintah sendiri harus membuat kebijakan khusus, bagaimana dana KUR ini benar-benar dapat dimanfaatkan bagi mereka yang serius ingin berusaha.

“Tentu pemerintah diharapkan mampu mengatasi hal-hal teknis seperti agunan, serta kendala administrasi pelaku mikro khususnya,” demikian Fahmi. (fik)