Serap Wisatawan Tak Melulu Bicara Pariwisata

Keberhasilan Tata Kelola Pemerintahan Juga Bisa

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Kesuksesan tata kelola pemerintahan menjadi satu strategi yang bernilai jual untuk menyedot para wisatawan datang ke Kota Pontianak. Buktinya, saking banyaknya prestasi tata kelola pemerintahan, Kota Pontianak kerap dikunjungi dari daerah lain untuk studi banding.

“Wisata sekarang tidak lagi bicara semata-mata tentang objek keindahan alam, arsitektur bangunan, dan lain sebagainya. Tidak juga. Tapi keberhasikan tata kelola pemerintahan sekarang sudah menjadi objek dari pemasaran wisata,” kata Wali Kota H Sutarmidji SH, MHum, saat membuka acara Pemilihan Bujang dan Dare Kota Pontianak 2016 di Gedung Pontianak Convention Center (PCC), baru-baru ini.

Sebagai contohnya, kata Sutarmidji, Kota Pontianak. Ombudsman RI telah menetapkan Pontianak sebagai kota yang memiliki standar layanan terbaik seluruh Indonesia. Kemudian Lembaga Administrasi Negara (LAN) juga menempatkan Pontianak sebagai kota dengan inovasi terbaik seluruh Indonesia.

“156 inovasi, kemarin sudah dipamerkan di sini (PCC) semua. Alhamdulillah, sambutan seluruh Wali Kota se-Kalimantan yang kebetulan hadir mengapresiasi inovasi yang dilakukan Pemerintah Kota Pontianak,” ujarnya.

Selain itu, kota yang dilintasi oleh garis khatulistiwa ini juga didaulat memiliki Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terbaik di wilayah timur. Selama dua tahun berturut. Sampai-sampai, Pontianak dilarang ikut serta untuk kali ketiga. Khawatir akan menang lagi.

“Majalah Tempo menempatkan Kota Pontianak sebagai yang terbaik. Koran Sindo menempatkan pembangunan infrastruktur terbaik. Smart City kita masuk lima besar terbaik. Kita nomor empat dari 11 kota untuk indeks persepsi korupsi dari Transparansi Internasional Indonesia (TII). Bandung itu urutan terakhir,” terang Sutarmidji.

Artinya, lanjut dia, kesuksesan tata kelola pemerintahan saat ini dapat menjadi salah satu objek yang bisa dipasarkan. Apalagi, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara saat ini mencanangkan tidak lagi menggunakan istilah studi banding terhadap daerah yang maju. Melainkan studi tiru.

“Artinya inovasi-inovasi yang kita buat boleh ditiru daerah lain dan siapapun harus belajar di sini. Tahun lalu hampir 200 daerah yang berkunjung ke Pontianak untuk studi banding termasuk 11 daerah yang melakukan studi Diklatpim-nya ke Pontianak. Itulah sumbangsih kita kepada para pengusaha di sektor perhotelan,” tuturnya.

Diharapkan Sutarmidji, instansi terkait maupun Bujang dan Dare Pontianak 2016 jadi perpanjangan lidah pemerintah untuk mempromosikan hal-hal ini. Dan untuk alasan itu juga lah, Politisi PPP ini dari awal menekankan pentingnya wawasan yang luas untuk dimiliki oleh Bujang dan Dare.

“Yang jadi calon duta wisata, pas ditanya WTP saja tidak ngerti, jangankan mau ditanya sudah berapa kali, WTP saja dia tidak tahu, seperti yang (tahun) lalu. Jadi jangan lagi cerita pariwisata itu cerita keindahan alam, keindahan arsitektur, sekarang sudah meluas. Setidaknya komponen-komponen tadi bisa menjadi daya tarik tambah untuk membuat orang lebih lama tinggal di Pontianak,” demikian Sutarmidji.

Laporan: Fikri Akbar

Editor: Arman Hairiadi