Seorang Satpol PP Pingsan saat Mengamankan Dokumen Penting

Rumah Dinas Bupati Sintang Ludes

23
TINGGAL PUING-PUING. Rumah dinas Bupati Sintang, yang juga merupakan bangunan bersejarah ludes terbakar, Kamis (26/7). Benidiktus Krismono-RK
TINGGAL PUING-PUING. Rumah dinas Bupati Sintang, yang juga merupakan bangunan bersejarah ludes terbakar, Kamis (26/7). Benidiktus Krismono-RK

Kamis (26/7) dini hari, sekitar pukul 00.45 WIB, anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sintang, yang bertugas di rumah dinas bupati, dibuat pontang-panting. Apa yang terjadi?

Benidiktus Krismono, Sintang

eQuator.co.id – Ternyata, saat itu, turun hujan sangat deras disertai angin kencang. Plus petir. Petirnya bahkan menyambar tiga kali. Elektrifikasi dari PLN pun padam. Secara otomatis, genset hidup.

Entah bagaimana, percikan api terjadi. Mungkin karena angin yang kencang, bahan bangunan yang sebagian besar dari kayu dengan cepat dilahap api.

Si jago merah mengalahkan air yang turun dari langit. Dia bertahan, membesar, dan melahap hampir seluruh bangunan rumah dinas bupati.

Beruntung para petugas piket Satpol PP malam itu cekatan. Langsung menghubungi petugas pemadam kebakaran Sintang. Juga mengamankan barang-barang yang ada. Beruntung, kendaraan dinas, dokumen, dan barang penting lainnya bisa diselamatkan.

Salah seorang anggota Satpol PP Sintang, Adrianus Sutrisno, pingsan. Saat berusaha menyelamatkan dokumen-dokumen penting. Beruntung, para petugas ini bahu-membahu, tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Sebanyak lima unit mobil pemadam kebakaran Sintang, tiga unit mobil Busera, dua unit mobil Manggala Agni, satu unit Water Cannon Polres Sintang ,satu unit mobil tangki Korem 121/ Abw, dikerahkan. Untuk meredakan amarah si jago merah.

Dia berhasil dipadamkan sekitar pukul 03.00 WIB. Pendinginan dilakukan hingga pukul 06.00 WIB. Sebanyak 80 orang dikerahkan untuk memadamkan api.

Belum bisa ditaksir berapa kerugian yang dialami akibat peristiwa tersebut. Yang pasti, Kabupaten Sintang kehilangan cagar budaya yang sudah ada dari jaman Belanda itu.

“Diduga kebakaran terjadi karena adanya sambaran petir sebanyak tiga kali pada saat hujan deras, karena angin yang kuat, api dengan cepat membesar dan menghanguskan sebagian besar bangunan rumah dinas bupati ini,” tutur salah seorang pemadam kebakaran, Marten Nandung.

Para pemadam pun stand by di sana. Sampai sore hari.

“Karena cuaca yang panas, takut apinya hidup lagi,” tambahnya.

Ditemui terpisah, Wakil Ketua DPRD Sintang, Terry Ibrahim menyatakan keprihatinannya. Sebab, rumah tersebut setiap saat digunakan Bupati Sintang Jarot Winarno untuk menerima masyarakat dan tamu lainnya.

“Karena ini rumah dinas dan juga untuk melayani masyarakat, ya harus kita anggarkan untuk dibangun kembali, bagaimanapun kondisinya dan akan kita bahas sama-sama,” tuturnya.

Bahkan, menurut dia, kalau memang satu tahun anggaran tidak bisa selesai, akan disesuaikan di tahun berikutnya.

“Pembangunan kembali rumah dinas bupati ini akan dilakukan secara bertahap,” jelas Terry.

Pada saat kejadian, Bupati Jarot sedang menjalankan tugas di luar Sintang. Kepada wartawan, ia merasa sedih.

“Pendopo bukan hanya tempat tinggal saya saja, ini merupakan rumah masyarakat Sintang dan sekaligus warisan budaya milik bangsa Indonesia,” ujarnya. Imbuh Jarot, ”Jadi kita sayangkan yang  terjadi, bangunan bersejarah hilang di tempat kita karena terbakar”.

Ia sudah mengecek melalui sambungan seluler terkait kondisi terakhir cagar budaya Sintang itu. Rangka bawah dan sekat-sekat masih ada.

Kapolres Sintang pun sudah menelponnya. “Bahwa besok (hari ini) rencananya akan datang bapak Direskrimum Polda Kalbar untuk melakukan olah TKP, sesudah olah TKP oleh beliau barulah diperkenankan kepada kita untuk mulai membersihkan tempat ini,” papar Jarot.

Ia memohon beribu maaf kepada masyarakat Sintang karena sudah diberi amanah, tapi tidak bisa menjaga bangunan bersejarah tersebut. “Kita ndak bisa terlalu terlarut dalam kesedihan karena cobaan ini,” tukasnya.

Jarot menyatakan, pelayanan kepada masyarakat akan tetap dilakukannya. Untuk sementara ia akan menempati dua lokasi untuk melakukan tugasnya itu.

“Saya punya aset pribadi pondok kecil di bandara dan satu lagi rumah kopi di Kelam,” jelasnya.

Imbuh Jarot, ”Beribu ampun karena tidak bisa melayani masyarakat seperti biasa, kalau dulu kan jam enam masyarakat sudah menunggu saya di pendopo, kadang sampai jam satu malam masyarakat masih mendatangi”.

Dengan terjadinya musibah ini, ia juga akan lebih banyak melayani masyarakat di kantornya. “Saya akan berdiskusi dengan teman-teman terutama dinas pendidikan dan kebudayaan untuk pembangunan kembali,” jelasnya.

Salah seorang masyarakat Sintang yang dihubungi wartawan juga menyatakan keprihatinannya akan hilangnya cagar budaya, bangunan bersejarah itu. Namun, ia bersyukur tidak terjadi apa-apa dengan Bupati Jarot. (*)