Seorang Diri Membesarkan Tiga Anaknya yang Lumpuh

Perjuangan Dora Tak Buat Pemerintah Iba

39
SAKIT MASSAL. Dora Iskandar Alam bersama dua putranya yang lumpuh, Ahmad Iskandar Dinata dan Fiki Alam Dinata, Rabu (25/4). Sementara putra nomor dua, Dafi Alam Dinata, mengalami lumpuh di seluruh tubuh sehingga sehari-hari hanya dapat berbaring di tempat tidur. SAMSIR HAMAJEN/MALUT POST
SAKIT MASSAL. Dora Iskandar Alam bersama dua putranya yang lumpuh, Ahmad Iskandar Dinata dan Fiki Alam Dinata, Rabu (25/4). Sementara putra nomor dua, Dafi Alam Dinata, mengalami lumpuh di seluruh tubuh sehingga sehari-hari hanya dapat berbaring di tempat tidur. SAMSIR HAMAJEN/MALUT POST

Sungguh keras perjuangan hidup Dora Iskandar Alam. Perempuan setengah abad ini harus merawat sendiri tiga anaknya yang menderita lumpuh. Kondisi ekonomi membuat ketiganya tak pernah mendapat perawatan medis.

Samsir Hamajen, Labuha

eQuator.co.id – Di rumah sederhana itu Dora Iskandar Alam (58) tinggal bersama tiga anak lelakinya. Ketiganya sudah memasuki usia dewasa. Sayangnya, Ahmad Iskandar Dinata (28), Dafi Alam Dinata (27), dan Fiki Alam Dinata (26) tak bisa beraktivitas selayaknya lelaki lain. Mereka menderita lumpuh selama bertahun-tahun.

Saat ditemui di kediaman mereka di Desa Mandaong, Kecamatan Bacan Selatan, Halmahera Selatan, Dora hanya bisa menemui Malut Pos (Jawa Pos Group) bersama Ahmad dan Fiki. Sedangkan Dafi tetap berada di kamarnya.

Ahmad dan Fiki sama-sama mengalami kelumpuhan pada kedua kaki mereka. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, si sulung dan si bungsu ini menggunakan kekuatan tangan mereka.

Berbeda lagi dengan kondisi Dafi. Putra kedua Dora dan Prinata itu sehari-harinya hanya dapat berbaring di tempat tidur. Ia mengalami kelumpuhan total di seluruh tubuhnya. Segala kebutuhan sehari-hari Dafi harus dibantu ibunya.

Ahmad, Dafi, dan Fiki terserang lumpuh pada waktu berbeda-beda. Namun gejalanya sama, demam tinggi. Ahmad dan Fiki mengalami kelumpuhan sejak duduk di bangku SMA. Alhasil, keduanya tak bisa melanjutkan pendidikan. “Sedangkan Dafi sakitnya setelah lulus SMA,” tutur Dora, Rabu (25/4).

Dafi bahkan sempat bekerja sebagai tenaga honorer di gudang obat milik Dinas Kesehatan. Namun gara-gara terserang lumpuh ia harus diberhentikan dari pekerjaannya. Dora harus seorang diri menanggung ketiga anaknya. Sang suami Prinata telah meninggal dunia bertahun-tahun lalu.

Untuk bertahan hidup, ia kerap menjadi buruh cuci bagi tetangga-tetangganya. Bisa membeli beras dan ikan untuk makan anak-anaknya saja Dora sudah bersyukur. ”Dulu saya jualan makan tapi sekarang tidak lagi,” katanya.

Tiga bersaudara ini tak pernah mendapat penanganan medis. Kondisi ekonomi lagi-lagi menjadi alasannya. Menurut Dora, ketiganya pernah sekali dibawa ke rumah sakit. “Kepala desa yang bawa. Tapi karena tidak punya uang untuk perawatan, dipulangkan lagi,” terangnya.

Saat ini, Dora mengaku pasrah dengan kondisi anak-anaknya. Ia tak tahu harus mencari dimana biaya untuk berobat. “Sudah belasan tahun mereka sakit begini. Bagaimana bisa mengharap sembuh sementara uang berobat tidak ada,” ucapnya.

Mirisnya, rumah Dora dan anak-anaknya terletak tepat di depan kantor Dinas Kesehatan Halsel. Fakta itu tak membuat pemerintah setempat punya kepekaan untuk turun tangan membantu pengobatan Ahmad, Dafi, dan Fiki. “10 tahun lebih anak-anak begini, tapi tidak ada pemerintah yang datang lihat kondisi mereka,” kata Dora.

Kepala Desa Mandaong Julkifli membenarkan ada warganya yang menderita lumpuh sekeluarga. Ia mengaku hanya bisa berharap pemerintah daerah mau memberikan akses pengobatan gratis untuk tiga putra Dora. “Kami harapkan agar mereka juga mendapatkan pelayanan kesehatan gratis seperti warga lainnya di Halsel,” tukasnya. (*/Malut Pos)