Sempat Enggan Kibarkan Merah Putih

Kecamatan Puring Kencana itu Beranda Depan NKRI

253
MENANTI BUAH KEMERDEKAAN. Inilah Sungai Empanang yang harus diarungi untuk menuju Desa Sungai Antu, di Kecamatan Puring Kencana, Kabupaten Kapuas Hulu . ANDREAS -RAKYAT K ALBAR

eQuator – Lihatlah, anak-anak berlarian menuju sekolah yang di halamannya tertancap tiang dengan bendera merah putih. Itulah salah satu dari sembilan Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Puring Kencana, kawasan yang berbatasan langsung dengan Malaysia Timur. Baru beberapa tahun terakhir sekolah ada gurunya walau belum cukup. Begitu juga Puskesmas, masih terbatas pelayanannya untuk penduduk yang berjumlah 5.000 orang.

“Rasanya buah merdeka baru beberapa tahun ini kami rasakan, seperti bidang pendidikan. Makanya tidak heran kalau masyarakat kami masih ada yang menyekolahkan anaknya ke negeri jiran,” ungkap Patih Pilang, tokoh masyarakat Dayak Iban, Desa Sungai Antu, kepada Rakyat Kalbar, Jumat (27/11).

Sebagai halaman depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kondisi Kecamatan Puring Kencana belum bisa diandalkan sebagai etalase. Sebab, infrastrukturnya masih memprihatinkan, terutama jalan dan jembatan. Fasilitas pendidikan dan kesehatan pun masih terbatas. Sering dikeluhkan warga setempat. Karena itu, sulit untuk menyalahkan masyarakat Puring Kencana pada pilihan menyandarkan harapan ke negara seberang seperti yang diungkapkan Patih Pilang tadi.

Puring Kencana adalah satu dari lima kecamatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia  dari jumlah 23 kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu. Lumayan luas,  448,55 km persegi dengan jumlah penduduk 5000 orang. Mata pencaharian penduduk mayoritas peladang berpindah, berkebun lada, karet, dan buruh kelapa sawit di Malaysia.

“Betul wilayah Indonesia luas, kita pun tahu. Tapi kami ini harus diperhatikan. Dulu sangat susah tidak ada akses jalan, maka dulunya kami tidak mau naikkan bendera, turunkan bendera, ketika peringati HUT Kemerdekaan 17 Agustus. Karena kami belum menikmati rasa kemerdekaan itu,” tutur Pilang.

Untuk sampai di Desa Sungai Antu, Kota Kecamatan Puring Kencana, wartawan Rakyat Kalbar harus menempuh jarak ratusan kilometer yang makan waktu 6-7 jam dari Kota Putussibau, Ibukota Kabupaten Kapuas Hulu, menggunakan kendaraan roda empat. Itupun harus melalui Kecamatan Putussibau Utara, Embaloh Hulu, Batang Lupar, Badau, dan Kecamatan Empanang.

Kalau dari Putussibau ke Nanga Badau harus menempuh jarak 170 km. Dari sana ke Puring Kencana menempuh 50 km dengan kondisi jalan rusak. Plus, harus mengarungi dan menyeberangi sungai yang belum ada jembatannya sama sekali.

Jika hendak menuju Lubuk Antu, Malaysia, melewati Pos (PPLB) Nanga Badau kurang lebih 30 menit sudah sampai. Sedangkan dari Puring ke Sarawak, Malaysia, melintasi jalan tikus makan waktu berkisar 1-2 jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Walaupun jauh, untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, warga di sana harus ke luar negeri. Dulu, sekolah pun di luar negeri, di Sarawak.

“Kondisi sekarang sedikit lebih baik dibanding sebelumnya. Karena akses jalan menuju Kecamatan Puring Kencana sudah terbuka meski dengan kondisi seadanya,” kata Pilang.

Kecamatan ini sudah tersedia 9 Sekolah Dasar (SD), 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP), satu Puskesmas dan empat Puskesmas Pembantu (Postu), setelah dimekarkan dari Kecamatan Empanang.

Data yang dihimpun koran ini, memang benar bahwa hingga kini tercatat 18 siswa asal Puring Kencana sekolah di Malaysia, 10 siswa SD, 8 siswa SMP dan SMA. Pilihan masyarakat menyekolahkan anaknya ke jiran karena fasilitas pendidikan yang jauh lebih baik. Semua siswa dari Puring Kencana diasramakan. Waktu kegiatan belajar-mengajar pun sangat disiplin di sana.

Temenggung Dayak Iban Puring Kencana, Yosef Bose, mengakui bahwa masyarakat merindukan infrastruktur jalan, jembatan, yang memadai berikut sarana pendidikan dan kesehatan yang layak. “Saya hidup di bumi Puring Kencana ini sudah hampir 65 tahun. Ini permasalahan kita, masyarakat bertanya kapan kita mendapat buah merdeka itu? Namun sekarang kita bersyukur karena akses sudah terbuka meski kondisinya memang tidak terawat dan jembatan belum ada menuju ke sini,” katanya.

Bayangkan, kala musim hujan seperti sekarang, air sungai naik sehingga tidak bisa dilewati kendaraan yang menyuplai bahan kebutuhan pokok masyarakat. Sehingga, sudah terbiasa masyarakat memilih untuk mengonsumsi barang dari negara tetangga.

“Karena kalau kami ke Malaysia dekat dan mudah ditempuh. Jalan kaki sekitar dua jam sampai, naik sepeda motor paling satu jam. Hasil kebun seperti lada juga kami jual ke sana, karena harganya lebih mahal,” ujar Yosef.

Diungkapkannya, hubungan masyarakat Puring Kencana dengan warga Malaysia di perbatasan sangat erat. Menurutnya, bagaimanapun pemerintah memisahkan, hubungan keluarga yang sudah terjalin selama ini menjadi penyatu antar dua warga negara.

“Karena memang kita dulunya nyatu, hanya karena dibuat garis perbatasan jadi seolah-olah terpisah. Seperti di sana orang Iban, kita di sini juga orang Iban. Dan kita juga sering bertemu dengan pemimpin mereka, bahwa kita sama-sama sepakat menjaga keamanan,” ungkap Yosef.

Hujan emas di negeri orang, bagaimanapun, menurut Yosef Bose, tidak membuat luntur rasa nasionalisme dan patriotisme masyarakat. Hujan batu pun di negeri sorang (sendiri), lanjutnya, masyarakat masih sadar bahwa mereka berada dan hidup di wilayah NKRI.

“Meski dibatasi, kita tetap mengakui bahwa kita di Puring Kencana ini adalah warga negara Indonesia. Garuda lambang negara dan Pancasila ideologi kita. Merah Putih tetap kita kibarkan. Kalau dulu memang suasananya agak lain, tapi sekarang kalau 17 Agustus, setiap rumah kibarkan bendera Merah Putih,” papar Yosef.

Bagi masyarakat perbatasan, penetapan tempat tinggal mereka sebagai kawasan strategis nasional merupakan angin segar. Akan banyak program pembangunan yang bakal diimplementasikan di daerah tersebut. Asal berbukti bukan sekedar janji sehingga Merah Putih tetap di hati. (*)

Editor: Mohamad iQbaL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here