Selesai Nyinden, Lanjut Memainkan Bonang

Di Rusia Bertemu “Suwe Ora Jamu” dan “Pendet”

BUDAYA INDONESIA. Kelompok gamelan Dadali sedang berlatih. Muhammad Tan Reha/Jawa Pos

Dari tembang Jawa sampai Sunda, mulai tarian Bali hingga Papua, telah dikuasai grup gamelan serta tari warga Rusia binaan KBRI Moskow. Wartawan Jawa Pos BAYU PUTRA berkesempatan menyaksikan langsung latihan mereka di ibu kota Rusia itu.

Hanyelaki janji… slendang biru

Slendang biru… hamung… enaki… ati…

Nora tekan… batin setiamu…

Slendang biru tetepono janjimu slendang biru

eQuator.co.id – TEMBANG ciptaan Ki Nartosabdo itu terdengar syahdu di ruang latihan gamelan kompleks KBRI Moskow, Rusia. Mengalun dari bibir sang sinden, Julia Ryzhaya.

Logatnya saat nembang masih belum benar-benar medok njawani 100 persen. Maklum, dia memang warga Rusia. Namun, lengkingan suaranya sudah cukup menggetarkan hati para pendengar.

Pada Rabu tiga pekan lalu itu (12/12), bersama partnernya, Anna Mamedova, Rhyzaya begitu fasih melantunkan sejumlah tembang. Tidak kurang dari 25 lagu mereka kuasai. Di antaranya, selain Slendang Biru, adalah Ndolalak, Suwe Ora Jamu, dan Simpang Lima.

Tidak melulu lagu Jawa. Ada pula, misalnya, Manuk Dadali yang berasal dari Tatar Sunda. Bahkan, nama grup gamelan tempat Ryzhaya dan Mamedova bergabung juga diambil dari lagu tersebut, yakni Gamelan Dadali.

Dibentuk pada 2017, Gamelan Dadali menjadi grup gamelan pertama di Rusia dan beranggota warga setempat. KBRI memfasilitasi peralatan gamelan lengkap. Mulai bonang, demung, kenong, gong, gambang, hingga instrumen musik lainnya. Grup tersebut beranggota 15 orang dan dipimpin staf KBRI Tri Yoko.

Rhyzaya tidak hanya menjadi pesinden. Dia juga menguasai sejumlah instrumen gamelan. Sehingga, ada saat tertentu dia tidak nyinden, tapi menjadi pemain gamelan. ’’Kami diajari semuanya, tidak hanya satu alat musik,’’ tutur Ryzhaya yang menyebut bonang sebagai alat musik favoritnya.

Karena itu, Rhyzaya pun tanggap saat malam itu Tri mencoba latihan memainkan musik pengiring tari remo. Dari tempatnya nyinden, dia beranjak menuju bonang.

Tangannya pun lincah memukul setiap bonang mengikuti irama. Tanpa perlu lagi melihat catatan nada. Setiap nadanya sudah dia hafal di luar kepala.

Ryzhaya mengaku menyukai gamelan sejak 2016. Awalnya, di sela kelas bahasa Indonesia, dia mencoba gamelan dan langsung jatuh cinta.

Puncaknya adalah saat ada penampilan gamelan di Festival Indonesia pada Agustus 2016. ’’Tidak lama setelah itu ambassador (Dubes) mengundang guru gamelan. Tentu saja saya langsung bergabung,’’ tuturnya.

Karena pernah berlatih seriosa, Ryzhaya juga mengiyakan tawaran menjadi pesinden. ’’Gugur Gunung. Ayo konco ngayahi karyaning projo,’’ ucap gadis 27 tahun itu saat ditanya apa tembang pertama yang dikenalkan kepada dia.

Menurut Ryzhaya, ada perbedaan musik gamelan dengan musik pada umumnya. Terutama dalam hal sistem notasi. ’’Nada pertama, misalnya, tidak mirip dengan nada do atau re. Jadi, kami harus belajar dari awal,’’ lanjutnya. Musik pada umumnya memiliki tujuh tangga nada dasar, sedangkan gamelan hanya lima atau pentatonik. Kali pertama, dia mengaku sulit mengerti notasinya. Namun, lama-lama dia makin memahami.

Ada satu keinginan mahasiswa S-2 linguistik Moscow State University itu. Dia sangat ingin datang ke Indonesia sebagai pesinden dan pemain gamelan. Bukan sebagai turis seperti sebelumnya. Rhyzaya sudah pernah berkunjung dua kali ke Indonesia. Cirebon, Bandung, Jakarta, Jogjakarta adalah kota-kota yang pernah dia kunjungi. Dan, tentu saja dia juga mampir ke Bali.

Bisa dibilang, Rhyzaya mengikuti perkembangan seni Indonesia secara keseluruhan. Film, misalnya, juga dia ikuti. ’’Saya ingin bertemu Garin Nugroho,’’ tambahnya merujuk kepada nama sutradara ternama Indonesia.

Tri Yoko menuturkan, perbedaan bahasa menjadi kendala utama dalam proses pengajaran bermain gamelan. Beruntung, sebagian besar penggawa Gamelan Dadali mampu berbahasa Indonesia meski belum lancar benar.

Dari total 25 anggota Gamelan Dadali, sebagian memang mahasiswa yang belajar bahasa Indonesia di kampus. Tapi, sebagian lainnya berlatar belakang beragam. Ketertarikan mereka pada gamelan rata-rata bersumber ketika menyaksikan Festival Indonesia 2016.  ’’Justru malah enaknya kalau orang bule itu, mereka dari nol sehingga sangat mudah untuk menerimanya,’’ terangnya.

Untuk mengajarkan nada dasar gamelan kepada para anggotanya, Tri butuh waktu setidaknya tiga bulan. Setelah nada-nada dasar dikuasai, materi baru akan lebih mudah untuk diberikan.

Dalam tempo kurang dari dua tahun, sudah lebih dari 25 lagu yang mereka kuasai. Gamelan Dadali pun sudah beberapa kali tampil di berbagai kota. November lalu, misalnya, mereka tampil di Minsk, Belarus.

Gamelan Dadali juga pernah tampil di Kazan, Suzdal, dan Saint Petersburgh. Semuanya di Rusia. Sambutannya selalu meriah. ’’Karena baru pertama mendengar musik gamelan, mereka sangat antusias,’’ tambahnya.

Gamelan Dadali memiliki partner saat tampil di Minsk. Yakni, grup tari tradisional KBRI yang dipimpin staf KBRI Elisabeth Nur Nilasari. Namanya, Kirana Nusantara Dance (KND).

Dibentuk pada 9 Februari 2017, para anggota grup KND saat ini sudah menguasai sejumlah tari tradisional Indonesia. Baik yang beraliran klasik, kreasi baru, maupun kerakyatan. Di antaranya, genjring, merak (keduanya dari Jawa Barat), gambyong, dolalak (keduanya dari Jawa Tengah), remo (Jawa Timur), pendet, margapati (keduanya dari Bali), tortor (Sumatera Utara), dan cenderawasih (Papua).

Saat Jawa Pos memantau latihan mereka pada 13 Desember lalu, Elis dan sepuluh penari sedang berlatih tari gambyong dan pendet. Gerak tubuh para penari Rusia tersebut begitu gemulai.

Lenggak-lenggoknya menunjukkan penguasaan gerakan mereka begitu apik. Beberapa gerakan pinggul maupun jemari yang bagi sebagian orang terlihat sulit mereka libas.

Ketika diwawancarai, mereka duduk bersimpuh layaknya gadis Jawa tradisional. Mereka mampu bertahan dalam posisi tersebut lebih dari 15 menit.

Tidak tampak ekspresi menahan sakit karena bersimpuh terlalu lama. Dengan santainya, mereka mengobrol satu sama lain, mencoba gerakan tangan, sembari tetap duduk bersimpuh. Satu hal yang bagi sebagian orang Jawa sekalipun butuh perjuangan untuk bertahan.

Elis menuturkan, klub tari tersebut terbentuk pada 2017. Tidak mudah bagi Elis mengajari orang Rusia. Kendala utama ada pada bahasa. Sebab, tidak semua penari bisa berbahasa Indonesia.

Juga, hitungan nada untuk menandai gerak tari pun berbeda. Tekniknya pun berbeda. ’’Karena biasanya kalau di sini basic-nya mereka adalah tari perut,’’ tuturnya.

Sementara itu, tarian Indonesia begitu kompleks. Ada gerakan tangan, kaki, bahkan sampai pada gerakan mata. ’’Ini gerakannya lembut, tapi ini dilakukan dengan energi juga,’’ lanjutnya sembari mencontohkan salah satu gerakan tangan. Mereka belum bisa menguasai sampai sedetail itu. Namun, sudah sempat mencoba.

Khusus untuk tari klasik, seperti gambyong (Jawa Tengah) atau pendet (Bali), Elis tidak menggunakan hitungan. Mereka menari mengikuti respons musik. Memang, risikonya latihan jadi lebih lama. Namun, dia tetap teguh tidak menggunakan hitungan. Sebab, menurut Elis, tari klasik tidak bisa dihitung, hanya bisa dirasakan.

Salah seorang penari, Valentina Kopotintseva, belajar sejak Maret 2017. Dia tertarik setelah melihat Elis memperagakan tarian Jawa. Sejauh ini dia sudah menguasai sepuluh jenis tarian. ’’Tarian Indonesia itu unik dan ini (latihan) menjadi cara saya mempelajari budaya Indonesia melalui bahasa tubuh,’’ tuturnya.

Sebagai penari, Kopotintseva termasuk gigih. Hampir tiap malam dia berlatih, selepas bekerja di salah satu bank di Moskow. Gerakan tubuhnya pun makin lentur, terutama saat berlatih tari-tarian klasik seperti gambyong dan pendet.

Perempuan 30 tahun itu punya keinginan untuk berkunjung dan menari di Indonesia suatu saat. Yang penting, saat ini dia akan terus berusaha menguasai tari-tarian Indonesia. ’’Saya tidak tahu apakah itu (kunjungan, Red) nanti bisa terwujud atau tidak,’’ tambahnya.

Dubes RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus Mohamad Wahid Supriyadi menuturkan, pembentukan grup gamelan dan tari itu merupakan bagian dari diplomasi budaya. Terlebih, masyarakat Rusia begitu cinta pada budaya. ’’Karena budaya adalah jalur paling mudah untuk membina hubungan antarnegara,’’ ucapnya.

Wahid punya satu keinginan atas capaian yang telah diraih grup gamelan dan tari tersebut. Khususnya grup gamelan. Dia punya obsesi mendatangkan mereka ke Indonesia dan mengikutsertakan dalam festival gamelan di Jogjakarta.  ’’Saya ingin membuat mereka (grup gamelan Indonesia) malu karena di Rusia ada yang bisa main dengan lebih bagus,’’ tambahnya. (*/Jawa Pos/JPG)