Sedekah Melalui Lembaga Resmi Lebih Tetap Sasaran

Diprediksi Meningkat, Pemkot Antisipasi Pengemis Musiman

28
Ilustrasi : Internet

eQuator.co.idPONTIANAK-RK. Orang akan berlomba-lomba berbuat kebajikan selama Ramadan, termasuk beramal. Zakat, infak dan sedekah disarankan disalurkan di lembaga resmi.

Ramadan di Kota Pontianak kerap bermunculan pengemis musiman. Mereka berdatangan dari luar Pontianak dan terorganisir. “Maka sebaiknya masyarakat menyalurkan infak dan sedekah serta zakat pada lembaga resmi yaitu Baznas atau lembaga resmi lainnya,” imbau Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pontianak, Jalaluddin Ahmad, Minggu (20/5).

Memang tidak ada larangan memberikan sedekah kepada pengemis. Namun alangkah baiknya sedekah yang diberikan tepat sasaran. Jika di Baznas, nanti akan disalurkan untuk yang benar-benar membutuhkan. Selain itu, dipergunakan untuk kegiatan produktif dan Pemberdayaan.

“Kita khawatir kalau sedekah yang tujuannya mulia dari masyarakat itu malah salah kasih pada mereka yang menjadi pengemis musiman ini, dan bisa menimbulkan masalah,” pungkasnya.

Ragam modus yang dilakukan pengemis musiman ini untuk mengharapkan iba masyarakat. Padahal tak jarang mereka sebenarnya masih mampu untuk bekerja. Mereka memilih jadi pengemis lantaran lebih mudah dan cepat mendapatkan uang.

“Memang kita lihat saat Ramadan dan menjelang Lebaran banyak modus ini. Berkelompok di tengah jalan dan persimpangan lampu merah. Seperti yang lalu-lalu,” katanya.

Pengemis musiman ini kata dia, tidak terjadi di Kota Pontianak saja. Melainkan sama dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Namun penangannya tergantung dari kepala daerahnya masing-masing. Tegas atau tidak.

“Alhamdulillah Pemerintah Kota Pontianak memang ada operasi untuk menertibkan para pengemis ini dan mereka dipulangkan ke daerahnya masing-masing,” tuturnya.

 

Memberi uang kepada pengemis yang sebenarnya masih mampu bekerja merupakan pelajaran buruk. Karena membiasakan dan mendukung mereka malas bekerja. “Itu akan mendidik mereka pada perilaku yang begitu terus-menerus,” imbuh Jalaluddin.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Pontianak Aswin Djafar memprediksi Ramadan ini Bumi Khatulistiwa kembali akan dipenuhi pengemis. Jumlahnya diperkirakan meningkat. “Biasanya mereka ada di simpang jalan dan di sekitaran masjid,” jelasnya.

Pengemis musiman ini datang dari luar Kota Pontianak. Walau juga ada dari Kota Pontianak. Pihaknya sudah melakukan pendataan dan memberikan bantuan pada pengemis asal Kota Pontianak. Tujuannya agar mereka tidak lagi menjadi pengemis.

“Untuk orang-orang yang belum beruntung atau kurang mampu itu, Pemkot melalui Dinsos sudah melakukan pembinaan dengan mendata pengemis, terutama yang di masjid-masjid itu sudah kami data,” pungkasnya.

Mereka yang terdata, ditingkatkan kesejahteraannya, sehingga tak meminta-minta lagi. Namun selama ini yang terjaring mengemis bukan warga Kota Pontianak, sehingga Pemkot tak bisa memberikan bantuan. Namun dipulangkan ke daerah asalnya.

“Saat ini warga Pontianak yang dulunya pernah meminta-minta tercatat ada 47 orang dan itu sudah diberikan bantuan setiap bulannya 15 Kg beras,” tukasnya.

Sementara itu, Pjs Wali Kota Pontianak Mahmudah menuturkan, pengemis musiman tidak hanya terjadi saat Ramadan hingga Idul Fitri. Bulan-bulan biasa pun kerap ditemukan, sehingga diamankan Satpol PP Kota Pontianak. Hanya saja memang, momen Ramadan dan Idul Fitri keberadaan pengemis lebih meningkat.

“Sudah beberapa kali pengemis dari luar Kota Pontianak dikembalikan Dinas Sosial, namun momentum Ramadan setiap tahunnya juga membuat para pengemis musiman datang di Pontianak,” tuturnya.

Diakui Mahmudah, memang sulit mengawasi secara umum. Tetapi melalui patroli rutin petugas langsung mengamankan jika menemukan pengemis. Pihaknya juga berharap, masyarakat dapat memberikan laporan tentang keberadaan pengemis di Kota Pontianak.

“Untuk menertibkan para pengemis ini, razia dilakukan Satpol PP. Karena memang Pontianak tidak boleh ada pengemis,” tegasnya.

Pemkot sudah banyak mengamankan dan memulangkan pengemis ke daerah asalnya. Sedangkan pengemis asal Kota Pontianak, diberikan pembinaan. Jika anak-anak yang meminta-minta, orangtuanya dipanggil. “Jiwa warga Pontianak, kita bikinkan surat pernyataan agar mereka tak mengulanginya,” lugasnya.

Setelah itu ternyata anaknya masih mengemis, maka orangtuanya akan ditindak. Sebab orangtuanya telah membiarkan anak-anaknya menjadi peminta-minta.

“Nah, jadi anak-anak itu tidak dilepaskan sebelum diambil orangtuanya. Jadi Satpol PP setiap hari melakukan patrol, semua sudah ada SOP-nya,” tutup Mahmudah.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Pontianak Nur Fadhli meminta agar permasalahan pengemis musiman ini dengan melakukan pengawasan terhadap penampungannya. “Katakanlah mereka didatangkan dari luar ke Pontianak, tentu ada yang membawa. Tidak mungkin mereka datang sendiri,” ucapnya.

Mulai dari kedatangan hingga penentuan titik operasi pengemis ini tentu ada koordinatornya. Penampung dan koordinator pengemis ini lah yang harus menjadi perhatian Pemkot Pontianak untuk dikejar bersama kepolisian.

“Dulu pernah ada katanya mengamankan penampung, tapi kenapa sekarang ada lagi yang musiman ini. Apakah ini masih tetap pemain lama, atau ada pemain baru atau bahkan memang banyak pemainnya,” cetus poltisi PDI Perjuangan ini.

Salah satu upaya mengurangi pengemis musiman yang berdatangan dari luar kota Pontianak dengan memutus mata rantainya. Tempatkan petugas untuk memantau siapa yang antar-jemput itu ikuti dan di mana lokasinya. “Nah, ketika sudah pasti baru lakukan pengamanan,” ucapnya.

Persoalannya kata dia, mau atau tidak memotong mata rantai pengemis tersebut. “Kalau sudah dalangnya diamankan dan dibina, saya pikir ini persoalan selesai,” tutupnya.

 

Laporan: Gusnadi

Editor: Arman Hairiadi