SBY Siap Merapat ke Jokowi

Apabila Sejumlah Syarat Bisa Terpenuhi

39
BUKA RAPIMNAS. Presiden Jokowi bersama Ketum Partai Demokrat, di dampingi Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan dan Ketua Kosgama Demokrat AHY dalam acara Rapimnas Partai Demokrat di SICC, Sabtu (10/3). Galuh/Radar Bogor
BUKA RAPIMNAS. Presiden Jokowi bersama Ketum Partai Demokrat, di dampingi Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan dan Ketua Kosgama Demokrat AHY dalam acara Rapimnas Partai Demokrat di SICC, Sabtu (10/3). Galuh/Radar Bogor

eQuator.co.idBOGOR-RK. Langkah politik Partai Demokrat menuju Pemilu Presiden 2019 secara gamblang disampaikan Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat berpidato membuka rapat pimpinan nasional (Rapimnas) Partai Demokrat, SBY membuka peluang untuk bergabung mendukung pencalonan kembali Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurut SBY, faktor merosotnya elektabilitas Partai Demokrat pada Pemilu 2014 disebabkan dua hal. Pertama, adanya kader yang terseret korupsi. Kedua, keputusan untuk tidak mengajukan calon dalam Pilpres. Dengan dasar itu, SBY menyatakan kesiapan Partai Demokrat untuk bergabung bersama Jokowi pada Pemilu 2019 nanti.

“Jika Allah SWT mengizinkan, Insya Allah Partai Demokrat akan senang berjuang bersama Bapak. Apapun namanya, apakah koalisi atau aliansi, apabila kerangka kebersamaannya tepat,” ujar SBY di Sentul International Convention Center, Bogor, Sabtu (10/3).

SBY mengisyaratkan kesiapan bergabungnya Partai Demokrat apabila sejumlah syarat bisa terpenuhi. Selain kerangka kebersamaan, Partai Demokrat juga ingin terlibat dalam penyusunan visi Indonesia 2019-2024. Selain itu, sebuah koalisi akan berhasil, solid, dan kuat jika dilandasi saling percaya. “Mutual respect dan mutual trust. Koalisi adalah masalah hati. Partai Demokrat siap membangun koalisi seperti ini,” kata SBY.

SBY juga meminta restu kepada Presiden Jokowi agar Partai Demokrat bisa sukses dalam Pemilu 2019 nanti. Namun, Partai Demokrat juga tidak ingin mengumbar banyak janji, sebelum tercapai kesepakatan terkait koalisi. “Insya Allah jika masuk pemerintahan, hal-hal yang baik di pemerintahan yang dulu akan diperjuangkan. Sudah tentu, hal-hal yang baik di pemerintahan Pak Jokowi patut dipertahankan dan ditingkatkan,” ujar Presiden RI ke-6 itu.

Tak lupa, SBY juga mendoakan kepada Jokowi untuk bisa menuntaskan masa kerja dengan hasil dan capaian yang sebaik mungkin. SBY menyebut tantangan Jokowi saat ini adalah bagaimana mengelola ekonomi global. Sebab, rakyat sungguh berharap bahwa perekonomian di tahun mendatang bisa tumbuh makin tinggi. Apa yang dialami Jokowi, kata SBY, juga dialaminya menjelang Pemilu Presiden 2009.

“Harga minyak meroket di tahun 2008, berminggu-minggu kami tidak tidur bagaimana agar ekonomi tidak jatuh seperti 1998. Alhamdulillah, Allah menolong, harga minyak menurun dan Indonesia bisa selamat,” ujar SBY.

Sementara itu, Jokowi dalam sambutannya memuji sosok SBY dan Ketua Komando Satgas Bersama (Kogasma) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Jokowi menilai keduanya dikenal sebagai sosok yang rapi dalam berbusana. Karena itu, dirinya berusaha mengimbangi penampilan keduanya.

“Saya selalu kalah rapi sama Pak SBY. Sama Mas AHY apalagi, tambah susah. Sudah ganteng, pinter, rapi, dan cling. Jadi kalau diundang Partai Demokrat harus betul-betul rapi,” kata Jokowi disambut tawa peserta Rapimnas.

Jokowi juga sempat menyinggung sebuah postingan Twitter bahwa dia disebut otoriter. Menurut Jokowi, dirinya sama sekali tidak memiliki ciri-ciri otoriter. “Lha saya yang selalu senyum ini kok dibilang otoriter, saya ini seorang demokrat,” seru Jokowi.

Menurut Jokowi, ciri-ciri seorang demokrat adalah pendengar yang baik, yang menghargai pendapat orang lain dan menghargai perbedaan-perbedaan tanpa menjadikan sebagai sumber permusuhan. “Kurang lebih saya memenuhilah kriteria-kriteria itu. Artinya, saya dan Pak SBY ini sebenarnya beda-beda tipis banget. Kalau saya seorang demokrat, kalau Pak SBY tambah satu, Ketua Partai Demokrat. Jadi bedanya tipis,” kata Jokowi disambut kembali tawa peserta.

Jokowi tidak menjawab secara langsung pernyataan SBY di pidato sebelumnya. Namun, pada intinya Jokowi sependapat dengan SBY bahwa politik harus dibangun melalui etika.

“Ada dua hal yang perlu saya tekankan, kita harus bangun etika berpolitik, tata krama dalam berpolitik. Kedua, kita harus membuat demokrasi dirasakan oleh rakyat, demokrasi yang memakmurkan rakyat,” ujar Jokowi.

Sebelum secara simbolis memukul gong untuk membuka Rapimnas, Jokowi yang berdiri di panggung sempat menunggu SBY, AHY, di dampingi Sekjen Hinca Panjaitan yang akan mendampingi prosesi itu. Awalnya, Jokowi berdiri di sebelah kiri gong. Sedangkan SBY, AHY, dan Hinca berada di sebelah kanan untuk menyaksikan prosesi.

Saat akan membunyikan gong, Jokowi menyampaikan isyarat tangan, meminta AHY untuk berdiri di sampingnya lebih dulu. Barulah saat itu Jokowi membunyikan gong lima kali, tanda dibukanya Rapimnas Partai Demokrat. (Jawa Pos/JPG)