Sasar Nasabah Usia Produktif

Bonus Demografi Jadi Peluang Perbankan

8
BALON TERBANG. Pelepasan balon terbang sebagai tanda dilauchingnya 10 unit mobil SimPel Bank Kalbar di halaman kantor Bank Kalbar, Selasa (2/10). Nova Sari-RK

eQuator.co.idPONTIANAK-RK. Bonus demografi yang dihadapi Indonesia dapat menjadi peluang perbankan dalam meningkatkan produk layanan keuangannya. Yaitu dengan menyasar usia produktif.

Gubernur Kalbar Sutarmidji mengatakan, hingga tahun 2023 Kalbar memperoleh bonus demografi. Karena lebih banyak penduduk berusia produktif. Apabila dalam perkembangannya banyak yang melakukan usaha, tentu akan lebih besar dana berputar.

“Di masa ini, apabila mereka yang di usia produktif melakukan usaha yang bagus, akan banyak dana di sana. Artinya, kalau di tabung akan menjadi pembiayaan dalam pembangunan. Tapi kalau diekspansi akan cepat pertumbuhan ekonomi,” terangnya saat lauching 10 unit mobil SimPel Bank Kalbar di halaman kantor Bank Kalbar, Selasa (2/10).

Makanya pria yang karib disapa Midji ini menyambut baik kehadiran mobil Simpanan Pelajar (SimPel) Bank Kalbar. Apalagi Kalbar merupakan bagian dari bonus demografi. Sehingga dalam programnya diharapkan masyarakat di usia produktif ini sudah dapat memanage keuangannya.

“Artinya bagaimana mereka harus saving untuk pengembangan usaha, dapat menjaga apabila suatu saat mengalami masalah. Artinya dengan produk yang dimiliki BPD ini lebih banyak edukasi, selain dari mengumpulkan dana pembiayaan pembangunan,” terangnya.

Namun Midji meminta agar Bank Kalbar ketika memperoleh dana dari nasabah tidak menyimpan di sertifikat di Bank Indonesia. Tapi

lebih ke ekspansi kepada pembiayaan yang produktif atau kredit produktif. “Jangan kredit konsumtif. Kan sudah ada persyaratannya berapa persen,” sebutnya.

Pada Juli 2019, Pemprov Kalbar memprogramkan pendidikan gratis. Namun dengan pola berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh siswa selama mengenyam pendidikan.

“Misal sekolah diwajibkan siswa membayar satu bulan Rp100 ribu per bulannya, Nanti saya akan berikan Rp1,2 juta kalau setahun, kurang lebih Rp140 miliar dananya. Ini akan kita pakai dalam bentuk transfer tabungan masing-masing atau dari sekolah ke kas daerah ke sekolah, kita masih kaji Polanya,” paparnya.

Namun kalau dari sisi edukasi bagi pelajar terhadap perbankan, tentu biaya sekolah siswa dapat berikan dalam bentuk tabungan atau beasiswa. Sehingga pertanggungjawabannya lebih mudah tidak terlalu rumit.

“Kita hanya Pastikan pelajar itu menerima dan itu lebih mudah, dan kalau keuangan kuat menunjang perbankan, mungkin kita bisa transfer persmester dana pendidikannya,” jelasnya.

Kemudian cara lainnya, yang dapat dilakukan perbankan dalam menarik nasabah untuk menyimpan dananya diperbankan. Tentu berbagai hadiah menarik dapat dilakukan untuk ‘mencuri’ perhatian.

“Seperti di era milenial ini, bank bisa memberikan hadiah yang menarik sesuai dengan zamannya. Kalau targetnya anak muda, tentu yang berbau-bau anak muda. Misalnya BPD memberikan hadiah mobil fortuner, ini bisa diganti dengan mobil Mini Cooper, atau PW sehingga menjadi lebih menarik bagi mereka, bonus demografi ini kita harus cari kelompok milenial untuk jadi nasabah,” demikian Midji. (nov)