Santri Webinar

Oleh: Joko Intarto

SEMINAR ONLINE. Para santri dan guru Pesantren Darul Mursyid, Desa Sidapdap Simanosor, Saipar Dolok Hole, Sigordang Dolok, Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, mengikuti seminar online dengan teknologi webinar besutan jagaters.id di aula pesantren. Joko Intarto-RK

eQuator.co.id – Salat Isya baru saja usai. Jarum jam menunjukkan pukul 20:00.

Tak seperti biasanya, warga Pesantren Darul Mursyid tidak langsung beristirahat. Dalam terpaan dingin pegunungan Saipar Dolok Hole yang menusuk tulang itu, mereka menyelenggarakan seminar online.

Ratusan santri dan guru Pesantren berkumpul di aula. Jafar Sihabuddin Ritonga, Ketua Yayasan mengikuti dari wisma pesantren. Puluhan guru menyimak dari studio multimedia, meeting room dan coffee shop milik Pesantren.

Di wilayah lain, ada beberapa orang yang juga terlibat dalam acara itu. Lily Huang dan Hendra So dari yayasan Indonesia Tionghoa Culture Center menjadi narasumber dari Surabaya. Begitu pun tiga calon mahasiswa yang sedang persiapan berangkat kuliah ke Tiongkok.

Selain itu ada pula yang berada di luar negeri. Risma Wati, misalnya. Mahasiswa kedokteran asal Kalimantan itu berada di kampusnya di kota Hubei, Tiongkok. Sementara Eddy Susanto, staf KJRi di Belanda berada di Den Haag. Hanya Dahlan Iskan yang tidak bisa bergabung. Ia masih dalam perjalanan ke Amerika Serikat.

Mempertemukan banyak orang berbeda lokasi dalam satu forum secara online, itulah webinar. Jumat malam itu menjadi istimewa karena pesantren baru bisa melakukan untuk kali pertama.

“Lokasi kami ini jauh dari kota. Sepuluh jam dari kota Medan. Hampir di perbatasan dengan Sumatera Barat dan Riau. Karena itu kami melengkapi fasilitas webinar,” kata Jafar.

Kehadiran fasilitas webinar benar-benar menjadi pembuka wawasan seluruh warga pesantren.  Para guru dan santri sekarang bersemangat  untuk menghadirkan guru-guru dari mana pun untuk mengajar di pesantren secara online.

Fasilitas baru yang diadakan pesantren untuk membangun studio webinar sebenarnya hanya kamera. Itu pun kamera PTZ kelas sederhana. New entry level.

Mengapa bisa? Karena pesantren telah memiliki fasilitas lain: ruangan multimedia. Ruangan itu digunakan pada santri untuk belajar ilmu komputer. Dengan tambahan kamera, jadilah ruangan multimedia itu menjadi studio webinar.

Begitu pun di meeting room dan cafe. Sudah ada komputer dan televisi layar besar di sana. Dengan tambahan webcam. Jadilah smart meeting room. Bisa digunakan untuk rapat dan belajar maupun mengajar jarak jauh.

Hari Kamis, studio webinar, meeting room dan cafe difungsikan kali pertama untuk webinar dengan  menggelar diskusi peluang beasiswa ke luar negeri.

Pesertanya 20 guru dan karyawan pesantren. Pembicaranya Firtra Ratory dan Aufar perwakilan Universitas Turki di Jakarta. Keduanya mewakili Birru Marmara.

Keberhasilannya pada ujicoba hari Kamis itu yang membuat pihak pesantren ingin meresmikan dalam forum yang besar. Tema webinar malam itu adalah “Beasiswa ke Negeri China”.  Pembicaranya  dipilih yang berada dari dalam dan luar negeri.

Tak ada yang jauh. Sekarang. Webinar mendekatkan jarak dan waktu. Di mana pun narasumber dan peserta berada, tidak menjadi masalah. Yang penting: ada internetnya.

Selamat kepada Pesantren Darul Mursyid. Saya bangga bisa membantu mewujudkannya. (jto)

 

*Praktisi Webinar, Redaktur Tamu Rakyat Kalbar