Rusman: Saprahan, Tradisi yang Indah

25
Tolak Bala. Bupati Kubu Raya, Rusman Ali, menghadiri acara tradisi budaya tolak bala di Sungai Pulau, Desa Teluk Pakedai, Sabtu (5/5). Humas for Rakyat Kalbar
Tolak Bala. Bupati Kubu Raya, Rusman Ali, menghadiri acara tradisi budaya tolak bala di Sungai Pulau, Desa Teluk Pakedai, Sabtu (5/5). Humas for Rakyat Kalbar

eQuator.co.id – Kubu Raya-RK. Tolak bala merupakan tradisi kebudayaan masyarakat. Yang dimaknai sebagai kegiatan ibadah.

“Jadi ini merupakan kegiatan tradisi, adat serta kebudayaan yang sangat bagus dan harus kita lestarikan. Namun dalam tolak bala yang paling utama yang harus kita lakukan adalah doa dan ibadah kepada Allah SWT. Sebab pertolongan kita hanya kepada Allah,” ucap Bupati Kubu Raya, Rusman Ali, usai menghadiri acara tolak bala di Sungai Pulau, Desa Teluk Pakedai Satu, Kecamatan Teluk Pakedai, Sabtu (5/5).

Sebagaimana tradisi serta adat istiadat yang ada di masyarakat setempat, bupati menjelaskan, tolak bala juga diisi dengan acara makan saprahan bersama. “Makan bersama-sama saprahan di sepanjang jalan serta jembatan di Sungai Pulau. Sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas rezeki, iman dan kehidupan yang diberikan kepada manusia,” ulasnya.

Dalam kesempatan itu, ia berharap tradisi saprahan juga harus dijaga serta dilestarikan. Sebab dalam makan saprahan banyak nilai-nilai kehidupan yang didapat.

“Dalam makan saprahan bersama banyak nilai-nilai kehidupan yang kita dapatkan. Kita bisa saling berbagi serta duduk sama rata seluruh komponen masyarakat,” tuturnya.

Tidak ada perbedaan kasta-kasta masyarakat, Rusman menegaskan, semua sama sesama saudara. “Bertukar makanan yang dibawa dari rumah masing-masing. Ini adalah tradisi yang sangat indah. Persaudaraan, kekompakan dan keharmonisan yang sangat indah,” paparnya.

Tak hanya itu, ia sangat mengapresiasi kegiatan maayarakat di Sungai Pulau. Dalam kegiatan tolak bala di Sungai Pulau juga diisi dengan lomba sampan bidar. Yang menarik kegiatan tersebut tidak hanya diikuti oleh kelompok pria, melainkan juga kelompok perempuan.

“Kita sangat mendukung kegiatan ini agar terus dikembangkan dan dilestarikan. Jika biasanya sampan untuk transportasi masyarakat menuju kebun dan ladang. Kali ini dilombakan, sehingga menjadi sebuah hiburan bagi masyarakat,” terang Rusman.

Apalagi dalam kegiatan seperti ini perekonomian masyarakat juga berputar. Sebab banyak ibu-ibu berjualan makanan dan minuman serta berjualan berbagai barang kebutuhan warga selama kegiatan berlangsung.

“Yang paling penting adalah bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban. Menang kalah adalah hal yang lumrah. Yang terpenting adalah agar tetap saling hormat menghormati serta saling menghargai satu sama lain,” pinta dia.

 

Laporan: Syamsul Arifin

Editor: Andry Soe