Rupiah Loyo, Money Changer Sepi Transaksi

Dijual Rp15.350 dan Dibeli Rp15.150 per USD

16
TUKAR UANG. Seorang warga melakukan penukaran mata uang di Money Changer Gemilang, Jalan Diponegoro, Pontianak, Selasa (9/10). Nova Sari-RK

eQuator.co.idPONTIANAK-RK. Melemahnya nilai rupiah terhadap dollar AS berdampak pada penurunan daya beli di Money Changer. Dalam dua bulan terakhir, sangat berpengaruh pada penukaran dolar AS.

Di Money Changer Gemilang yang berada di Jalan Diponegoro, Pontianak ini, melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS mengakibatkan penukaran mata uang jadi sepi. Kendati dolar AS sudah dua bulan belakangan menguat, tapi sangat terasa pada Oktober ini. “Tak hanya mata uang dolar AS, kenaikan kurs ini juga dialami mata uang asing lainnya,” ujar Nita, staf Money Changer Gemilang saat ditemui Rakyat Kalbar, Selasa (9/10).

Nita mengatakan, dolar AS terus mengalami kenaikan yang sangat siginifikan. Mengakibatkan pangsa pasar penukaran mata uang jadi rendah.

“Biasanya selain karena kebutuhan, orang membeli dolar AS untuk disimpan. Nanti ketika naik, dijual lagi. Sekarang karena dolar AS mahal, orang jadi tidak mau beli dan simpan, alhasil sepi,” tuturnya.

Dijelaskannya, dolar AS kemarin dijual Rp15.350 dan beli Rp15.150. Sedangkan kurs dolar Singapura, harga beli Rp10.980 dan jual Rp11.050. Kemudian beli poundsterling Rp2.600 dan jual Rp20.100. Lalu ringgit dijual Rp3.685 dan beli Rp3.660.

“Mata uang ini juga terjadi kenaikan yang cukup tinggi. Selain penukaran dolar AS, ringgit juga mata uang yang laris ditukar di Money Changer kami,” tutup Nita.

Ainka, salah seorang warga yang kerap membeli mata uang asing. Perempuan 29 tahun ini membeli mata uang asing untuk dijual kembali. “Saya biasa beli mata uang asing, salah satunya dolar. Ketika harga turun, saya beli. Naik sedikit saya jual. Begitu seterusnya,” katanya kepada Rakyat Kalbar.

Namun dalam tiga bulan terakhir ini Ainka tidak menyimpan mata uang asing. Mengingat dolar AS terus mengalami penguatan.

“Uang yang ada sudah ditukarkan, sementara kalau beli lagi mahal. Jadi kita stop dulu, masih menunggu harga stabil baru mulai menyimpan lagi, kita berharap pelemahan rupiah ini tidak berangsur lama,” demikian Ainka.

Sebelumnya, Kepala Bank Indonesia Kalbar, Prijono mengatakan, setiap situasi dan kondisi melemah maupun menguatnya rupiah selalu ada peluang. “Penguatan dolar AS saat ini tidak hanya terjadi pada rupiah, namun mata uang negara-negara lainnya,” ujarnya kepada Rakyat Kalbar belum lama ini.

Menurutnya, menguatnya dolar AS harus terus diupayakan substitusi impor. Karena dengan situasi ini sebetulnya ekspor Indonesia bisa lebih tinggi lagi. Terutama bagi industri yang tidak memiliki atau rendah konten impor.

“Namun memang untuk industri yang memiliki konten impor tinggi, apalagi bila produk dijual domestik juga diperlukan strategi,” jelasnya.

Dengan beragam potensi yang dimiliki, Kalbar tentu harus mendorong ekspor. Diantaranya ekspor komoditi sumber daya alam.

“Baik hasil pertanian dan perkebunan mungkin dapat kita dorong untuk menjadi komoditi ekspor. Karena bisa memiliki nilai tambah yang tinggi dan kompetitif,” pungkas Prijono.

MINTA JANGAN PANIK

Nilai tukar tupiah memang masih terus bergejolak, bahkan makin melemah. Merujuk data Bloomberg, pada penutupan perdagangan kemarin (9/10) rupiah berada di level Rp 15.237,5 per dolar AS. Kurs tersebut terdepresiasi 0,13 persen (20 poin) dari perdagangan sebelumnya Rp 15.217,5 per dolar AS. Kondisi rupiah yang belum juga stabil menjadi perhatian Wapres Jusuf Kalla (JK).

“Itu ada masalah dari luar. Ada juga masalah dari dalam. Jadi dua duanya,” ujar JK di kantor Wakil Presiden kemarin.

JK menuturkan, untuk masalah dari luar negeri, Indonesia tidak bisa berbuat banyak. Sedangkan untuk masalah dalam negeri, pemerintah akan menyeimbangkan ekspor dan impor.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) tentu akan mengintervensi sesuai kemampuan mereka. Tapi, bila sudah tidak memungkinkan lagi, pemerintah akan lebih banyak menghemat atau mengurangi impor.

“Harus ada yang berkorban,” tegasnya.

Presdir PT BCA Tbk Jahja Setiaatmadja mengungkapkan bahwa para bankir sudah mengantisipasi pelemahan nilai tukar rupiah yang kini sudah mencapai level psikologis baru di kisaran Rp 15 ribu. Dia menuturkan, industri perbankan tanah air sudah banyak belajar dari krisis moneter pada 1998 silam.

“Jadi kita juga mengelola dolar AS lebih baik. Tidak ada yang spekulasi, tidak ada pinjaman yang terlalu banyak dalam dolar,”ungkapnya kemarin.

Jahja melanjutkan, tak hanya rupiah yang terdepresiasi terhadap dolar AS. Mata uang negara-negara lainnya juga mengalami hal serupa. Salah satunya adalah mata uang Jepang, yen.

“Jadi saya kira sepanjang kepanikan berlebih tidak terjadi, maka bisa terkendali,” lanjutnya. Jahja mengakui bahwa pelemahan rupiah memiliki dampak signifikan pada sektor riil. Sebab, bahan-bahan baku dari produk industri di sektor ini masih impor.

Karena itu, pihaknya menilai harus ada balance antara kurs, suku bunga, dan inflasi. Rupiah telah melemah 12,49 persen sejak awal tahun. Melemahnya nilai tukar sebagian besar dipengaruhi defisit transaksi berjalan yang pada kuartal II lalu mencapai USD 8 miliar. Angka tersebut setara 3 persen dari produk domestic bruto (PDB).

“Inilah hebatnya super dolar. Dalam kondisi negaranya maju, semua memilih dolar,” sahut Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo kemarin.

Mata uang negara-negara maju memang bak primadona saat ini. Uang dari negara-negara berkembang kembali ke negara-negara maju dan ditempatkan di aset safe haven, seperti dolar AS. Akibatnya, likuditas mata uang negara-negara maju terutama dolar AS mengetat. Hal itu menyebabkan mata uang di negara berkembang termasuk Indonesia melemah.

Menurut Dody, masalah supply and demand ini sudah sudah cukup tertahan dengan adanya capital inflow. Terutama, inflow di pasar surat berharga negara (SBN) dan sedikit inflow di pasar saham.

“Ada tekanan yang kita rasakan, tapi ini bukan rupiah melemah. Tetapi super dolar ini berpengaruh terhadap hampir semua mata uang, terutama di negara-negara berkembang,” ucap Dody.

 

Laporan: Nova Sari, JPG

Editor: Arman Hairiadi