
eQuator.co.id – Ramadan. Bulan puasa. Salah satu bulan yang sangat dirindukan umat Islam.
Bulan penuh rahmat. Menawarkan pahala yang melimpah bagi individu yang menjalankan ibadah wajib dan sunnah.
Selain itu, pada bulan ini berbagai peristiwa-peristiwa penting bagi sejarah umat Islam terjadi. Salah satu peristiwa tersebut adalah turunnya wahyu pertama Alquran. Atau dikenal dengan peristiwa Nuzul Alquran, yang juga menandai dimulainya periode ke-Nabi-an.
Peristiwa tersebut merupakan salah satu peristiwa paling penting. Dalam perjalanan sejarah umat Islam sampai sekarang.
Dari segi bahasa, kata Ramadan memiliki banyak makna. Ramadan berarti “membakar”. Adalah kata Arab yang berasal dari kata dasar “Ramda”, berakar kata ra (ر), mim (م), dan dhadh (ﺿ).
Secara bahasa, Ramadan artinya “panas”, “menyengat”, “membakar”, atau “kekeringan”. ” Ramad ” semakin panas karena panas yang terus menerus dan tanah yang menjadi semakin panas sedemikian rupa disebut “Ramda”.
Jadi Ramadan artinya “membakar”, untuk membakar karena berjalan telanjang kaki di tanah yang hangus. Alasan mengapa bulan suci ini disebut Ramadan adalah karena ia membakar dosa.
Pada bulan Ramadhan, seorang muslim yang berpuasa menahan panas karena kelaparan dan haus. Dan panasnya puasa membakar dosa-dosa, (Elmalılı Hamdi Yazir).
Kata Ramadan juga memiliki makna lain yang sifatnya berlawanan dari makna pertama. Karena Ramadan juga berarti “hujan”. Yang berasal dari kata dasar “Ramadiyu”.
Hujan yang terlihat pada akhir musim panas, pada awal musim gugur dan membersihkan bumi dari debu. Seperti hujan yang mencuci permukaan bumi, bulan Ramadan mensucikan orang beriman dari dosa dan membersihkan hati mereka, (Elmalılı Hamdi Yazir).
Dari dua makna di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa di bulan Ramadan, umat Islam yang menjalankan ibadah, baik yang sifatnya wajib seperti berpuasa menahan lapar dan haus, termasuk menahan hawa nafsu jasmani, menahan pandangan mata, telinga, dan mulut, dari melihat, mendengar, dan merasa sesuatu yang kurang baik serta dilarang agama, sampai ibadah sunnah, seperti menjalankan salat tarawih dan bertadarus. Dengan satu tujuan, yakni mendapat pahala dan menghapus dosa.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat”.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “ Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi,” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151).
Di bulan puasa, umat Islam yang telah baligh diwajibkan dan dianjurkan melaksanakan ibadah-ibadah ritual yang efeknya tak hanya untuk manusia itu sendiri. Tapi juga baik untuk orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Seperti, manusia harus bisa menahan nafsu, amarah, tidak boleh menggunjing atau bergosip yang akan mengurangi pahala puasa.
Selain itu, di bulan puasa juga dianjurkan untuk banyak berbuat baik, bersedekah bagi yang memiliki limpahan rezeki, serta membayar zakat untuk dibagikan bagi fakir miskin. Yang efeknya adalah berkurangnya kesenjangan sosial.
Setiap manusia diharapkan bisa berubah menjadi orang yang lebih baik dibandingkan pada bulan-bulan sebelumnya. Atau dapat kita asumsikan, umat Islam yang menjalankan ibadah puasa diharapkan mampu merevolusi diri dan kehidupan ibadahnya agar lebih baik. Lebih bermanfaat bagi banyak orang dengan ganjaran pahala yang sebesar-besarnya.
Makna revolusi sendiri dari bebagai literatur kamus bahasa Indonesia adalah sebuah perubahan yang terjadi secara singkat atau dalam kurun waktu yang tidak lama pada bidang tertentu. Terjadi bisa dikarenakan faktor kesengajaan ataupun tidak disengaja sama sekali. Pada intinya adalah, adanya perubahan yang terjadi secara singkat.
Revolusi bisa terjadi pada banyak hal seperti pada kehidupan, budaya, maupun ekonomi, dan tentunya dalam setiap bidang memiliki makna berbeda. Dalam hal ini, pada bulan Ramadan, manusia dituntut untuk merevolusi kehidupan sosialnya agar menjadi orang baik yang beriman dan bertakwa menjauhi perbuatan yang kurang baik dan menjadi orang yang berperilaku baik.
Hal ini, di Indonesia, sangat didukung oleh suasana bulan yang penuh dengan banyaknya kegiatan positif yang mengajak orang berbuat baik baik di lingkungan pendidikan di tingkat sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah, sampai sekolah menengah atas/madrasah aliyah, sering diadakan pesantren kilat yang bertujuan mendidik semangat beribadah para siswa.
Di beberapa perguruan tinggi juga diadakan kegiatan ihya Ramadan. Bahkan kegiatan pengajian, tablig, buka puasa bersama, yang diiringi tausyiah sering juga diadakan berbagai instansi pemerintah dan swasta. Yang tujuannya meningkatkan amalan umat Islam agar berevolusi ketakwaaannya.
Media massa, baik online, cetak, sampai radio, dan televisi, juga penuh dengan acara-acara ceramah, film, dan acara religi yang diharapkan bisa merevolusi budaya sehari-sehari menjadi agak lebih Islami. Tentunya, revolusi perubahan seseorang agar menjadi beriman dan bertakwa tidak cukup hanya pada bulan Ramadan, tapi juga terus menerus ditingkatkan atau minimal dipertahankan ibadah kebaikannya di bulan-bulan berikutnya.
Karena ibadah puasa Ramadan diharapkan menjadi ajang pelatihan uji kompetensi ketakwaan umat agar mencapai kemenangan. Merevolusi diri menjadi orang yang beriman dan beramal saleh.
*Dosen IAIN Pontianak